Takdir Cinta

Takdir Cinta
27—Upaya Pendamaian


__ADS_3

...بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم...


..."Bertemu untuk berpisah, walau terasa sulit dan menyesakkan hati tapi aku harus mampu berpasrah diri, bahwa inilah suratan takdir yang sudah Sang Illahi beri." ...


...°°°...


Tak ada satu pun pasangan di dunia ini yang mengharapkan sebuah perpisahan, pun denganku. Tapi jika hanya aku saja yang berjuang, maka langkahku akan terpincang-pincang serta sulit menemukan titik terang. Mungkin memang benar bahwa perceraian menjadi opsi terbaik untuk rumah tangga kami.


Tak ada lagi yang bisa dipertahankan, walau dengan menyertakan anak yang kini tengah kukandung sebagai alasan. Semua akan sia-sia saja, takkan membuahkan hasil, nihil. Berlapang dadalah, Btari, kuatkan mental dan juga hati untuk menerima semua takdir yang sudah Allah gariskan ini.


"Ayah sudah katakan jangan ikut sidang," desisnya kala kami menunggu di dekat pintu ruang sidang. Aku tersenyum samar dan mengelus tangannya, berharap beliau bisa sedikit tenang.


"Gak papa, Yah," bisikku, tapi dengan pandangan mengarah pada Bagas yang kini didampingi dengan lawyer serta psikiaternya. Tak ada ibu di tengah-tengah mereka, dan aku merasa beliau tidak mengetahui akan hal ini.


Andaikan aku tak menyetujui pinta Bian, mungkin rumah tanggaku takkan pernah karam di pengadilan. Bahkan aku dan ibu sudah merasa lega dan menang kala pesawat yang Bian tumpangi terbang di atas sana. Tapi lagi-lagi aku harus sadar diri, selepas mengantar ibu pulang, Bagas datang dan menghadangku di jalan. Sumber dari segala akar permasalahan.


Entah tahu dari mana lelaki itu akan keberadaanku saat itu, tapi saat mengingat bagaimana dirinya, mencari tahu hal remeh seperti itu sangatlah mudah. Hanya sekali jentikan jari saja beragam informasi pasti akan langsung didapati. Bagas memang bukan orang sembarangan, ia stalker handal yang patut untuk diwaspadai.


"Apa kabar?" tanyaku seramah mungkin, hanya Bianca yang kusapa, sebab aku memiliki hubungan cukup baik dengannya. Walau hanya sebatas bertukar informasi terkait kesehatan Bagas saja.


Namun untuk sekadar menyapa Bagas, bibirku seketika kelu dan kehabisan kata-kata. Netranya yang menghunus tajam seperti pedang sangat membuatku resah tak keruan. Ia memang begitu dingin mengerikan.


Bianca mengangguk dan tersenyum lembut. "Seperti yang Ibu lihat," jawabnya terdengar sangat ramah dan lembut.


Tak ada lagi perbincangan di antara kami, tapi Fokusku seketika teralihkan kala melihat pakaian yang Bianca kenakan. Sebuah dress tiga perempat yang lumayan mencetak tubuh beserta rambut tergerai dan sepatu berhak tinggi. Sangat cantik serta berkelas.


Sangat berbeda jauh denganku. Memang seharusnya dari dulu aku tahu diri, bahwa di antaraku dan Bagas tak pernah memiliki kecocokan serta kesinambungan. Justru saling berlainan dan bertolak belakang.

__ADS_1


Tangan perempuan itu tak pernah lelah mengelus perutnya, seakan ada kehidupan di dalam sana. Tapi dengan segera aku pun menggeleng cepat, tidak. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Btari. Mungkin Bianca tengah datang bulan, atau bisa juga sakit perut.


Suara dari panitera sidang membuyarkan segala angan dan pikiran dangkalku, tapi lagi-lagi aku harus mengelus dada sabar kala dengan tanpa dosanya Bagas menggenggam tangan Bianca menuju ruang persidangan.


Allahuakbar, dadaku kian sakit dan menjerit kala melihat kedekatan di antara mereka. Sekalipun ia tak pernah berlaku lembut padaku, tapi pada wanita yang bukan mahramnya ia malah bertindak di luar batas wajar. Kuatkan hati dan juga batinku.


"Pulang yah, Nak," cetus ayah saat kakiku akan melangkah masuk. Aku menggeleng pelan lantas berujar, "Gak papa, Btari kuat, Ayah."


Tungkaiku terasa sangat berat untuk dilangkahkan, terlebih kala aku harus duduk bersisian dengan Bagas. Ya Allah, kenapa dadaku selalu berulah tak tahu diri kala berdekatan dengannya.


Hakim ketua membuka sidang, dengan pembacaan data diri penggugat, Bagas, dan aku sebagai tergugat. Tak lupa pengacara dari kedua belah pihak pun ikut serta melampirkan kartu identitas, yang menyatakan bahwa mereka benar-benar advokat yang sudah berizin.


Upaya pendamaian merupakan sidang pertama yang harus kami lalui, di mana para hakim yang terdiri dari ketua dan anggota mencoba untuk mencari jalan agar perpisahan tak kembali dilanjutkan. Tapi Bagas tetap pada pendiriannya, ia bersikukuh untuk berpisah.


Aku tak mampu berbuat banyak selain diam dan membiarkan pengacara ayah sebagai juru bicara. Bibirku terlalu kelu untuk bertutur kata, jika memang perceraian ini menjadi jalan takdir yang harus kujalani, tak apa. Ini yang terbaik untuk kami.


Begitu ringan sekali ia mengungkapkan tiga kata tersebut, bahkan seperti tak sudi untuk menatap ke arahku lagi, walau hanya sekadar lirikan saja.


"Apakah sodara tergugat ingin tetap mempertahankan rumah tangga ini?"


Aku melihat Bagas sejenak. "Ya, yang mulia. Saya masih berharap ada jalan damai di antara saya dan suami."


Segala upaya sudah hakim lakukan agar Bagas bisa mengubah keputusannya, tapi ia tetap tak ingin ambil pusing akan hal tersebut. Berpisah, itu adalah yang sangat amat ia inginkan.


Suara palu hakim yang diketuk menandakan sidang pertama ini telah usai. Dengan hasil yang begitu ngambang, Bagas berpegang teguh akan pendiriannya, dan aku pun melakukan yang serupa. Sidang kedua dengan agenda mediasi akan dilanjutkan satu minggu lagi.


"Mas," panggilku kala kami sudah sama-sama berada di luar. Ayah tengah berbincang sejenak dengan pengacaranya, di sini hanya tersisa kami bertiga, aku, Bagas, dan Bianca tentunya.

__ADS_1


Ia hanya melirikku sinis, seperti tak ada sedikit pun kemauan untuk menjawab walau hanya sekadar kata 'ya' saja. Bagas memang sudah benar-benar menunjukkan sisi enggannya kala berdekatan denganku. Dan kini dengan tanpa dosanya mereka malah berjalan santai meninggalkanku.


"Ada hubungan apa kamu dengan Bianca, Mas?!"


Seketika laju tungkai mereka pun terhenti, dan aku tak ingin membuang banyak waktu, dengan segera kuhampiri keduanya.


"Seperti yang kamu lihat dan ketahui, hanya sebatas hubungan psikiater dan pasiennya," jawab Bagas begitu tegas dan tenang.


Aku menggeleng tak percaya. Pasti ada main di antara mereka. "Bohong!"


Senyum miring tercetak jelas di sana. "Kalau ya kenapa?"


Dadaku seperti ditikam belati yang berhasil mengiris hati. Semudah itukah ia berpaling dan mencari sosok pengganti. Ya Allah, mengapa takdir cinta tak pernah berpihak padaku yang lemah ini.


"Setelah proses persidangan selesai saya akan menikahi Bianca." Setelah mengatakan hal tersebut ia langsung berlalu pergi, meninggalkanku yang kini sudah berkawan tangis.


Ya Allah, Ya Rabbi, kenapa dada ini terasa sangat sesak sekali. Dengan teganya ia memadu kasih dengan perempuan lain, parahnya kala palu hakim belum menyatakan proses perceraian telah usai.


Tangisku pecah tak terbendung, bahkan aku terisak dan menyandar pada dinding. Sakit, sangat teramat sakit dan menyesakkan. Ia memang begitu tega dan kejam. Sosok pria tak berperasaan.


"Btari, kenapa, Sayang?" Aku mendongak kala mendapati suara lembut ayah yang terdengar meneduhkan.


Kuhapus air mataku dengan cepat lantas tersenyum tipis agar ayah tak terlalu bawa beban perihal kegiatan menangisku.


"Pulang yuk, Yah."


Tanpa kata beliau mengangguk dan menggenggam tanganku dengan begitu erat, seakan ingin menguatkan bahwa aku tak sendiri, ada beliau yang menemani.

__ADS_1


__ADS_2