Takdir Cinta

Takdir Cinta
Pengorbanan Anisa


__ADS_3

Raka mengedarkan pandangan nya, tidak terlihat sosok Alina.


Dimana dia?


Sambil menggandeng tangan Nabila, Raka memeriksa setiap bagian kamar. Mulai dari kamar mandi sampai ruang ganti. Tapi Alina tidak ada.


Teras kamar!


Dengan sedikit tergesa-gesa Raka menuju teras kamar.


Benar saja, Alina berada di sana. Sedang duduk di kursi santai nya, memejamkan mata sambil mendengarkan musik dari earphone yang terpasang di telinga nya.


Raka dan Nabila menghampiri Alina.


"Alina..." Raka menyentuh bahu Alina membuat nya membuka mata nya yang sedikit sembab.


Melihat sosok Raka berdiri di hadapan nya sekarang, ingin sekali Alina meluapkan semua nya. Tapi, Alina tersadar di situ juga ada Nabila.


Sebisa mungkin dia menahan perasaan nya.


"Aunty... are you okay?"


"Yes, i'm okay."


"Nabila, sayang, sudah lihat kan aunty nya tidak apa-apa. Sekarang Nabila kembali ke kamar ya." Ucap Raka.


"Iya uncle."


"Aunty, Nabila ke kamar Nabila dulu ya. Aunty cepat sembuh ya."

__ADS_1


"Iya sayang. Terima kasih."


Nabila pun pergi dan sekarang tinggal mereka berdua.


"Kamu kenapa Alina? Tadi Nabila menelpon ku kata nya kamu sakit." Tanya Raka.


"Apa karena itu kamu langsung pulang?"


"Ya. Tentu saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu. Entah itu kamu sakit atau apa."


"Kenapa?" Tanya Alina tanpa memandang wajah Raka.


"Kenapa? Apa maksud kamu bertanya seperti itu? Ya karena kamu istri aku."


"Memang kamu peduli?"


"Alina, sebenarnya kamu ini kenapa? Ada apa? Cerita sama aku."


"Ya karena kita ini suami istri. Suami istri itu harus sama-sama saling terbuka. Saling berbagi apa pun itu."


Alina tertawa.


Raka semakin di buat bingung.


"Suami istri... Ya, suami istri. Saling terbuka... kamu minta aku untuk saling terbuka. Tapi kamu sendiri? Kamu menyembunyikan fakta yang begitu penting selama ini."


~*deggg


Apa ini? Apa maksud dari ucapan Alina ini? Apa dia sudah tahu semua nya? Tapi bagaimana bisa dia mengetahui nya. Tidak mungkin Anisa yang memberitahu nya*.

__ADS_1


"Kamu sudah membohongi ku selama ini. Kamu tidak pernah cerita tentang hubunganmu dengan Anisa. Kamu membuat ku benar-benar seperti wanita bodoh mas. Dan lebih parahnya lagi. kamu membuatku menjadi seorang kakak yang jahat."


"Alina, aku..."


"Sudahlah mas. Mau bilang apa? Mau menjelaskan apa? Percuma. Aku sudah mengetahui semua nya. Aku kecewa mas. Kenapa tidak sejak awal kamu tahu Anisa itu adik aku, kamu langsung menceritakan yang sebenarnya. Kamu malah membuatku menjadi seorang kakak yang kejam. Yang menyakiti hati adik nya sendiri. Aku memaksa Anisa tinggal disini, tanpa aku sadar, aku sedang menyiksa batin nya dengan setiap hari melihat laki-laki yang dia sayang yang sangat dia cinta, bersama kakak nya sendiri."


Kali ini Alina tidak bisa lagi menahan air mata nya. Dari setiap kata yang keluar dari mulut nya, ada sejuta rasa sakit yang menikam dada nya.


Sesak.


"Maafkan aku, Alina."


"Maaf mu sudah tidak ada guna nya lagi mas."


"Aku tahu aku salah dengan menyembunyikan semua ini. Tapi aku melakukan semua ini demi kamu dan Anisa."


"Demi aku? Demi Anisa? Tidak mas..."


"Dengarkan aku dulu." Raka memotong kata-kata Alina.


"Baiklah. Silahkan. Aku akan mendengarkan alasan mu." Ucap Alina mencoba mengendalikan emosi nya dengan berulang kali menarik nafas yang dalam.


"Semua ini permintaan Anisa."


"Anisa?"


"Ya. Begitu aku tahu kalau Anisa itu adik kamu, aku berniat untuk mengakhiri pernikahan kita, karena jujur saat itu perasaan ku masih sangat kuat terhadap Anisa. Tapi Anisa melarang ku. Dia sampai memohon agar aku tidak menceraikan kamu karena kamu mempunyai satu impian, yaitu menikah hanya sekali seumur hidup. Aku tidak tega melihat dia sedih kalau aku tidak menuruti permintaan nya. Maka dari itu, kita berdua sepakat untuk menutupi ini semua dari kamu."


Anisa... Sampai sejauh itu kamu korbankan perasaan mu hanya demi impian kakak yang ingin mempunyai rumah tangga yang bahagia sekali seumur hidup kakak? Maafkan kakak Anisa... Maafkan kakak.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2