Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab113. Meminta Bayaran


__ADS_3

“Lama sekali.” Kini gadis itu menghentikan permainan kecapinya.


Pemuda itu menggernyit heran menatap gadis kecil tersebut.


“Kau gadis yang menghilang setelah memberiku gulungan dan Cincin di pasar waktu itu?” tanya pemuda itu memastikan.


Gadis kecil tersebut mengangguk ringan untuk menjawab Ne Zha, “Benar, itu aku.”


Pemuda itu tak lain adalah Ne Zha, dia kini telah sampai di dekat Jurang Kejahatan, bisa dibilang pintu masuk Jurang Kejahatan.


Tidak pernah dia sangka sosok yang pernah menghantui pikirannya kini muncul dihadapannya sedang asik bermain kecapi.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Ne Zha penasaran, gadis itu masihlah sangat kecil. Juga tidak ada sedikitpun aura Kultivator dari dirinya. Berada si tempat seperti Jurang Kematian ini sungguh mengerikan.


“Meminta bayaran,” jawabnya tak kalah hemat dari Ne Zha.


“Bayaran?” Ne Zha menggernyit bingung tapi segera teringat bahwa gadis kecil dihadapannya ini meminta sebuah jasa untuk pembayaran Cincin dan gulungan yang pernah diberikannya pada Ne Zha.


“Baiklah, jasa apa yang kau inginkan?” ucap Ne Zha.


“Masuk kedalam Jurang Kejahatan, ada sesuatu yang harus kuambil disana,” balas gadis kecil tersebut.


Ne Zha sedikit bingung, jika gadis ini ingin masuk kedalam Jurang Kejahatan kenapa tidak dilakukan saja? Seingatnya perjalanan dari Kekaisaran Yang menuju Kekaisaran Ren sangat berbahaya jika melakukan perjalanan sendiri.


Untuk masuk kedalam hutan dan sampai disini saja sangat berbahaya karena terdapat Binatang Iblis tingkat 7, dalam pikiran Ne Zha sosok gadis ini adalah seorang Kultivator tersembunyi seperti Fu Daiyu namun lebih kuat sampai dia tidak bisa merasakan Qi dari tubuh gadis tersebut.


“Aku tidak sekuat itu, lihatlah mataku dengan baik,” kata gadis tersebut memotong pikiran Ne Zha yang tengah berkelana.


Gadis itu menatap mata Ne Zha, begitu pula Ne Zha menatap mata gadis tersebut.


Selang tiga napas kemudian Ne Zha sangat terkejut hingga lupa menarik udara untuk bernapas, mata gadis kecil itu!


“Mata Takdir!” seru Ne Zha terkejut.

__ADS_1


“Sebelumnya kau tidak bisa melihatnya karena aku menyembunyikannya. Panggil aku Qin, kita lakukan perjalanan sekarang.” Qin segera turun dari batu dan menggantungkan kecapi di punggungnya.


“Pantas saja!” batin Ne Zha masih terkejut.


Mata Takdir, salah satu Mata Dewa seperti Mata Ilusi, namun keunggulan Mata Takdir adalah bisa meramal masa depan.


Gadis kecil itu memang bukan Kultivator, namun karena Mata Takdir. Qin berhasil menghindari marabahaya dan sampai di tempat ini dengan selamat.


Langkah kaki kecil Qin tak berhenti membuat Ne Zha segera menyusul gadis kecil tersebut, Ne Zha tidak tahu apakah akan mudah atau sebaliknya membawa Qin menuju Jurang Kejahatan.


Mengingat di Jurang Kejahatan terdapat Binatang Iblis tingkat 8 sekuat Po Houzi, Ne Zha memikirkan cara untuk melindungi Qin. Sebelumnya dia memiliki cara untuk menghindari Binatang Iblis tingkat 8 jika bertemu. Jurus Kaki Seribu bisa dia andalkan jika hanya sendiri.


“Tenanglah, justru kau tidak akan kerepotan membawaku.” Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Ne Zha, Qin yang berjalan kini bersampingan dengan Ne Zha berkata seraya mengadahkan kepalanya menatap Ne Zha yang tinggi.


Memang jika dibandingkan, tinggi Qin hanyalah sebatas dada Ne Zha, jika gadis kecil itu ingin menatap wajah Ne Zha maka dia harus mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.


Jurang Kejahatan nyatanya tidak terlihat mengerikan seperti namanya, Jurang Kejahatan lebih terlihat seperti sebuah taman dalam belahan tanah yang besar.


Selang beberapa langkah tiba-tiba seluruh area pandang Ne Zha dan Qin muncul Gas berwarna hijau pekat.


“Gas beracun, kau bisa bertahan?” tanya Ne Zha saat hendak melangkah lebih jauh.


“Aku menunggumu karena Gas beracun ini,” jawab Qin.


“Walau aku memiliki Mata Takdir, tapi Gas beracun ini tidak memiliki celah sama sekali, kita hanya bisa melewatinya dengan menembus gas beracun ke sebrang sana, kedepannya biar aku yang memimpin,” lanjut Qin.


Ne Zha mengerti, Mata Takdir yang bisa melihat masa depan pasti menunjukan bahwa Qin akan mati jika menerobos masuk kesana, mungkin lain hal jika mendapatkan bantuan dari Ne Zha.


Tangan Ne Zha bergerak meyentuh dahi Qin, sebuah titik hijau menyala terang diantara alis gadis kecil tersebut.


“Aku kebal akan racun, selama titik itu menyala terang maka kau juga kebal racun,” jelas Ne Zha singkat.


“Aku tahu itu karena sudah melihat ini pada Mata Takdirku,” ucap Qin seraya mengangkat bahunya lalu melangkahkan kaki masuk kedalam kabut gas beracun.

__ADS_1


“Jika begitu aku tidak perlu menjelaskan apapun padanya mulai saat ini,” batin Ne Zha lalu mengejar langakah Qin yang masuk kedalam kabut gas beracun.


Jarak pandang didalam kabut beracun sungguh terbatas, Ne Zha hanya bisa memandang paling jauh sepuluh meter kedepan sebelum seluruhnya tertutup kabut.


Jika mendapatkan kepungan Binatang Iblis sungguh akan merepotkan bertarung dalam jarak pandang yang sangat pendek seperti ini.


Sialnya, setelah cukup jauh mereka melangkah Ne Zha bisa melihat ada lima Kalajengking berukuran sebesar sapi dewasa menghampiri mereka.


“Kalajengking Kulit Baja!” ujar Ne Zha terkejut.


Dia menatap kesal pada Qin, seharusnya dengan Mata Takdir mereka bisa saja menghindari Kalajengking Kulit Baja dan mengambil jalan lain.


Sebelum Ne Zha melancarkan protesnya Qin sudah mengangkat suara, “Jalan ini adalah yang terbaik, jika kita menempuh jalan lain banyak Binatang Iblis yang lebih kuat dari Kalajengking Kulit Baja. Belum lagi jumlah mereka sangat banyak.”


Ne Zha hanya menghela napas panjang sebelum maju menyerang empat Kalajengking Kulit Baja.


Pisau Jari Bayangan!


Tangan Ne Zha melepaskan serangan pada Kalajengking Kulit Baja, namun terlepas dari namanya memanglah Kalajengking ini memiliki kulit seperti baja.


Kelabang di Hutan Kegelapan bisa dipotong seperti tahu oleh jurus ini, tapi pada Kalajengking Kulit Baja itu hanya membuat luka goresan yang sangat dalam.


“Ssscrrreeeeesshhhhh!!!!” Keempat Kalajengking Kulit Baja memekik lalu menyerang Ne Zha dengan ekor mereka.


Dengan mudah Ne Zha menghindari keempat serangan tersebut, walaupun serangan keempatnya sangat cepat tapi untuk Ne Zha yang mengkhususkan diri dalam kecepatan itu hanyalah hal yang mudah.


Ne Zha menjatuhkan serangan demi serangan pada empat Kalajengking Kulit Baja, tak sampai beberapa menit keempat Kalajengking Kulit Baja menghembuskan napas terakhir mereka.


“Ayo lanjutkan.” Qin melangkahkan kakiknya dengan santai seolah memang kemenangan Ne Zha sudah dia ketahui.


Wajah Ne Zha tetap datar, dia mengambil langkah untuk mengejar Qin yang mulai menjauh dari jarak pandangnya.


Beberapa kali Ne Zha berhadapan dengan Kalajengking Kulit Baja, mau tidak mau dia harus mempercayai Qin karena memang Kalajengking Kulit Baja yang menyerang mereka tak pernah lebih dari lima ekor.

__ADS_1


__ADS_2