
"Hachu..."
"Hachim..."
"Uhuk... uhuk... uhuk..."
Susana dapur sungguh kacau, semua orang terbatuk atapun bersin karena semerbak dari makanan yang dibuat oleh Han Xiao, hanya pemuda itu dan Ne Zha lah yang biasa saja, tidak batuk atau bersin karena sudah terbiasa.
"Su Lihwa, kukus ini dalam tiga puluh menit, setelah itu bakar dengan api kecil seperti membakakr ikan, ingat api kecil," arah Han Xiao seraya memberikan sebuah adonan yang sudah terbungkus oleh daun kepada Su Lihwa.
"Baik... Hachim..." Su Lihwa mengambil nampan berisi makanan yang setengah jadi dari Han Xiao lalu mengikuti araha dari Han Xiao.
"Ini sudah jadi, namun akan sangat enak ketika memakannya saat sudah dingin, jika panas cita rasanya akan tidak terlalu keluar," ujar Han Xiao seraya memasukan makanan dari kuali pada tempat makanan yang besar.
"Apa nama makanan ini? Itu terdiri dari kerupuk, mie dan tulang?" Xia Shiva bertanya karena belum pernah melihat makanan seperti ini.
Han Xiao tersenyum lebar, "Ini disebut Seblak," jawab Han Xiao.
"Seblak?" para gadis mengerutkan dahi karena heran, mereka sangat asing dengan nama yang disebut oleh Han Xiao.
Pemuda itu hanya terseyum dan mengangguk ringan, "Bawa ini ke meja makan, kita akan menunggu hidangan satunyalagi matang lalu kita akan makan bersama," pinta Han Xiao pada Ruan Jian.
Gadis itu membawamakanan yang disebut Seblak oleh Han Xiao, sepanjang jalan, dia menahan diri untuk tidak melahap Seblak tersebut karena memiliki wangi yang sungguh mengugah selera.
Tiga puluh menit berakhir, Han Xiao dan Ne Zha mendatangi Su Lihwa yang kini tengah mengambil makanan-makanan dari kukusan. Mereka mmembantu Su Lihwa agar lebih cepat karena makanan tersebut sangatlah banyak.
"Akan lebih lama jika kita menunggunya dingin dan padat secara alami." Han Xiao segera memalingkan wajahnya untuk memandang Bing Xing.
"Kenapa melihatku?" tanya Bing Xing.
__ADS_1
"Bantu dinginkan ini. Ingat, hanya dinginkan, jangan membekukannya," ucap Han Xiao.
Bing Xing hanya bisa mengikuti kemauan Han Xiao, bagaimanapun dia menganggur akhir-akhir ini. Jadi tidak masalah jika membantu Han Xiao perihal masakannya ini.
Senyum Han Xiao semakin berkembang, melihat semua makanan yang terbungkus daun itu sudah didinginkan, segera Han Xiao mengambil satu dan membakarkannya pada api kompor yang kecil.
"Dibolak-balik seperti ini, akan lama jika kau membakarnya satu persatu seperti ini. Dengan Qi kau bisa mengendalikan seratus makanan ini dan membakarnya secara bersamaan," ucap Han Xiao memberi saran setelah memberi contoh pembakaran makanan tersebut pada Su Lihwa.
Wangi daun serta ikan dan beberapa rempah bahan dari makanan tersebut menguar ketika pembakaran, lagi-lagi hal ini membuat perut orang yang ada di dapur berbunyi.
"Bakar hanya sebentar, ini untuk mengeluarkan cita rasanya saja, jika terlalu lama maka akan aneh rasanya," tutur Han Xiao, pemuda itu mengambil makanan yang sudah dibakarnya lalu membuka daun yang menutupinya.
Ketika dibuka, wangi itu semakin kuat, "Makanan ini disebut Otak-Otak, sangat baik untuk menaikan daya ingat karena aku menggunakan daging Binatang Iblis tingkat 7. Dia berbentuk ikan, dan hanya ditemui pada dasar laut di Tanpa Batas," lanjut Han Xiao seraya menyuapkan makanan yang dia sebut Otak-Otak.
Anggota tim Yang Shui segera tercekik oleh penjelasan Han Xiao, daging Binatang Iblis tingkat 7? Astaga Han Xiao menukar poin untuk daging Binatang Iblis tingkat 7? Mereka mengetahui bahwa daging tersebut memiliki harga 2000 Poin, dengan kata lain. Harus melenyapkan satu tim Kekuatan besar barulah bisa mendapatkan daging tersebut.
***
"Kau!" Huo Yan ingin sekali memukuli Yin Cheng, tapi dia sadar dia tidak akan sanggup melakukannya.
Pada akhirnya, gadis itu hanya mengeratkan genggamannya sebelum mendengus kesal.
"Sudahlah, kita akhiri pertemuan ini, sebaiknya kita dengan cepat membereskan tim Penguasa Generasi barulah kita saling bertarung untuk poin," Linghun Jundao menutup pertemuan seraya melenggang pergi dari ruangan.
"Baiklah," sahut Yin Cheng lalu dia juga melenggang pergi.
Dengan kepergian dua orang terkuat dari Seratus Kebanggaan Surga, semua orang yang ada disini juga mulai membubarkan diri mereka, saat ini mereka ingin merekrut seluruh Seratus Kebanggaan Surga untuk bergabung dan melenyapkan tim Penguasa Generasi. Mereka yakin, dibawah serangan Seratus Kebanggaan Surga yang bersama, maka tim Penguasa Generasi tidak akan memiliki harapan dan akan musnah.
***
__ADS_1
"Benua Angin Selatan, aku dataaaang!" Gadis berjubah merah yang keberasan itu berseru riang ketika mendaratkan kakinya di Benua Angin Selatan.
"Kepadatan Qi disini sangat rendah, tidak sebanding dengan di rumahku," gumam gadis tersebut, pandangannya terarah pada utara.
"Aku harus bertanya, bulan berapa ini," batin gadis tersebut lalu melesat menuju suatu arah.
Namun, belum lama dia melesat, sebuah bayangan hitam pekat menghadang jalannya. Juga bunga-bunga bertaburan disekitar gadis tersebut, sebuah senyuman muncul pada sudut mulut gadis tersebut ketika melihat dua sosok yang menghadang jalannya.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa menembus pelindung yang kupasang diatas langit sana?" tanya bayangan tersebut, tidak jelas suaranya itu perempuan atau laki-laki karena serak.
Gadis itu tersenyum sangat riang ketika melihat dua sosok tersebut, sudah dia rasakan ketika berada diatas langit Benua Angin Selatan memang ada yang memantaunya.
"Aku adalah perwakilan dari penguasa dunia ini," jawab gadis tersebut seraya tersenyum riang.
Walaupun bayangan itu tidak berwujud manusia, tapi bisa dipastikan bahwa dia tengah terkejut, hal serupa juga terjadi pada gadis kecil disamping bayangan tersebut, jika Han Xiao ataupun Ne Zha berada disini. Mereka akan mengetahui bahwa dua sosok tersebut adalah Bunga Suci dan Kegelapan Suci, orang terkuat di Benua Angin Selatan.
"Apa maksudmu?" tanya Bunga Suci.
"Sudah kubilang, aku adalah perwakilan penguasa dunia ini, tenanglah aku bukan pihak oposisi dengan kalian," jawab gadis berjubah merah longgar itu dengan santai dan riang.
"Kami tidak mempercayaimu," ujar sosok bayangan hitam tersebut.
"Terserah kalian," ucap gadis itu lalu menghilang dalam sekejap dalam pandangan dua orang suci tersebut.
Baik Bunga Suci ataupun Kegelapan Suci tersentak kaget, mereka tidak percaya akan ada orang yang lolos dalam pandangan mereka, segera mereka melakukan deteksi menyeluruh pada Benua Angin Selatan, tapi hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan hawa keberadaan gadis tadi.
"Untuk apa sosok besar seperti dia datang ke Benua Angin Selatan?" kata Bunga Suci.
"Entahlah, tapi kita hanya bisa mempercayai dulu bahwa dia bukanlah pihak oposisi dengan kita. Sebelumnya aku tidak merasakan aura apapun pada dirinya, seperti dia adalah seorang bayi yang sangat murni," sahut Kegelapan Suci.
__ADS_1
***
Update Mingguan : 9/14