Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab304. Menerima dan Bersyukur


__ADS_3

"Huft, lega sekali." Xian Chin menghembuskan napasnya dan tersenyum sangat indah pada Han Xiao.


Han Xiao yang melihat senyuman dari Xian Chin juga tertular untuk tersenyum, dia melihat senyum yang dikeluarkan oleh Xian Chin saat ini sungguh lepas dan lega, seolah beban yang ada pada gadis itu terangkat semua.


"Sungguh gadis yang sederhana," batin Han Xiao, setidaknya dia pernah merasakan apa yang terjadi pada Xian Chin, ketika tidak memiliki teman untuk bercerita tentnag kejamnya dunia dan beratnya beban yang ditanggung.


Han Xiao selalu ingat satu kata yang Ne Zha selalu pemuda itu katakan ketika dirinya merasakan masalah, 'Bicaralah, aku akan mendengarkanmu, tapi aku tidak akan memberimu solusi.' Dari kata itu Han Xiao memahami, bahwa seseorang hanya butuh pendengar yang baik untuk melepas bebannya, bukan sebuah solusi, karena terkadang justru solusi yang diberikan akan berdampak tidak baik. Masih hangat dalam ingatan Han Xiao, saat dia menginjakkan kakinya ke sekolah menengah pertama, ketika Ne Zha tidak ada di sampingnya, dia mendapatkan masalah dengan teman sebangkunya.


Temannya yang lain memberinya solusi, yang berujung membuat teman sebangkunya dibunuh oleh Pengawal pribadinya. Jika teman sebangkunya orang biasa saja, tidak terlalu menjadi masalah, tapi teman sebangkunya itu adalah anak dari kolega bisnis besar ayahnya yang merupakan kepala mafia juga, pada saat itu ayahnya kehilangan satu kolega bisnis besar dan satu kelompok mafia, walaupun itu tidak berdampak besar. Namun Han Xiao tetap terkena hukuman.


"Ayo ke tempat mereka," ajak Xian Chin membangunkan lamunan Han Xiao.


"Hah? Kemana?" Han Xiao belum sempat memprotes, tubuhnya sudah ditarik dan dibawa oleh Xian Chin ke ruang tempat dimana Ne Zha, Xian Xuenai dan Feng Jin.


"Hais, ada saja orang bodoh seperti itu," umpat Xian Chin.


Xian Xuenai tertawa dengan puas ketika mendengar umpatan Xian Chin.


***


"Ah ada drama menarik." Xian Xuenai menggerakkan tangannya untuk memperbesar gambar pada proyeksi.


Pada layar proyeksi tersebut terdapat seorang laki-laki yang sedang berada di lautan, dia hanya bertahan dengan sebongkah kayu dari puing-puing  perahu miliknya.


Tak lama datang sebuah kapal yang ditumpangi oleh beberapa orang saja.


Orang yang berada diatas kapal berhamburan untuk melihat kearah pria yang sedang mengambang dengan topangan kayu tersebut.


"Hey, ayo pegang tali itu! Kami akan menarikmu!" seru seseorang yang berada diatas kapal seraya melemparkan tali pada pria tersebut.


Pria yang mengambang diatas kayu itu mengerutkan dahinya sebelum dia menggelengkan kepala, "Tidak, aku yakin tuhan akan membantuku! Kalian pergi saja!" ujar pria tersebut.


"Hah? Tuhan akan membantumu? Dasar bodoh! Kami disini sudah jelas membantumu!" pekik salah satu pria di atas kapal.

__ADS_1


"Kalian pergi saja!" seru pria yang sedang didalam air tersebut.


Orang-orang yang berada diatas kapal heran, sudah berkali-kali mereka membujuk pria yang berada di air itu, tapi berujung dengan penolakan, bahkan pria yang ada di air itu memaki mereka.


Kesal karena memberi bantuan, tapi justru dimaki, mereka akhirnya memilih pergi dari pria yang mengatakan tuhan akan membantunya itu.


Tak selang beberapa waktu kemudian, datang kapal lain yang melewati pria tersebut, sama seperti kapal sebelumnya, orang-orang di kapal itu berniat membantu pria tersebut.


Tapi jawaban pria itu tetap sama.


"Tuhan akan membantuku, kalian pergi saja." 


Orang-orang di kapal menganggap aneh, bahkan ada orang yang rela terjun langsung ke air untuk mengangkat pria tersebut. Namun, tetap sama, pria itu dengan sangat keras menolak bantuan mereka dengan dalih bahwa tuhan akan menolongnya.


Setelah lama membujuk dan menolong secara paksa tidak bisa dilakukan, kapal itu pun memilih pergi.


Tinggalah pria tadi, tapi kini dia tidak mengambang dengan bantuan kayu lagi, orang yang dari kapal kedua itu memberikan sebuah sekoci untuk pria tersebut.


Tidak lama pria itu berada diatas sekoci, karena tiba-tiba sekoci itu bocor dengan sebuah lubang yang sangat besar, itu disebabkan oleh gigitan makhluk besar yang kini tengah menatap nyalang pada pria tersebut.


Hiu tersebut memiliki nama Hiu jirah duri, diberi nama seperti itu karena kulit yang dipenuhi oleh duri tersebut bagaikan jirah yang terbuat dari baja, sangat sulit dilukai!


"Hiu Jirah Duri!" Pria itu memekik ketakutan, tapi dalam sejenak dia menjadi tenang.


"Tuhan akan membantuku!" ujar pria itu dengan teguh.


Guaargh!


Dalam sekali serangan Hiu Jirah Duri melahap pria tersebut.


Pada saat-saat terakhir dirinya sebelum benar-benar mati, pria itu mengucapkan satu kalimat.


"Tuhan, kau tidak menolongku?" 

__ADS_1


"Hais, ada saja orang bodoh seperti itu," umpat Xian Chin.


Xian Xuenai yang menonton kisah tragis pria tersebut tertawa dengan sangat keras, wajah gadis itu sungguh memerah karena terlalu lelah menahan ekspresinya. Tawanya semakin mengeras ketika mendengar umpatan Xian Chin.


"Chin'jiejie, apakah kau tidak menolongnya? Bagaimanapun dia adalah makhluk yang kau ciptakan untuk mengisi duniamu. Atau, kau tidak mengetahuinya?" Feng Jin bertanya dengan heran.


Xian Chin menatap Feng Jin dengan lembut, senyum manisnya tidak terlepas mengikuti perkataannya, "Aku sudah mengirim dua kapal untuknya, tapi dia menolak," jawab Xian Chin dengan nada yang lembut.


Feng Jin terdiam, dia kembali berpikir, memang akan sangat mustahil untuk dua kapal tadi melintasi pria tersebut, karena tempat pria tersebut berada di sarang Hiu Jirah Duri.


"Ah aku berpikiran buruk, ternyata kau sangat menyayangi makhlukmu, hanya mereka saja yang tidak menerima dan bersyukur saja," ucap Feng Jin dengan nada yang bersalah.


"Kau sangat pintar, memang tidak salah kau di incar oleh kelompok mafia itu," kekeh Xian Chin.


Dahi Feng Jin disentuh oleh Xian Chin, sebuah putaran-putaran seperti video masuk kedalam kepalanya, Feng Jin terkejut wajahnya menjadi merah secara mendadak.


"Hais! Awas ya kalian, jika aku pulang kalian masih hidup! Akan kucincang tangan dan kaki kalian sampai halus dan kalian harus menontonnya sampai akhir!" gerutu Feng Jin dengan sangat kesal.


Han Xiao dan Ne Zha bingung dengan apa yang dikirim oleh Xian Chin hingga membuat Feng Jin menjadi seperti itu, dua pemua itu mentap Xian Chin dengan ekspresi bertanya.


"Akan kujelaskan nanti, sekarang kita ke ruang makan, setelah itu beristirahat." Xian Chin mengibaskan tangannya, dalam satu kedipan mata, mereka berlima sudah berada di ruangan lain, tepatnya pada sebuah meja bundar. 


Han Xiao duduk pada kursi dekat dengan Xian Chin yang bersampingan juga dengan Ne Zha, didepan Ne Zha ada Xian Xuenai dan disampingnya adalah Feng Jin.


Pada meja bundar tersebut banyak sekali makanan yang sangat Han Xiao, Ne Zha dan Feng Jin kenal, masakan yang berasal dari dunia mereka dulu.


"Astagaaaaaaa! Ini pepes tahu, argh aku sangat merindukamu." Han Xiao menyerobot bungkusan daun berbentuk segitiga dihadapannya.


Plak...


Xian Chin memukul tangan Han Xiao, "Jika mengambil makanan jangan seperti itu, kau seolah tidak menemuinya selama milyaran tahun saja," omel Xian Chin.


***

__ADS_1


Update Mingguan : 14/14


Update Merdeka : 48/75


__ADS_2