
Mo Yanjing sebelumnya sudah senang karena mengira dirinya telah mati, namun kesadarannya direnggut kembali oleh serangan Han Xiao yang secara paksa menariknya di kedalaman jiwanya.
Rasa putus asa segera memenuhi mata Mo Yanjing, pria itu menatap wanita yang kini tengah melayang menuju arahnya dan Han Xiao.
Matanya memancarkan sebuah kemaraan besar pada wanita tersebut, wanita itutak lain adalah Yu Mao.
"Yu Mao!" pekik Mo Yanjing penuh amarah.
BAAAAM!!!
"Beraninya kau mengalihkan pandanganmu!" Han Xiao menusukan Pedang Delapan Kejahatan pada dada Mo Yanjing dan mulai menghisap Esensi Darah pria tersebut.
Mata Han Xiao kini didominasi oleh warna merah dan biru, sosoknya seperti dewa kejahatan, sampai saat ini, Mo Yanjing tidak mengetahui apa masalah yang membuatnya harus menanggung rasa sakit yang dideritanya saat ini. Dia ingin memprotes, namun tidak berdaya dibawah tekanan Han Xiao.
Kini sosok wanita bersayap bekulit merah esentrik itu telah sampai didekatnya, Mo Yanjing menatap penuh heran karena Han Xiao tidak melakukan apapun pada Yu Mao.
"Nasibmu akan serupa dengan baj¡ngan celaka ini jika kau tidak berlutut dan meminta maaf atas kesalahanmu!" ujar Han Xiao dingin pada Yu Mao.
Berlainan dengan dugaan Mo Yanjing, dimana Yu Mao akan berontak daripada bersujud pada Han Xiao, akan tetapi wanita itu bersujud penuh penghormatan sebuah rasa hormat yang belum pernah ditunjukan oleh Yu Mao pada siapapun selama Mo Yanjing mengenalnya!
"Aku meminta maaf atas kelalaianku dan menyebabkan..." Yu Mao tidak berani melanjutkan perkataannya karena takut membangkitkan binatang purba itu untuk menyerangnya.
"Yu Mao! Apa yang kau lakukan?!" pekik Mo Yanjing bersungut-sungut.
"DIAM!" Sekali lagi Han Xiao berteriak menggelegar membuat dua kultivator Alam Dewa dihadapannya bergidik ketakutan.
"DIBAWAH KEKUATAN MUTLAK, BAHKAN KALIAN YANG BERADA DI ALAM DEWA HANYALAH SAMPAH DIHADAPANKU!" seru Han Xiao menatap Mo Yanjing dengan sangat tajam.
Hanya tatapan, hanya tatapan saja cukup untuk membuat Mo Yanjing bergetar ketakutan dan merasa bahwa tubuhnya telah dilobangi,
__ADS_1
Mo Yanjing menatap Yu Mao penuh emosi menunjukan berbagai tatapan meminta penjelasan, Yu Mao dengan senang hati menjawab, tubuhnya terbang melayang dan berdiri disamping Han Xiao.
"Kau berkhianat Yu Mao?!" pekik Mo Yanjing.
"Pada awalnya aku tidak melakukan kerja sama dengamu, aku mengatakan bahwa 'tidak ada yang salah dalam rencanaku' jadi aku tidak mengkhianatimu," papar Yu Mao.
"Sejauh ini, kau adalah pion terbesar dalam rencanaku, namun kau melakukan kesalahan terbesar sehingga mengharuskan aku mempercepat akhir rencanaku," lanjut Yu Mao.
Darah Mo Yanjing mendidih karena marah, pola dalam tubuhnya menyala terang, Yu Mao tersenyum kecil ketika melihat pola milik Mo Yanjing bersinar terang.
"Kau tidak akan bisa meledakan diri menggunakan kemampuan dari Pola Hantu milik rasmu dibawah tahanan dari tuan Han," ejek Yu Mao.
Tubuh Mo Yanjing yang awalnya henak meledak tiba-tiba menjadi redup, pandangan Mo Yanjing mau tidak mau diarahkan oleh Yu Mao pada pembantaian Ras Pola Hantu.
Kultivator Benua Angin Selatan kini tengah bergabung dengan Ras Sayap untuk membunuh para kultivator dari Ras Pola Hantu, Ne Zha dan para jagoan utama dari Benua Angin Selatan telah berhasil membunuh tiga orang Alam Dewa lainnya dari Ras Pola Hantu.
"Banyak korban dari Rasmu juga Yu Mao!" geram Mo Yanjing.
"Mereka adalah orang yang sudah menjadi tumpukan daging mati, tidak ada gunanya membicarakan mereka. Juga sebagian besar yang mati adalah orang yang memilki hubungan baik dengan Ras Pola Hantumu, mereka memiliki potensi untuk berkhianat. Aku lebih baik mengorbankan mereka," terang Yu Mao.
Han Xiao menatap dingin pada Mo Yanjing, masih belum puas dia melepaskan amarahnya pada pria tersebut.
"Penyiksaanmu belum berakhir," desis Han Xiao sebelum menjatuhkan pukulan telak untuk membuat Mo Yanjing kehilangan kesadaran, pandangannya segera tarjatuh pada medan perang yang masih berlanjut dengan intens.
"Han," suara Ne Zha yang muncul disampingnya segera membuat pemuda itu terbangun dari lamunan.
Han Xiao mengangguk ringan lalu mengikuti Ne Zha menuju tembok pertahanan Pantai Selatan, Yu Mao disisi lain hanya diam dan mengikuti Han Xiao.
Pertarungan kali ini sudah jelas Benua Angin Selatan adalah pemenangnya, sorak sorai memenuhi Pantai Selatan ketika mereka telah membantai habis Ras Pola Hantu.
__ADS_1
Kaisar Yang Qian, Petapa Gila dan lainnya segera menghampiri tempat istirahat Han Xiao, mereka menatap penuh duka melihat Han Xiao yang terus duduk dihadapan peti berisi jasad Ruan Jian.
"Jangan terlalu larut nak, ada sebuah pepatah mengatakan, bahwa setiap orang memiliki hutan sendiri, yang sudah hilang akan hilang. Dan yang bertemu maka akan bertemu." Kaisar Yang Qian sungguh tidak tega melihat Han Xiao yang terus larut dalam kehilangan.
"Terimakasih ayah," ujar Han Xiao, tapi dia tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya, dia masih menatap pada tubuh pucat Ruan Jian, bahkan sesudah tiada pun pesona lembut gadis itu masih memancar.
"Kau sudah membalaskan dendamnya, Ruan'er akan tenang dialam sana, semoga di berinkarnasi di dunia ini," ucap Fu Daiyu seraya mengelus lembut pundak Han Xiao.
"Beri aku waktu sendirian," pinta Han Xiao.
Semua orang segera menuruti kemauan Han Xiao, mereka pergi dari tenda Han Xiao dan menyisakan hanya Han Xiao dan tubuh kaku Ruan Jian.
"Inikah rasa kehilangan orang yang dicintai?" Han Xiao bergumam seraya meremas dadanya yang terasa sakit.
Sebelumnya, dia pernah merasakan kehilangan terhadap Leyra, tapi rasa ini sungguh berbeda walaupun dia kehilangan dengan cara yang sama, yaitu kematian.
Rasa ini, rasa yang tidak ingin dia rasakan lagi. Namun datang seolah memperingatinya suatu saat dia akan merasakannya lagi, dengan rasa yang lebih menyakitkan.
"Kenapa kau pergi Jian, kau berjanji tidak akan meninggalkanku kan saat di kapal? Kenapa kini kau meninggalkanku?" racau Han Xiao.
Tidak ada perayaan diluar, mereka semua diarahkan untuk beristirahat sebelum pulang kembali menuju rumah masing-masing. Orang-orang ini paham atas duka besar yang sedang menerpa Han Xiao, mereka sangat takut mengganggu pemuda tersebut. Kultivator Alam Dewa saja bagaikan semut di tangannya, bagaimana dengan mereka yang memiliki Kultivasi lebih kecil.
Tujuh hari tujuh malam Han Xiao terus meracau sampai suaranya serak, ketika keluar dari tenda, mata pemuda itu memiliki kantung hitam besar seolah seperti telah dipukuli.
Yang Shui yang melihat kondisi Han Xiao seperti itu terkejut, segera saja Yang Shui menghampiri Han Xiao yang kini layak mayat hidup yang tengah berjalan. Tatapan pemuda itu kosong.
***
Bonus update : 3/4
__ADS_1