Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab252. Kecocokan


__ADS_3

Sinar matahari naik secara perlahan, cahayanya yang hangat merayap pada permukaan kulit wajah indah sesosok gadis yang tengah tertidur indah, merasakan cahaya dari matahari yang hangat. Gadis itu mengejapkan matanya beberapa kali saat sang surya merenggut kesadarannya dari alam mimpi.


Su Lihwa merasakan sebuah rengkuhan kokoh dari belakangnya, alisnya sedikit mengerut, namun ketika mencium wangi aroma yang sangat familiar baginya, segera saja sebuah adegan tadi malam berbutar dalam kepalanya membuat gadis itu tersenyum-senyum sendiri.


Benar, semalam Ne Zha sungguh memperlakukannya dengan sangat lembut, pemuda itu membimbingnya penuh kesabaran, Ne Zha memberikannya banyak waktu untuk mempersiapkan diri sebelum penyatuan mereka.


Ne Zha tidak menyerangnya ketika dia belum siap, dengan sabar menungguinya, hingga pada saatnya lah dia benar-benar siap, Ne Zha membawanya pada sebuah rasa baru yang tidak pernah dirasakannya.


Su Lihwa memang pertama merasakan sakit, namun dibawah arahan Ne Zha dan kelembutan pemuda itu, dia bisa menikmati apa yang orang-orang bilang kenikmatan ragawi.


Pipi gadis itu memerah ketika mengingat kejadian semalam, tangannya bergerak untuk meraih tangan Ne Zha yang dengan posesif memeluknya seolah takut jika terlepas maka Su Lihwa akan hilang.


"Zha aku ingin ke kamar mandi," bisik Su Lihwa, dia berharap Ne Zha terbangun dengan suaranya.


"Aih aku lupa, jika dia tidur sudah seperti mayat, sulit dibangunkan," gumam Su Lihwa ketika teringat Feng Jin membangunkan dua pemuda itu akan selalu menyiram ataupun membakar tempat tidur abangnya.


Tangan Su Lihwa bergerak untuk melepaskan rengkuhan Ne Zha pada perutnya, hembusan napas panas pada lehernya membuat Su Lihwa merasakan senyar pada sekujur tubuhnya.


"Kau mau kemana?" bisik Ne Zha dengan suara parau khas bangun tidur.


Su Lihwa segera terdiam, "A-aku ingin ke kamar mandi," ucap Su Lihwa.


"Jangan mandi duli, pagi ini sangat indah bukan?" Ne Zha memberikan kecupan ringan pada tengkuk Su Lihwa membuat gadis itu melepaskan sebuah erangan.


Tubuh Ne Zha bergerak dan menindih Su Lihwa, "Tidak ingin memberikan ciuman selamat pagi pada suamimu?" Ne Zha menggesekan hidungnya untuk menggoda Su Lihwa.

__ADS_1


Wajah gadis itu menjadi lebih memerah karena godaan dari Ne Zha, Su Lihwa mengambil tindakan untuk menjawab godaan dari Ne Zha, gadis itu memberikan sebuah kecupan ringan pada pipi Ne Zha.


"Kau tidak tulus," gerutu Ne Zha.


"Lalu bagaimana yang tulus?" Su Lihwa mengerutkan dahinya.


Ne Zha tersenyum kecil, "Kau mengetahuinya," desis pemuda itu lalu memagut penuh hasrat bibir Su Lihwa, sebelumnya dia menahan sebanyak mungkin untuk mendapatkan ciuman dari Su Lihwa karena mengingat dulu mereka belumlah melaksanakan perniakahan, walaupun dulu telah terikat oleh pertunangan, namun bagi Ne Zha pertunangan itu bukan dia yang menjalani sehingga dia tidak berprilaku jauh.


Berbeda dengan sekarang, Su Lihwa yang menjadi candunya kini telah menjadi sepenuhnya miliknya, dia bebas melakukan apapun karena mereka sekarang adalah suami istri.


"Ne Zha." Su Lihwa mengerang ketika Ne Zha melepaskan pertautan panas mulut mereka.


"Kau belum boleh ke kamar mandi, karena kau akan berkeringat setelah ini," kekeh Ne Zha lalu dia melancarkan aksinya pada Su Lihwa.


***


"Harus kujawab jujur atau bohong?" tanya Ne Zha balik.


"Terserah padamu," sahut Han Xiao.


"Akan kujawab dengan jujur, ini memang pertama kalinya untukku, rasanya sungguh luar biasa, kenikmatan ragawi yang sering kau katakan itu benar-benar sanggup melepaskan penat dalam diriku, pikiranku menjadi lebih nyaman saat itu, aku merasakan seolah dunia ini hanya milik berdua," kekeh Ne Zha lalu menyuapkan Tofu Bulat pada mulutnya.


Han Xiao tertawa puas mendengar jawaban dari Ne Zha dia juga turut senang dengan apa yang dirasakan oleh Ne Zha, "Kau ingin mengetahui sesuatu Zha?"


"Apa?" tanya Ne Zha penasaran, tidak banyak yang Han Xiao rahasiakan padanya, mereka selalu saling terbuka, jika ada hal yang belum mereka ketahui dari salah satunya, kemungkinan itu adalah hal yang baru.

__ADS_1


"Yang kau rasakan adalah surga dunia sesungguhnya, aku selama ini melakukan berhubungan tubuh hanya untuk sekedar memuaskan nafsuku, dan ketika datang ke dunia ini, aku melakukan hal ini karena manual kultivasi yang kumiliki, aku lebih baik melakukan hubungan tubuh jika dibandingkan menjadi mesin pembunuh tanpa hati," ujar Han Xiao dengan senyum kecut.


"Maksudmu?" Ne Zha bertanya sedikit tidak paham dengan kalimat awal Han Xiao.


"Kalian melakukan itu karena kalian saling mencintai, kalian memuja satu sama lain, begitu juga tubuh kalian yang saling cocok karena raga kalian yang sudah saling menerima, itulah surga dunia yang kumaksud, berbeda denganku, jika bukan aku yang menginginkannya, maka para gadis diluar sana yang menginginkanku, belum tentu aku menginginkan mereka dan mencintai mereka, juga dengan mereka gadis yang sudah ktiduri. Mereka belum tentu dengan tulus mencintaiku, di dunia kita yang dulu, aku dipuja karena ketampananku, kekayaanku dan statusku. Bukan karena mereka memnginginkan hatiku dan segala kekuranganku," beber Han Xiao dengan sangat panjang lebar, dia menaikan nadanya menjadi pongah dan sombong saat mengatakan kalimat terakhirnya.


Ne Zha terdiam ketika mendengar penjelasan panjang kali lebar kali tinggi dari Han Xiao, pemua itu juga kini menyadari hal tersebut, memang semua yang dikatakan oleh Han Xiao tidak ada salahnya, semuanya tepat pada sasaran.


"Kau akan segera mendapatkannya Han, segera," ucap Ne Zha menyemangati Han Xiao seraya mengangkat cawan berisi anggur pada pemuda tersebut.


"Kita habiskan hari ini untuk bersantai dan beristirahat, esok kita akan melakukan persiapan dan berangkat ke Benua Kayu Tengah," kata Ne Zha seraya tersenyum lebar.


Han Xiao tertawa mendengar perkataan Ne Zha, "Ya, segera," kekeh pemuda itu seraya mengadukan cawannya dengan cawan Ne Zha.


Dua pemuda itu menegak habis anggur pada cawan mereka lalu tertawa, sudah lama mereka tidak mendapatkan ketenangan seperti ini semenjak menginjakan pada dunia milik Xian Chin ini.


"Bagaimana dengan Su Lihwa Zha, apakah kau benar-benar akan meninggalkanny di sini?" tanya Han Xiao secara tiba-tiba.


Pertanyaan Han Xiao itu dijawab dengan sebuah senyuman penuh misteri dari Ne Zha, hal itu membuat rasa penasaran dari Han Xiao terus membumbung tinggi, Han Xiao setidaknya mengetahui bahwa sepasang suami istri muda tidak akan mudah dipisahkan, saat-saat ini adalah masa paling berbunga untuk mereka.


"Kau ingin mengetahunya? Aku bertanya dulu, kau akan menorunya atau tidak jika aku memberitahukannya padamu?" Ne Zha justru bertanya.


***


Update Mingguan : 11/14

__ADS_1


Update Merdeka : 13/75


__ADS_2