Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab246. Rasa


__ADS_3

Pada Akhirnya Han Xiao hanya tidur bersama Bing Xing dan tidak melakukan hal aneh lain seperti yang hendak mereka lakukan sebelumnya, mereka tertidur sangat pulas hingga sang surya bersinar terang naik secara perlahan.


Dua insan itu terbangunkan oleh suara ketukan nyaring pada pintu kamar Bing Xing, Han Xiao bangun dan berjalan dengan gontay menuju pintu.


"Ada apa?" tanya pemuda itu ketika pintu terbuka, disana Feng Jin berdiri menatap nyalang padanya.


"Bang Han! Ini adalah hari paling penting untuk Bang Zha tapi kau justru masih tertidur?!" pekik Feng Jin dengan sangat marah pada Han Xiao. "Juga, apa yang Bang Han lakukan pada Xing'Jiejie?"


Mata Han Xiao segera membulat sempurna, karena masih mengantuk, dia sampai lupa bahwa dirinya tertidur satu ranjang dengan Bing Xing.


"Dia tidak melakukan apapun, hanya menemaniku tidur saja, juga akulah yang memintanya untuk menemaniku," ujar Bing Xing dengan gamblang.


Feng Jin mendengus ringan, "Yasudah, Bang Han segera bersiaplah!" ujar gadis tersebut.


Han Xiao mengangguk ringan, dia melangkah masuk kembali kedalam kamar. Bing Xing mengerutkan dahinya bingung, dia segera menahan Han Xiao, "Kau ingin tidur lagi?" tanya Bing Xing.


"Aku ingin mandi," jawab Han Xiao ringan.


"Kamar mandi hanya satu, kau lebih baik ke kamar mandi yang lain," kata Bing Xing.


"Bukankah mandi bersama sangat romantis?" Han Xiao mengembangkan senyum nakal.


Bing Xing segera memukul kepala pemuda tersebut, "Pergilah, mandi di tempat lain!" Gadis itu mendorong Han Xiao keluar dari kamarnya.


Han Xiao memajukan bibirnya untuk mengejek Bing Xing, "Pergilah mandi di tempat lain." Han Xiao membeo ucapan dari Bing Xing dengan gaya bicara bibir yang dimajukan untuk meledek dengan cara yang sangat menjengkelkan.


"Semalam kau ingin sekali kusentuh, tapi mandi bersama tidak mau." Han Xiao segera melenggang pergi setelah mengatakan hal tersebut, dia tidak ingin kepalanya kena pukul oleh gadis itu.


Wajah Bing Xing memerah padam, dia mengepalkan jari-jarinya dengan gemas pada Han Xiao. Namun tidak ada gunanya yang dia lakukan, gadis itu memilih untuk membersihkan diri, hari ini adalah hari penting bagi teman seperjuangannya.


***


Dekorasi pernikahan kini semakin hidup jika dibandingkan dengan semalam, seluruh persiapan telah selesai. Renda-renda berwarna putih dan hitam yang harusnya memberikan kesan hambar itu justrru sebaliknya, mereka benar-benar serasi dipadu-padankan dengan berbagai hiasan lainnya.

__ADS_1


Su Lihwa sengaja memilih warna hitam dan putih, itu karena julukan Ne Zha sang Tangan Putih dan Dirinya Api Hitam pada Delapan Warna.


Para tamu undangan semuanya telah hadir, murid-murid dari kelas C hingga kelas S, semuanya berada di aula utama Akademi yang digunakan sebagai tempat resepsi persnikahan.


Mereka semua menanti-nantikan dua tokoh utama dalam acara ini melakukan sumpah pernikahan diatar altar nanti, banyak yang berdiskusi tentang hal ini.


Banyak yang senang juga tidak berarti tidak ada yang patah hati, ada banya gadis yang mengidolakan Ne Zha patah hati karena pernikahan ini, mereka sungguh berharap menjadi sosok beruntung seperti Su Lihwa.


"Dimana Abangmu?" Xia Shiva yang berjalan dengan Xian Xuenai bertanya heran karena tidak melihat Han Xiao.


"Mungkin masih tidur," jawab Xian Xuenai seraya mengangkat bahunya.


***


"Jika bukan karenamu Zha, aku sungguh tidak ingin menggunakan jubah besar seperti ini." Han Xiao menggerutu ketika selesai mengganti kaos polos hitamnya dengan sebuah jubah berwarna merah berukiran Naga berwarna emas.


"Kau pikir hanya kau saja yang nyaman menggunakan jubah besar seperti ini? Aku berharap acara ini tidak berlangsung lama, sangat tidak nyaman menggunakan jubah besar ini," balas Ne Zha.


***


"Kuharap Ne Zha tidak tergila-gila dengan wajah riasan ini," kekeh Su Lihwa.


"Walaupun tanpa riasan, kau sudah sangat cantik. Lagipula Ne Zha tidak memandang wajahmu untuk menjadi tergila-gila padamu, tapi dia melihat hatimu yang tulus padanya. Hal itu yang membuat Ne Zha tergila-gila padamu," sahut Presiden Wanpi diiringi sebuah kekehan.


Su Lihwa sangat senang melihat pantulan dirinya pada cermin, sungguh luar biasa cantik dirinya.


"Kau sudah siap?" tanya Presiden Wanpi.


Su Lihwa memejaman matanya, dia merasakan sebuah ketegangan dan kebahagiaan yang bercampur aduk dalam dirinya, semua rasa itu dia kendalikan secra perlahan. Hingga setelah merasa tenang, Su Lihwa membuka matanya dan dengan mantap menatap pada pantulan dirinya pada cermin.


"Aku siap!" ujarnya dengan sangat mantap.


Presiden Wanpi tersenyum melihat Su Lihwa, dia juga meraskan kebahagiaan yang menguar dari Su Lihwa, bisa menikah dengan orang yang paling dicintai adalah sebuah berkah tertinggi dalam kehidupan.

__ADS_1


"Kapan aku memiliki cinta sejati?" batin Presiden Wanpi.


***


"Baiklah ayo kita melangkah Zha, ini adalah tantangan paling hebat dalam hidupmu, kau pasti bisa melewatinya!" Han Xiao memberikan semangat membara pada Ne Zha.


Kini dua pemuda itu sudah berada di belakang panggung yang juga menjadi tempat altar pernikahan berdiri, Han Xiao tersenyum ketika melihat wajah Ne Zha yang gugup.


"Tenangkan dirimu nak," suara gagah dan berwibawa terdengar dari indra pendengaran Han Xiao dan Ne Zha.


Dua pemuda itu secara bersamaan menengok pada arah belakang mereka, sosok Kaisar Yang Qian merangkul bahu mereka secara bersamaan.


"Terus tatap ke depan, jangan melihat ke belakang, aku tahu kau gugup. Aku juga pernah berada dalam posisimu, namun percayalah pada dirimu sendiri dan lawan rasa gugup itu untuk menyambut datangnya rasa baru dalam dirimu." Kaisar Yang Qian memberikan semangat pada Ne Zha.


"Rasa apa maksudmu Ayah?" tanya Ne Zha dengan penasaran.


"Tentu saja rasa perawan!" celetuk Han Xiao.


Bletak...


Bletak...


Dua pukulan secara bersamaan mendarat pada kepala Han Xiao, pemuda itu menatap kesal pada Ne Zha dan Kaisar Yang Qian seraya mengelus kepalanya yang sedikit berdengung karena pukulan keduanya cukup keras.


"Rasa yang kumaksud adalah rasa keluarga, mungkin kau sekarang memiliki kekeluargaan denganku, Han Xiao dan lainnya. Namun sangat berbeda dengan rasa keluarga yang kau bangun beruda diatas sumpah pernikahan bersama pasanganmu," jelas Kaisar Yang Qian, lelaki itu menatap tajam pada Han Xiao karena memiliki otak yang kotor.


"Ayolah Ayah, jangan menatapku seperti itu, aku tidak munafik. Sungguh rasa perawan itu sangat nikmat." Han Xiao tersenyum nakal.


Bletak...


Sekali lagi Ne Zha dan Kaisar Yang Qian memukul kepala Han Xiao, kini lebih keras dari sebelumnya, sehingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.


***

__ADS_1


Update Mingguan : 08/14


Update Merdeka : 10/75


__ADS_2