
Serangan Bing Xing melepaskan hingga sembilan puluh persen kekuatan Unsur serta Qi yang dimilikinya, ayunan Sabit Dingin yang dilepaskan oleh Bing Xing menyapu Murid Kaisar terdekat.
Alat Dewa bukanlah mainan, serangan tersebut berhasil mencabut nyawa murid kedua dan ketiga yang memiliki jarak terdekat dengan Bing Xing. Sementara murid utama Kaisar berhasil menahan sisa serangan walaupun mereka harus terluka.
Mata biru Bing Xing yang indah itu menjadi sangat dingin, tatapannya segera menyapu ke arah Han Xiao yang sudah tidak jelas bentuknya.
"Kau." Bing Xing menggelengkan kepalanya ringan lalu pergi ke arah Han Xiao, dengan lanbaian tangannya, bongkahan Es yang menyelimuti Han Xiao membawa pemuda itu melayang tepat di samping Bing Xing.
Sangat beruntung bahwa serangan dahsyat dari murid Kaisar ini sudah menghancurkan Pelindung, Bing Xing menggunakan sepuluh persen kekuatan yang tersisanya untuk melarikan diri dari sana. Jelas bahwa saat ini kondisi sedang sangat buruk.
"Lei Ling kejar mereka!" Yalan berteriak dia juga langsung bereaksi untuk mengejar Bing Xing.
Lei Ling memiliki kecepatan tercepat karena memiliki Unsur Petir, dia melesat untuk mengejar Bing Xing yang membawa kabur Han Xiao.
Cong Lai tidak ingin kesempatan balas dendamnya hilang, Cong Lai tidak cepat, tetapi dia bisa memotong ruang untuk mempercepat langkahnya.
Bing Xing sungguh menggunakan sisa kekuatannya untuk berlari, tujuannya sekarang adalah Utara, dia ingin bersembunyi disana. Bing Xing memiliki teknik untuk menyembunyikan diri terbaik di Salju, Bing Xing percaya dengan bantuan Sabit Dingin bahkan Kaisar akan kesulitan mencari dirinya jika bersembunyi di salju.
***
Di tempat lain, Ne Zha yang berhasil mencapai lantai lima terpana saat menginjakan kakinya ke sana.
Tangga terakhir terbuat dari bebatuan, ketika Ne Zha sampai di puncak. Dia muncul pada sebuah gua di atas lembah yang sangat hijau, kepadatan Qi serta suasana di sini sungguh menenangkan.
"Inikah lantai lima? Sungguh menakjubkan!" Ne Zha sudah berpetualang, tetapi itu masih dalan jangka kecil serta tidak banyak menemukan tempat se eksotis ini. Pemandangan Alam disini sungguh luar biasa.
"Groaaaar!!!" Baru saja Ne Zha hendak beristirahat sejenak karena pertarungan sebelumnya begitu melelahkan. Suara raungan terdengar di sampingnya.
Ketika Ne Zha mengalihkan pandangannya, di sana terdapat seekor beruang hitam yang berdiri menatapnya lapar.
"Kau lapar? Aku malas bertarung, makanlah." Ne Zha melemparkan sepotong besar daging di hadapan beruang tersebut lalu duduk bermeditasi.
Beruang yang tadinya meraung itu tiba-tiba terlihat sangat bingung, tetapi melihat satu potong daging raksasa yang hampir setengah dari dirinya, Beruang itu segera berhambur untuk memakan Daging dan menghiraukan Ne Zha.
__ADS_1
***
"Hahaha! Kau sangat sombong pada nona ini?! Lihatlah dirimu sekarang!" Seorang gadis berjubah merah yang sangat pres denan tubuhnya menatap sombong pada makhluk besar di hadapan nya yang memiliki bentuk Kadal raksasa bersisik ungu.
Gadis itu tidak lain adalah Xian Xuenai, dia sungguh bersenang-senang di lantai lima. Keberunthngannya sungguh baik karena bertemu makhluk yang setara dengannya, harta yang didapat Xian Xuenai juga sangat berharga.
Kadal bersisik ungu itu menatap ngeri pada Xian Xuenai, pada saat itu juga dia langsung terbirit lari berbaris di belakang Xian Xuenai. Pada barisan itu juga terdapat Monster yang berkekuatan setara dengan kadal tersebut.
"Kalian adalah prajuritku mulai sekarang!" ujar Xian Xuenai seraya tertawa riang.
Para Monster itu menghentak kaki mereka, menandakan bahwa mereka tidak menolak.
***
Satu minggu Ne Zha habiskan untuk beristirahat bermeditasi, mata legam pemuda itu secara perlahan terlihat ketika kelopak matanya terbuka.
Alangkah terkejutnya Ne Zha saat matanya terbuka, pemandangan pertama yang dia lihat adalah seekor beruang hitam yang duduk dengan tenang di hadapannya. Ketika melihat Ne Zha membuka mata, Beruang itu langsung menerkam Ne Zha membuat pemuda itu terjerembab jatuh.
Hal itu membuat Ne Zha terlentang dengan ditindih oleh Beruang tersebut.
"Jangan timpa diriku, kau sungguh berat," kata Ne Zha seraya mendorong Beruang hitam yang besarnya tiga kali lipat dari dirinya itu.
Beruang besar itu mengeluskan kepalanya pada Ne Zha.
"Kau ingin lagi?"
Beruang itu mengangguk.
Ne Zha menggeleng sebelum mengeluarkan sepotong daging besar lagi.
"Baiklah, selamat tinggal." Ne Zha melangkahkan kakinya pergi setelah melambaikan tangan pada Beruang Hitam.
Sang Beruang seolah mengerti dan membalas lambaian tangan Ne Zha.
__ADS_1
"Satu juta tahun," batin Ne Zha saat mulai terbang untuk menjelajahi Lembah di depannya.
Ne Zha mendarat di Lembah, ketika baru saja mendarat. Ne Zha mendengar suara berisik seperti langkah kaki, tetapi langkah itu sungguh banyak.
"Prajurit?" Hentakan irama langkah kaki ini seperti Prajurit, itulah yang ada di kepala Ne Zha.
Dengan penasaran Ne Zha mengikuti arah asal suara, setelah beberapa jam mengikuti asal suara. Ne Zha terkejut saat melihat sebuah gunung besar.
"Sarang Semut Prajurit!" Ne Zha berseru penuh keterkejutan, akan biasa jika di dunia sebelumnya semur Prajurit, Ne Zha bisa membunuhnya hanya dengan sentuhan jari ringan. Namun, Semut Prajurit di Alam Abadi berbeda, mereka memiliki ukuran sebesar Gajah dewasa!
Ne Zha tersenyum kecut, tidak pernah dia merasa ngeri pada Semut, tetapi dia harus mengakui bahwa Semut Prajurit ini layak bagimya untuk merasa ngeri.
Dari penyelidikan Ne Zha pada sarang tersebut, semut di sana paling lemah setara dengan Kultivator Alam Dewa. Dan itu berjumlah puluahan ribu!
"Aku tidak bisa mencari masalah dengan semut ini." Ne Zha menggelengkan kepalanya lalu berbalik.
"Manusia?" Seekor semut raksasa menghadang Ne Zha bersama sepuluh diantaranya.
Ne Zha menggaruk kepalanya, dia tidak ingin berurusan dengan para semut ini, tetapi justru semut ini datang dengan sendirinya.
"Haish, jika tidak menabrak, ya ditabrak." Ne Zha memilih untuk tidak memiliki masalah lebih jauh, dia menghadapi para semut itu dengan damai.
Semut Prajurit masih memiliki akal yang baik, mereka tidak akan menyerang jika tidak diserang.
"Sudah lama Alam ini tidak didatangi oleh Manusia, bisakah kau datang ke sarang kami?" ujar Semut Prajurit terdepan.
"Untuk apa?" Ne Zha mulai sedikit berjaga.
"Tenanglah, kau tidak menyerang kami, kami masih memegang tradisi kami. Aku hanya ingin kau bertemu Ratu, setelah itu kau bisa pergi, jangan berpikir buruk. Ratu juga memegang tinggi tradisi kami," ucap sang Semut.
"Bertemu Ratu? Apakah kalian tidak akan curiga dan waspada terhadapku?" Ne Zha mengerutkan dahinya.
"Padamu? Yang hanya di ranah Dewa Raja? Kami memiliki ribuan Prajurit sepertimu dan ratusan yang setara dengan ranah Raja Abadi. Tentu saja Ratu adalah yang terkuat, dia memiliki kekuatan setara dengan Alam Kaisar. Atas dasar apa kami harus waspada terhadapmu?" jelas Semut itu dengan santai.
__ADS_1
***
Update Mingguan : 04/14