Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab196. Amarah


__ADS_3

"Aku bisa memperbaiki Dantianmu, aku bisa memberikan Roh Beladiri untukmu! Tidak, kau tidak akan mati!" Han Xiao memeluk Ruan Jian dan berkata dengan suara yang sangat parau.


Ruan Jian terhenyak ketika Han Xiao memeluknya, dia merasakan bahwa tubuh Han Xiao bergetar keras, seolah dia sedang menahan tangis? Gadis itu tersenyum kecil, dia mendongakkan kepalanya dan melihat pemuda yang biasanya riang itu kini dipenuhi oleh kecemasan.


"Tidak ada yang bisa memperbaiki Dantian yang retak dan Roh Beladiri baru pada kultivator, bahkan Klan Xiao pun tidak bisa melakukan hal itu," ujar Ruan Jian secara gamblang, seharusnya dia sudah mati, namun dibawah penanganan dari Xiao Jiang dan Xiao Wushuang dia berhasil bertahan, namun untuk waktu yang tidak lama. Maka dari itu setidaknya dia ingin menyatakan rasa yang dimilikinya pada pemuda riang tersebut agar tidak menjadi roh penasaran.


"Aku bisa melakukannya!" balas Han Xiao.


Semua orang yang berada disekitar Han Xiao segera terbawa oleh atmosfer sendu yang menguar dari kedua pasang muda-mudi tersebut, bahkan beberapa mengeluarkan air mata karena kesedihan Han Xiao yang tidak ingin kehilangan Ruan Jian.


Mereka mengetahui bahwa tidak ada yang pernah bisa memperbaiki Dantian yang retak serta Roh Beladiri yang hancur, jika kultivator mengalami kehancuran pada Roh Beladiri, mereka akan menjadi cacat, ditambah dengan Dantian yang retak. Itu sudahlah kematian untuk kultivator tersebut.


Tapi Ruan Jian adalah sebuah keajaiban, gadis itu masih bisa hidup setelah dua inti pentingnya hancur.


Apa yang dikatakan oleh Han Xiao bukanlah omong kosong, dengan teknik dari Harimau Suci, dia bisa memperbaiki Dantian yang rusak, dan Ne Zha bisa melakukan teknik mengambil sebuah Roh Beladiri dan menempatkannya pada Ruan Jian.


Kekacauan isi hati Han Xiao yang membuat pemuda itu menjadi parau.


"Kau akan menemaniku, Ruan Jian. Kau mengetahui apa yang kurasakan, kau harus bertahan dan menemaniku," bisik Han Xiao dengan suara sesenggukan.


"Ya, aku akan menemanimu. Jika memiliki kesempatan hidup lagi di dunia ini, maka aku akan mencarimu dan menemanimu," suara Ruan Jian semakin mengecil diikuti oleh deruan napasnya yang perlahan melembut sebelum menghilang.


"Jian! Jian! Ruan Jian!" Han Xiao menguncang-guncangkan tubuh Ruan Jian, dia merasakan bahwa napas gadis itu sudah tiada, detak jantung gadis itupun sudah berhenti.

__ADS_1


Han Xiao segera memeluk erat tubuh Ruan Jian dan menangis sejadi-jadinya, bisa dibilang Ruan Jian lah yang mengetahui seluruh keluh kesah hatinya selain Ne Zha, Ruan Jian jugalah gadis pertama yang memiliki rasa paling tulus padanya. Han Xiao juga merasakan sebuah perasaan tenang dan lembut jika berada bersama Ruan Jian, terbukti ketika pertemuan pertama mereka, Han Xiao yang sedang dalam keadaan mengamuk mendadak mendapatkan kesadarannya ketika bertemu dengan Ruan Jian.


"Bangun Jian, kau bilang ingin terus menemaniku? Aku mendengar apa yang kau katakan ketika kau tidur di dadaku, kau tidak akan meninggalkanku kan?" Han Xiao terus meracau dengan parau.


Pasukan Penguasa Generasi juga merasakan sedih yang amat dalam, Ruan Jian adalah salah satu permata dari Benua Angin Selatan. Kini gadis itu meninggal, banyak orang yang bersedih atas kepergian gadis tersebut.


"Ruan'er?" Fu Daiyu yang baru saja datang mengerutkan dahinya ketika melihat Han Xiao yang menangis parau seraya memeluk Ruan Jian. Barulah dia menyadari bahwa muridnya itu telah tiada.


Fu Daiyu menatap kosong pada Ruan Jian yang berada dalam pelukan Han Xiao.


Membutuhkan beberapa jam sebelum Han Xiao berhenti menangis dan melepaskan pelukannya pada Ruan Jian, pemuda itu meraup tubuh kaku Ruan Jian dan membawanya menuju Fu Daiyu yang tidak tahu kapan datangnya dan hanya berdiri disana.


"Maafkan aku tidak bisa menjaganya, aku telah membuat dia pergi, jika bukan karena mengkhawatirkanku dan berteriak dia tidak akan menjadi perhatian ******** sialan itu dan meledakan kekuatan dalam tubuhnya, aku..." Serentetan penuh penyesalan Han Xiao segera dihentikan oleh jari Fu Daiyu.


Hidup selama ribuan tahun membuat Fu Daiyu berpikir lebih jernih, jadi dia tidak ingin Han Xiao menyalahkan diri sendiri karena kematian muridnya.


"Tenanglah Han Xiao, pada akhirnya kita semua akan mati, dengan cara berbeda dan waktu yang berbeda, semuanya sudah ditulis dalam buku takdir," ucap Fu Daiyu lalu mengambil tubuh Ruan Jian dari pangkuan Han Xiao.


Ne Zha datang menghampiri mereka berdua lalu mengeluarkan sebuah peti bening dari Cincin Spasialnya, Fu Daiyu mengetahui bahwa Peti ini bukanlah sembarang peti karena sanggup menahan Petir Penyucian.


"Letakan jasad Ruan Jian didalam sana, tubuhnya akan utuh tidak mengalami pembusukan bahkan sampai ratusan juta tahun," jelas Ne Zha.


Han Xiao sesudah memberikan Ruan Jian terus berdiam diri, matanya menatap tubuh Ruan Jian dengan kosong, tiba-tiba sebuah kilat mengerikan terlintas pada matanya, mata Han Xiao seperti mata binatang purba yang bangkit karena amarah.

__ADS_1


Ne Zha yang merasakan perubahan dalam tubuh Han Xiao segera menghela napas, jikapun itu Su Lihwa yang seperti Ruan Jian, maka hal yang sama akan terjadi pada dirinya seperti yang dilakukan oleh Han Xiao.


"Tidak ada perang hari esok, kalian semua akan mati malam ini juga," desis Han Xiao seraya menatap kearah kapal-kapal dari pasukan Benua Api Barat.


"Apa maksudmu Han Xiao?" Fu Daiyu adalah yang terdekat dengan Han Xiao, jadi dia jelas mendengar apa yang didesiskan oleh Han Xiao.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Fu Daiyu, Han Xiao melesat menuju langit, tubuh pemuda itu memancarkan berbagai kekuatan mengerikan, delapan pulau mengerikan melayang diatas kepala Han Xiao.


"Dia akan mengamuk, amarahnya sudah tidak bisa dibendung. Lebih baik kalian menyiapkan diri untuk berperang lagi," jelas Ne Zha lalu melompat keatas langit, tubuh Ne Zha juga memancarkan aura mengerikan. Lima Elemen muncul dan berputar dibelakang punggung Ne Zha, jubahnya juga terbakar dan kini tegantikan oleh sebuah jubah putih bersih.


Penampilan Han Xiao disisi lain kini tampak mengerikan, jubah merah darah menghiasi tubuhnya, Pedang Delapan Kejahatan dengan rakus menelan kekuatan dari Delapan pulau yang melayang diatas kepala Han Xiao.


"Kalian harus merasakan amarahku!" seru Han Xiao nyaring, segera saja Awan Darah keluar dari tubuhnya dan masuk kedalam Pedang Delapan Kejahatan.


***


Update Mingguan : 14/14




Nah Bab reguler mingguan terpenuhi yah:)

__ADS_1


Santuy, Pengetik udah siapin bonus update untuk minggu ini loh(ノ^o^)ノ


__ADS_2