
Ne Zha dan Han Xiao diarahkan oleh Mon Cie dan Shuiyu menuju barat, setelah terbang selama beberapa jam. Shuiyu dan Mon Cie memberi tanda untuk berhenti.
"Dibawah laut ini terdapat sebuah kota, pada umumnya banyak kota bawah laut seperti ini. Itu karena seperti yang kubilang, daratan hanyalah pulau yang sebelumnya kita menginap." Mon Cie mengajak Han Xiao dan Ne Zha masuk kedalam lautan.
Ketika mereka menyentuh air, sungguh luar biasa karena pakaian mereka tidaklah basah, mereka segera muncul di sebuah tempat, lebih tepatnya adalah sebuah rumah judi.
"Jangan bertanya mengapa kita muncul disini, ini adalah rumah judi yang merupakan aset milikku. Akan sulit masuk kota ini jika membawa kalian lewat gerbang utama." Mon Cie memberikan jawaban atas pertanyaan yang belum sempat Han Xiao lontarkan.
"Sudah kubilang bukan? Kita tidak memiliki waktu," ujar Han Xiao.
Mon Cie mengagguk, dia menjelaskan bahwa tempat tersebut berada dibawah bangunan Rumah Judi miliknya ini. Mon Cie juga memberitahu bagaimana dia dan yang lainnya menemukan tempat tersebut.
Sebenarnya Rumah Judi ini dimiliki oleh lima tokoh Manusia, yang mana empat orang lainnya adalah teman Mon Cie, ketika mereka sedang membereskan ruangan. Mereka tidak sengaja menemukan kekuatan yang sangat aneh, ditelusuri lebih jauh, terdapat berbagai ukiran disekitar ruangan tersebut, dari sanalah Mon Cie dan lainnya beranggapan ruangan itu menyimpan Potongan Alat Dewa yang bisa melawan Alat Dewa Kaisar Air.
"Bukankah dari perkataanmu itu, kau masih tidak yakin yang ada didalam sana adalah potongan Alat Dewa?" celetuk Han Xiao.
Mon Cie segera menggelengkan kepalanya, "Aku sangat yakin, karena ruangan itu diselimuti oleh Es Abadi."
"Tunjukan jalannya," ujar Ne Zha.
Mon Cie tidak banyak bicara lagi, dia segera membawa dua pemuda tersebut menuju ruang yang dimaksud.
Memang benar, ruangan itu terdapat pada bawah bangunan, juga perkataan Mon Cie mengenai Es Abadi memang tidak berbohong.
Ketika sampai di ruangan tersebut, Han Xiao dan Ne Zha memeriksa apakah Es yang menyelimuti bebatuan itu adalah Es Abadi atau Es Biasa.
__ADS_1
"Disini memang terdapat aura Alat Dewa," ucap Han Xiao pada Ne Zha melalui telepati.
Mereka berempat sampai di depan sebuah pintu berwarna putih salju, Es yang mengelimuti pintu tersebut sungguh kuat. Han Xiao dan Ne Zha bisa mendeteksi hal tersebut.
"Pintu ini memang membutuhkan Pengorbanan Darah untuk bisa terbuka, tapi pengorbanan itu bukan hanya membuka pintu, tapi memperbaiki alat Dewa yang ada didalam."
Han Xiao setuju dengan spekulasi dari Ne Zha, itu karena pada lapisan Es, Han Xiao bisa melihat berbagai pola dari Rune yang sangat unik dan rumit memenuhi tembok.
"Ini adalah pola delapan Trigram, tempat ini terbentuk secara alami." Han Xiao mengamati lebih jauh dan menyimpulkan beberapa hal.
Setelah cukup untuk melihat-lihat ruangan tersebut, Han Xiao dan Ne Zha meminta Mon Cie untuk membawa mereka pada ruang santai untuk berbincang.
Mon Cie membawa mereka ke lantai tertinggi di Rumah Judi, disana terdapat kamar miliknya.
"Kami akan membicarakan sesuatu terlebih dahulu, kalian bisa menunggu kami dibawah," ujar Han Xiao.
"Yang perlu kita lakukan adalah membuat Rune formasi raksasa untuk menyalurkan pengorbanan ke tempat itu." Ne Zha segera membuka pembicaraan mereka.
Han Xiao mengagguk, dia menanggapi tidak akan sulit baginya untuk membuat Rune Formasi untuk menyalurkan pengorbanan agar diserap oleh Rune yang ada di ruangan Potongan Alat Dewa tersebut. Dengan kekuatannya yang kini berada di Dewa Sejati, Han Xiao mengatakan bahwa dirinya tidak perlu menulis Rune pada target. Hanya tinggal menulis Rune di udara saja dan mengirim transmisi untuk Rune yang ada di ruangan bawah tanah.
"Rune selesai, kini tinggal memancing Ras Jijian untuk menyerbu kota ini." Ne Zha dan Han Xiao mulai membincangkan berbagai cara untuk memancing Ras Jijian.
Berbekal dengan ingatan dari Harimau Suci, mereka berdua mengetahui jelas sifat-sifat dari Ras Jijian. Akan mudah memancing masalah dengan Ras tersebut dibandingkan menyelesaikan dengan cara baik-baik.
"Ras Jijian terdapat diseluruh tempat, di kota ini pasti ada satu markas mereka. Mengingat kita telah membantai ratusan ribu Ras mereka, akan mudah memancingnya jika membuat onar di markas pada kota ini." Han Xiao mengusulkan untuk membuat onar seperti yang biasa dia lakukan.
__ADS_1
Seharusnya nanti Ras Jijian akan datang dengan kekuatan penuh, menurut dari ingatan Harimau Suci. Ras Jijian sangat pendendam, jika mereka gagal menyerang dalam jumlah pasukan besar. Kemungkinan besar keuatan penuh mereka akan dikeluarkan ketika mengetahui musuh mereka bisa membunuh Tetua Ras mereka dengan sangat mudah.
"Kuserahkan tugas merepotkan itu padamu, aku akan menunggu mereka datang saja." Ne Zha tidak biasa membuat onar seperti yang dilakukan oleh Han Xiao, sehingga dia memilih untuk menunggu Ras Jijian datang lalu membantai mereka.
Han Xiao tersenyum riang, "Kau tetaplah Ne Zha bagaimanapun, orang yang sangat hemat bahkan dalam bernapas."
Setelah mengatakan hal tersebut Han Xiao pergi keluar dari kamar tersebut, dia menemui Mon Cie untuk mencaritahu dimana letak markas Ras Jijian di kota bawah laut ini.
Mon Cie yang sedang makan segera tersedak ketika Han Xiao menanyakan markas Ras Jijian, "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Mon Cie penasaran.
"Membuat onar tentu saja, apa lagi?" jawab Han Xiao dengan santai, pemuda itu membutuhkan beberapa saat sebelum Shuiyu memutuskan untuk mengantarkannya ke markas Ras Jijian.
Han Xiao juga memberikan saran agar semua orang pergi sejauh mungkin dari kota bawah laut ini dalam waktu dekat, dia juga memberitahu bahwa rencananya membuat onar di markas Ras Jijian untuk memancing Ras Jijian datang kemari.
"Apakah kau gila?!" Mon Cie berseru tidak percaya ketika mendengar Han Xiao ingin menjadikan kota bawah laut ini sebagai medan perang.
"Aku memang gila, tapi ada baiknya kau menuruti saranku." Tidak banyak bicara lagi Han Xiao meminta Shuiyu untuk memimpinnya menuju markas Ras Jijian di kota bawah laut ini.
Mon Cie tertegun sejenak, walaupun terdengar gila, tapi pada akhirnya dia mengikuti saran dari Han Xiao, dia segera memerintahkan orang-orangnya untuk mentup Rumah Judi dan menyuruh anak buahnya pergi dari Kota Bawah Laut ini untuk berpindah sementara ke Kota lain.
Banyak anak buahnya yang bingung, tapi mereka tidak bisa menentang keputusan dari Mon Cie sehingga menuruti arahan Mon Cie untuk pindah kota sementara walaupun bingung.
***
Update Mingguan : 14/14
__ADS_1
Update Merdeka : 64/75