
"Tidak kusangka, kau masih perawan," kekeh Han Xiao seraya menatap langit-langit kamar, tangan pemuda itu bergerak untuk mengelus rambut gadis yang menyandar pada dadanya.
"Apa katamu?!" pekik Xian Chin.
"Kau masih perawan, apa lagi? Sungguh tidak menyangka kau berbohong tentang melakukan hal itu dengan pria lain sebelum denganku." Han Xiao berkata dengan nada mengejek yang sangat mengesalkan bagi Xian Chin.
"Aduh!" Han Xiao mengaduh kesakitan ketika dadanya dihantam oleh tangan Xian Chin.
Mulut Han Xiao terbungkam ketika mendak melancarkan protesnya karena melihat tatapan tajam dari Xian Chin, dengan ngeri-ngeri Han Xiao tersenyum canggung.
Dengan tangan yang terangkat keatas, lalu mengelus lembut pucuk kepala Xian Chin, dia berkata dengan nada yang lembut, "Baiklah, aku tidak akan membahas hal itu lagi, aku tidak memprotes hal itu, justru hal yang sangat baik untukku. Di luaran sana pasti banyak yang sangat mengagumimu dan ingin menyentuh hanya sehelai rambutmu saja sulit, tapi diriku? Ah betapa indahnya takdir ini." Han Xiao menarik secara lembut kepala Xian Chin untuk mendekat pada wajahnya.
"Aku akan belajar mencintaimu," bisik Han Xiao.
Wajah Xian Chin menjadi merah padam, Han Xiao tersenyum menyangka bahwa Xian Chin tengah terpesona oleh kata-katanya, tapi kenyataan berkata lain.
Xian Chin memukul dada Han Xiao kembali, "Belajar mencintaiku huh? Lalu apa yang kau lakukan tadi? Bukankah kita baru saja bercinta?!" pekik Xian Chin.
"EH?" Han Xiao mendadak bingung, tapi segera saja sebuah senyum tercetak indah pada bibirnya, Xian Chin. Biarpun telah hidup lama, tapi terlihat sangat jelas bahwa gadis itu sangat tidak memiliki pengalaman soal cinta, sehingga hanya kata kecil Han Xiao tadi membuatnya meledak karena tidak memahaminya.
Tangan Han Xiao bergerak untuk menyibak rambut Xian Chin pada telinga gadis tersebut, senyum lembut tercetak pada bibir Han Xiao, "Kau seharusnya tahu apa isi hatiku, sulit bagiku untuk mencintai seseorang. Selama hidupku, baru ada tiga perempuan yang sungguh menyentuh bagian terdalam dari hatiku."
Xian Chin menatap Han Xiao dengan pipi yang menggembung kesal, apa yang dikatakan oleh Han Xiao benar apa adanya. Dia bisa dengan mudah melihat isi hati Han Xiao karena memiliki kontrak hati dengan pemuda tersebut, hatinya sedikit melunak karena mengetahui dirinya adalah salah satu dari tiga perempuan yang dimaksud oleh Han Xiao.
__ADS_1
"Kau... Apakah sudah merelakan Ruan Jian yang pergi?" tanya Xian Chin.
Pandangan Han Xiao segera menjadi kosong dalam sekejap, namun dengan cepat kembali menjadi hangat. Pemuda itu tersenyum lembut kearah Xian Chin.
Dengan helaan nafas, Han Xiao mulai menjawab, "Awalnya aku sangat berharap untuk membangkitkannya dengan bantuanmu, tapi..." Han Xiao tidak melanjutkan perkataannya karena Xian Chin meletekan jarinya pada mulut Han Xiao.
Tangan Xian Chin bergerak untuk memeluk Han Xiao dan kembali menyandarkan kepalanya pada dada pemuda tersebut seperti sebelumnya, "Aku bisa saja membangkitkan Ruan Jian, tidak. Lebih tepatnya, kini dia sudah kembali hidup, hanya saja berada di suatu tempat sedang menaikan kekuatannya."
Han Xiao reflek bangkit dan memegang kedua bahu Xian Chin, "Kau serius dengan perkataanmu Chin?" tanya Han Xiao dengan sangat khawatir.
"Aku tidak bercanda, tapi kau jangan memaksa untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat, karena kau akan kecewa," jawab Xian Chin.
"Kecewa?" Han Xiao bingung dengan kata terakhir dari Xian Chin.
Xian Chin mengangguk ringan, tangannya bergerak untuk menggenggam tangan Han Xiao yang berada di bahunya, "Seperti yang kau tahu, proses reinkarnasi akan membuat ingatan tersegel. Aku bisa saja membuka segel tersebut, tapi itu akan berdampak buruk pada Ruan Jian," tutur Xian Chin seraya kembali menyuruh Han Xiao berbaring dengannya bersantai.
"Kau berkata seperti itu untuk perempuan yang sedang jauh denganmu, bagaimana denganku. Apakah kau akan melindungiku dengan nyawamu?" cetus Xian Chin sedikit kesal.
Han Xiao menggaruk hidungnya, "Sebenarnya aku ragu apakah bisa melindungimu yang bahkan orang terkuat dari seratus Kaisar, tapi untuk orang yang sangat tulus padaku, aku akan melakukan hal tersebut," sahut Han Xiao dengan percaya diri ketika mengatakan kalimat akhirnya.
"Benarkah?" Xian Chin menatap Han Xiao dengan tatapan menyelidik.
"Tentu saja!"
__ADS_1
"Sudahlah, aku akan segera memasuki kultivasi tertutup, kau memiliki waktu dua ratus tahun sebelum masuk ke Menara Tianxia," ucap Xian Chin.
"Dua ratus tahun?" Han Xiao melongo ketika mendengar waktu yang sangat banyak tersebut.
Xian Chin menjelaskan hal yang sama seperti Xian Xuenai pada Feng Jin mengenai waktu yang dimanipulasi pada Istana Xian Chin.
"Para Kaisar mewakili satu unsur, aku adalah pemilik Unsur Waktu, tentu saja aku memiliki unsur lain yang aku kultivasi, tapi itu tidak setinggi Unsur Waktu yang kumiliki," terang Xian Chin.
"Bukankah jika begitu, Ne Zha adalah makhluk paling mengerikan? Dia memiliki Lima Elemen Utama dan Waktu," ujar Han Xiao.
Xian Chin terkekeh, "Kalian berdua adalah makhluk mengerikan jika berlatih dalam dua ratus tahun ini, maka dari itu berkultivasi dengan keras, dengan begitu kau akan memiliki kekuatan untuk melindungiku, aku membutuhkan waktu paling sedikit tiga ratus juta tahun, dengan artian aku hanya akan keluar setelah tiga juta tahun dalam waktu diluar Istanaku dalam waktu itu kita tidak bisa bertemu." Xian Chin menutup perkataannya dengan nada yang sedikit enggan.
"Ini semua demi kebaikanmu, tentu saja untuk kebaikan kita juga. Tiga Juta tahun? Aku akan menunggumu dan menjagamu sampai kau keluar dari kultivasi tertutupmu, juga jangan risau, aku pasti akan membuat perhitungan dengan para Kaisar sialan itu karena telah menindas Istriku!" ucap Han Xiao seraya menyentuh dagu Xian Chin dan mendekatkan wajah gadis itu dengan wajahnya.
Han Xiao mendaratkan sebuah ciuman yang sangat lembut pada bibir indah Xian Chin, gadis itu tidak melawan, justru melingkarkan tangannya pada leher Han Xiao dan membalas ciuman lembut Han Xiao. Setidaknya ini akan melepaskan sedikit rindunya yang terus bergejolak selama milyaran tahun.
Pertautan panas itu terlepas setelah beberapa saat, kedua insan itu menarik napas panjang lalu saling memandang ditemani senyum lembut dan mata penuh cinta mereka.
"Sebelum kau benar-benar berkultivasi tertutup, aku ingin melakukannya untuk terakhir kali denganmu," bisik Han Xiao dengan nada sensual yang tidak disembunyikan sama sekali.
"Kau!" Xian Chin memukul dada Han Xiao dengan kesal.
***
__ADS_1
Update Mingguan : 14/14
Update Merdeka : 52/75