
BAM!!!
Bing Xing berhasil membanting Fan Meirong dengan tebasan Sabit Dingin yang dibalut dengan Api Cinta, tidak ada sedikitpun tahanan pada dirinya. Fan Meirong berada di ranah Dewa Raja puncak, tetapi Bing Xing sudah mencapai Alam Raja Abadi, kekuatan penuh tanpa penahanan dari Bing Xing langsung membuat Fan Meirong terhmepas dan mengalami luka yang berat.
Sayatan besar tercetak pada tubuh indah Fan Meirong, mata Fan Meirong menjadi sangat marah dan bingung, karena dia tidak mengenali gadis di hadapannya. Namun, dalam sekejap kemudian dia segera tersadar akan Sabit Dingin.
"Bing Xing?"
BAM!!!
Bing Xing benar-benar sengit, dia tidak memberikan Fan Meirong bahkan waktu untuk bernapas, serangan bertubi-tubi dia lepaskan lagi pada Fan Meirong.
BAM!!!
BDAM!!!
CRACK!!!
Serangkaian ledakan, bantingan serta bunyi patah tulang mengisi tempat tersebut, Fan Meirong. Yang sebelumnya memiliki pemandangan indah kini harus terpuruk hingga bahkan sulit dikenali. Bing Xing tidak mengenali ampun pada seseorang yang telah membuat belahan hatinya terpuruk.
"Cukup Xing!" Pada saat Bing Xing hendak memotong kepala Fan Meirong yang terbaring lemah tidak berdaya, sebuah seruan rendah terdengar.
Fan Meirong segera mengalihkan pandangannya pada asal suara, dia menghela napas ketika dirinya berhasil selamat dari maut. Walaupun kini kondisinya sangat buruk.
"Ada apa Zha? Bukankah kau juga ingin dia mati? Aku akan membunuhnya!" Bing Xing menempelkan Sabit Dingin pada leher Fan Meirong.
Tubuh Fan Meirong mematung, dia menyangka akan lolos dari maut, tetapi siapa sangka orang yang datang kali ini juga menginginkan nyawanya. Leher Fan Meirong yang ditempel Sabit Dingin terasa membeku oleh aura yang dilepaskan Sabit Dingin.
"Tenanglah." Ne Zha menyentuh bahu Bing Xing.
Bing Xing mau tidak mau mengikuti perkataan Ne Zha, matanya menatap sangat tajam pada Fan Meirong.
Fan Meirong sendiri merasakan sangat berbahaya ketika ditatap oleh mata hitam legam yang sangat dingin dari Ne Zha.
"Kau akan mati, tapi tidak sekarang." Ne Zha melambaikan tangannya dan Fan Meirong segera menghilang, dia mengirim Fan Meirong ke Alam Nirwana Api.
Ne Zha memang sangat ingin membunuh Fan Meirong, tetapi mengingat kepribadian Han Xiao. Dia lebih baik menyimpan Fan Meirong dan menyerahkan langsung pada Han Xiao nanti.
__ADS_1
"Ayo kita menuju pantai," ujar Ne Zha lalu melesat, saat ini mereka sangat jauh dari pantai, Ne Zha ingin bertemu dengan Su Lihwa, dengan begitu dia memilih untuk mengikuti saran dari Qin untuk menuju pantai dalam waktu dekat ini.
***
BAAAAAM!!!
BOOOOOM!!!
DUUUUUAAM!!!
Suara hantaman menggema di mana-mana pada Hutan Tulang, seekor Kera Raksasa dan Manusia saling bertukar pukul.
Darah sudah mengalir pada tubuh mereka berdua, tidak diketahui itu darah sang Kera atau pemuda berambut biru yang tak lain adalah Han Xiao.
"AYOOO LAAAGIII!!!" Han Xiao berseru lalu melakukan putaran kedepan seraya melepaskan tendangan untuk menghantam kepala Kong kebawah.
BAAAAAAM!!!
Kong kini telat bereaksi, dia tidak menyangka Han Xiao akan melakukan tindakan sembrono seperti itu. Kepala Kong serta tubuhnya segera terhantam kebawah tanah berkat tendangan Han Xiao.
Tidak sampai disana, Han Xiao juga melepaskan Tinju dari ketinggian untuk menghantam tubuh Kong.
Sekali lagi Kong terkena telak oleh pukulan Han Xiao, senyum puas tercetak pada bibir Han Xiao. Biarpun kini wajahnya dipenuhi darah serta lebam ungu. Namun, pertarungan fisik dengan Kong sungguh luar biasa.
Kong bangkit dari posisinya, Kera raksasa itu kini terduduk. Kondisinya tidak kalah mengerikan dari Han Xiao, wajah kera itu juga terdapat benjolan lebam, tetapi tidak ada kemarahan pada wajah Kong. Justru kera raksasa itu tertawa lantang.
BAM!
Tubuh Kong rubuh ke belakang yang membuatnya terkapar menghadap ke langit, Han Xiao tertawa melihat dirinya berhasil berdiri hingga terakhir.
"Jangan sombong nak." Kong menyentuh Han Xiao.
Dug...
Pada saat itu juga tubuh Han Xiao ambruk ikut terkapar disamping Kong, keduanya tertawa bersamaan.
Pertarungan ini sudah berjalan hingga satu tahun penuh, pertarungan mereka begitu sengit, hingga membuat Hutan Tulang hancur berantakan. Bahkan Monster-Monster disekitar harus menjauh dari medan pertempuran keduanya.
__ADS_1
"Kau sungguh pantas dengan namamu, aku tidak bisa membayangkan jika kau menggunakan Qi dan Unsur dalam pertarungan ini," ujar Kong dengan tubuh yang tetap berbaring.
Han Xiao tertawa kecil, "Jika seluruh Qi dalam diriku penuh, aku bisa mengalahkanmu kurang dari sepuluh gerakan, itu hanya beberapa detik. Tidak perlu bagiku bertarung hingga satu tahun bersamamu," sahut Han Xiao.
Kong mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu kau tidak memiliki Qi saat ini?"
"Tentu saja, jika aku punya. Mengapa harus membuang banyak waktu di sini?" Han Xiao menjawab dengan gamblang.
Dalam satu tahun ini, walaupun mereka bertarung, tetapi hubungan mereka menjadi semakin dekat. Han Xiao merasakan Kong tidak memiliki niat buruk apapun, justru sebaliknya. Ada sebuah rasa kagum dari Kong padanya.
"Jadi itu masalahnya kau menantangku bertarung dengan Kekuatan Fisik saja," balas Kong dengan santai.
"Kapan kau akan membuka Pintu ke lantai dua?" tanya Han Xiao.
"Setelah lukamu membaik, di lantai dua kau akan membutuhkan kekuatan yang baik," jawab Kong.
Han Xiao mengangguk ringan, dengan pemulihan Tubuh Kematian, Han Xiao hanya butuh beberapa menit hingga tubuhnya kembali normal seperti sebelumnya, tidak ada lebam ataupun luka pada dirinya, hanya tersisa darah yang berlumur di tubuhnya.
Han Xiao mengambil posisi berkultivasi dan mencoba untuk mengumpulkan Qi, sebuah senyum cemerlang tercetak ketika dirinya berhasil mengumpulkan lebih banyak Qi daripada sebelumnya. Sebelumnya dia hanya mengumpulkan setetes, tetapi kini dia berhasil mendapatkan beberapa tetes.
Namun sayang, Han Xiao tidak bisa mengumpulkan itu lebih jauh. Karena tidak bisa mengumpulkan Qi lagi, Han Xiao meminta Kong untuk membuka pintu menuju Lantai dua. Dia ingin segera bertemu dengan Ne Zha dan mengisi Dantiannya.
Kong segera mengikuti permintaan Han Xiao, setelah membuka Pintu menuju Lantai Dua. Tubuh Kong tiba-tiba menyusut hingga seukuran Kera biasa. Nyaris mirip dengan Po Houzi, hanya saja Kong memiliki bulu Hitam.
"Eh kenapa kau berdiri di pundakku?" Han Xiao bertanya heran.
"Mengikutimu tentu saja, sebuah kehormatan bisa mengikuti orang yang kuat sepertimu," jawab Kong dengan santai.
Han Xiao menggaruk kepalanya, tetapi tidak ambil pusing. Toh, hal baik juga memiliki pengikut Monster tingkat 21 yang setara dengan Kultivato Kaisar.
Tidak membuang waktu lagi Han Xiao segera melangkahkan kakinya masuk kedalam pintu lantai dua.
Dalam sekejap Han Xiao berpindah, seluruh yang dia rasakan lebih baik dari lantai pertama.
Sama seperti Ne Zha dan lainnya sebelumnya, Han Xiao dibingungkan dengan adanya kota didepannya, tetapi Han Xiao tidak perduli dan segera masuk kedalam Kota tersebut.
***
__ADS_1
Update Mingguan : 13/14