Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab239. Sungguh lucu


__ADS_3

"Siapa? Apakah Ne Zha?" Han Xiao hanya berpikiran seperti itu, mungkin Ne Zha yang memberikan ide untuk menjodohkan dirinya dengan Bing Xing. Itu karena Ne Zha adalah orang terdekatnya.


"Bukan," balas Matriark Bing.


"Astaga Matriark Bing, berhenti bermain tebak-tebakan," ujar Han Xiao dengan gemas.


Matriark Bing tertawa kecil, "Baiklah aku tidak akan menggodamu lagi, ini adalah permintaan dari Ibumu Zi Yao."


Deg...


Han Xiao segera terdiam, dia yakin di Benua Angin Selatan ini tidaklah banyak yang mengenal ibunya, tapi kenapa Matriark Bing mengetahuinya? Han Xiao masih memaklumi untuk Mo Qing yang mengetahui Zi Yao ibunya karena keduanya datang dari Benua Kayu Tengah.


"Kau pikir Ibumu akan tenang meninggalkan kalian pada Kaisar Yang Qian dan Patriark Hong saja? Banyak langkah yang dia ambil, tapi aku yakin di Benua Angin Selatan ini, hanya beberapa orang saja yang mengetahui ibumu, salah satunya adalah aku," terang Matriark Bing.


"Lalu apa maksudnya dengan perjodohan ini?" tanya Han Xiao heran.


Matriark Bing mengangkat bahunya ringan, "Aku tidak mengetahuinya, tapi saat pertemuan kedua yang juga pertemuan terakhir aku dan Zi Yao, dia memberikan arahan untuk menjodohkan keturunanku jika sesuatu terjadi padamu, Zi Yao mengatakan keturunanku akan memperbaiki luka yang mengaga dalam hatimu," jawab Matriark Bing dengan santai.


Han Xiao terdiam mendapatkan jawaban tersebut, apakah semua ini sudah diatur oleh Zi Yao? Tentang dia kehilangan Ruan Jian sekalipun? Han Xiao tiba-tiba merasakan marah dalam hatinya, "Hidupku sudah diatur? Sungguh lucu kau Ibu," batin Han Xiao dengan kesal.


Suasana canggung membentang seketika, udara didalam ruangan itu seolah menipis dan habis hingga menyesakkan dada, Han Xiao menatap keatas langit-langit ruangan. Pemuda itu menghela napas panjang sebelum menatap Matriark Bing.


Ketika hendak saja Han Xiao menjawab, rambut Matriak Bing yang tadinya akan jatuh menjuntai tiba-tiba berhenti bergerak, pun suara-suara sudah tidak Han Xiao dengarkan. Ini kali ketiga dirinya mengalami ini, pemberhentian waktu!

__ADS_1


"Janganlah marah," suara Xian Xuenai masuk kedalam indra pendengaran Han Xiao.


Gadis itu masuk kedalam ruangan lalu menutup pintu dengan perlahan, dia duduk disamping Han Xiao lalu menarik agar pandangan pemuda itu terarah pada dirinya.


"Zi Yao tidak merencanakan hidupmu untuk diatur, tapi dia merencanakan berbagai penanganan dari berbagai skenario terburuk untuk hidupmu dan Ne Zha, dia bahkan memikirkan untuk menjaga hatimu, Ne Zha mungkin saat ini tengah senang karena dia tidak mengalami skenario terburuk seperti dirimu. Kau tahu, jika Su Lihwa mati di medan perang bersama Ruan Jian, maka akulah yang harus mengobatinya," ucap Xian Xuenai dengan santaim namun ada sebuah rasa pahit dalam kalimat akhirnya.


"Bing Xing disiapkan oleh Zi Yao untuk mengobati hatimu jika terluka, mungkin terdengar kejam karena dia seperti hanya digunakan sebagai obat saja, jika dibutuhkan dia digunakan jika tidak maka dibiarkan. Aku tidak berharap bahwa Ruan Jian akan mati, saat itu aku tidak memperhatikannya karena aku berpikir dia hanya sebagian dari mainanmu seperti Bi Jiao," celetuk Xian Xuenai membuat Han Xiao semakin terdiam.


"Jika aku tahu kau sudah menempatkan hati padanya..." Xian Xuenai segera menghentikan perkataanya, dia tidak ingin melanjutkan perkataan tersebut karena akan menohok pada Han Xiao.


"Sudahlah aku tidak memerlukan penjelasan darimu, setidaknya sekarang aku tahu hidupku tidaklah diatur seperti sebuah robot yang direncanakan. Kau pergi keluar saja, jalankan lagi aliran waktu ini," ucap Han Xiao dengan nada yang datar.


Xian Xuenai tersenyum penuh ironi pada Han Xiao, gadis itu memberikan kecupan ringan pada dahi Han Xiao sebelum bangkit dari duduknya, "Umur kita terpaut jutaan tahun, sedikit geli saat aku menyebutmu kakak ipar," kekeh Xian Xuenai.


Han Xiao tertawa menanggapi Xian Xuenai, memang benar apa yang dikatakan oleh Xiaan Xuenai, umur mereka terpaut jutaan tahun. Bahkan Han Xiao sendiri merasakan geli ketika harus menjadi Abang dari gadis tersebut.


Xian Xuenai pergi melenggang dari ruangan dan menutup pintu kembali, sekepergian Xian Xuenai aliran waktu kembali menjadi normal, Matriark Bing tidak merasakan apapun yang aneh, sehingga dia masih tersenyum kearah Han Xiao.


"Biarkan waktu yang menjawab, Matriark Bing. Aku pamit terlebih dahulu, aku ingin segera sampai di Akademi untuk membantu persiapan pernikahan Ne Zha dan Su Lihwa," ucap Han Xiao dengan naa yang sopan, biarpun di dunia ini kekuatan adalah segalanya, namun Han Xiao memiliki kebiasaan untuk menghormati orang yang patut dihormati baginya.


Senyum Matriark Bing tidak pernah lepas dari wajah cantiknya, wanita itu mengangguk lalu bangkit dari duduknya, "Ayo biar kuantar menuju dek," ajak Matriark Bing.


Han Xiao mengangguk lalu tersenyum riang seperti biasanya, "Ayo!"

__ADS_1


***


Selepas dari singgahan ke kapal Istana Falcon utara, Han Xiao mengendari Kuai You Shengqi dengan sangat cepat, dia bahkan tidak tanggung untuk menggunakan tujuh puluh persen dari kecepatan Kuai You Shengqi.


Kabin didalam Kuai You Shengqi tetap normal dan tenang, bahkan tidak merasakan guncangan apapun dalam kecepatan yang jika dibandingkan dengan Jet perang di dunia Han Xiao dulu mungkin ratusan kali lipatnya.


Dalam beberapa jam saja Han Xiao sudah sampai di daerah Longfeng lalu mendarat didepan gerbang Akademi.


Pemuda itu menatap penuh senyum ketika melihat plkat besar yang terpasang pada gerbang utama Akademi, nama Su Lihwa dan Ne Zha menghiasi disana.


"Dalam beberpa hari lagi pernikahan mereka dimulai namun dekorasi sudah memenuhi Akademi, sepertinya dua Presiden bahkan lebih antusias," batin Han Xiao seraya menggelengkan kepalanya ringan.


Han xiao bersama Bing Xing, Xian Xuenai, Mo Qing, Ou Ke dan Ni Cang masuk kedalam Akademi. Kedatangan mereka membuat keramaian, namun berkat kemunculan Dekan Li semua murid menyingkir sehingga memberikan akses jalan pada Han Xiao dan lainnya menjadi mudah.


"Bagaimana kabar anda Pangeran Han?" tanya Dekan Li dengan ramah.


"Aku baik-baik saja, terimakasih Dekan Li. Bagaimana dengan kabarmu sendiri?" tanya Han Xiao.


"Aku juga baik," jawab Dekan Li lalu tertawa.


Dekan Li mengantar mereka hingga masuk kedalam ruangan Han Xiao dan Ne Zha yang berada di lantai teratas. Setelah mengantar Han Xiao dan lainnya, Dekan Li pamit pergi untuk mengajak kelas A.


Update Mingguan : 06/14

__ADS_1


Update Merdeka : 05/75


__ADS_2