Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab237. Panas


__ADS_3

Han Xiao dan lainnya sampai di Kota Laut Es lebih cepat dari sebelumnya ketika mereka melakukan perjalanan menuju Pulau Es Menyendiri. Sesampainya disana Han Xiao tidak ke Penginapan Es Abadi, tapi dia datang ke rumah Mo Qing untuk menjemput Ou Ke.


"Apakah aku bisa pergi mengajak Ni Cang?" tanya Ou Ke dengan ragu, dia sungguh tidak ingin berpisah dengan Ni Cang, juga terutama karena Ni Cang hidup sendirian tanpa ada ibu ataupun ayahnya.


"I-ini..." Mo Qing sedikit bimbang karena dia tidak memiliki wewenang dalam mengajak orang lain selain anaknya untuk berpindah ke Akademi Naga dan Phoenix. Dia menatap Han Xiao untuk mempertanyakan apakah hal itu boleh atau tidak.


"Tentu saja, dia adalah sahabatmu, sulit menemukan sahabat yang benar-benar akan terus bersamamu," jawab Han Xiao dengan riang.


"Terimakasih!" Ou Ke segera berhambur memeluk Han Xiao penuh senang.


Pemuda itu tersenyum kecil, "Sudahlah jangan terlalu berlebihan, ayo bersiap kita akan berangkat secepat mungkin," ujar Han Xiao.


***


Ne Zha menghela napas penuh kelegaan ketika melihat kini sudah ada dua belas Istana Takdir kecil yang mengelilingi tubuh Ren Yanyu, matanya menunjukan sebuah kelembutan yang teramat sangat ketika melihat wajah Ren Yanyu yang damai terdiam.


"Jika kau benar reinkarnasi dari Leyra, apakah ingatan Leyra masih ada dan bangkit suatu hari nanti?" gumam Ne Zha seraya terus mengawasi Ren Yanyu agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Ne Zha memilih untuk tidak memikirkan hal lain, dia lebih baik memfokuskan dirinya untuk memperhatikan Ren Yanyu dan memindai masalah sekecil apapun pada gadis tersebut.


Satu hari kemudian terbang keluar dari Istana Takdir lagi dari Meridian Neigong milik Ren Yanyu, kini ada total tiga belas Istana Takdir, sisa dua Istana Takdir lagi untuk gadis itu melangkah ke Alam Ekspansi Istana memiliki Istana Dao.


Pintu kamar tiba-tiba diketuk, Ne Zha mengetahui itu adalah Su Lihwa, Ne Zha membiarkan Su Lihwa masuk kedalam kamarnya.


Ketika masuk kedalam kamar, Su Lihwa sempat terkejut ketika melihat Ren Yanyu yang kini tengah dikelilingi oleh tiga belas Istana Takdir, dia mengetahui bahwa Ne Zha akan membimbing Ren Yanyu untuk menjadi sangat kuat, namun dia tidak pernah menyangka Ren Yanyu akan membentuk lebih dari sepuluh Istana Takdir dalam waktu dekat, mengingat dirinya saja membutuhkan satu bulan lebih untuk membentuk Istana Takdirnya agar mendapatkan Istana Surga.


"Dia sangat hebat!" seru Su Lihwa rendah agar tidak mengganggu Ren Yanyu.

__ADS_1


Ne Zha mengangguk lalu tersenyum penuh kasih pada Su Lihwa, "Bakatnya sangat mengerikan, jangan berkecil hati, kau berhasil membentuk sepuluh Istana Takdir itu sudah sangat mengagumkan," ucap Ne Zha seraya menarik Su Lihwa kedalam pangkuannya.


"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kita?" tanya Ne Zha.


"Aku sudah menyebar undangan kemarin, ada kemungkinan saat ini semua orang yang diundang sedang dalam perjalanan kemari, mengingat waktu tempuh pastilah begitu," jawab Su Lihwa, dia mengirim undangan lewat layar Proyeksi Akademi atas saran dari Presiden Wanpi, layar proyeksi yang sebelumnya digunakan untuk menonton Pertandingan Keajaiban digunakan oleh Su Lihwa untuk menyebarkan undangannya.


"Ada kabar dari Han Xiao?" tanya Ne Zha, sebenarnya dia merasa tidak enak pada sahabatnya, dia melangsungkan pernikahan sedangkan sahabatnya itu baru saja kehilangan seseorang yang penting baginya. Jika bukan karena paksaan dari Han Xiao maka dia akan berpikir dua kali untuk menjalankan pernikahan ini.


Su Lihwa menggelengkan kepalanya, "Tidak ada kabar apapun darinya," jawabnya.


Ne Zha mengangguk ringan dia menebak bahwa Han Xiao masih berada di Pulau Es Menyendiri untuk mengambil barang miliknya.


"Jika ada kabar darinya, secepatnya beritahu aku. Baiklah kau lebih baik beristirahat, maafkan aku karena tidak bisa membantumu mengurus persiapan pernikahan ini," ucap Ne Zha dengan lembut.


Su Lihwa mengangguk paham, sebuah senyum tiba-tiba terurai pada bibirnya, "Aku tidak memaafkanmu, kau harus melakukan sesuatu agar aku memaafkanmu."


Su Lihwa mengelus pipinya dengan lembut lalu menepuknya pelan, "Cium aku," jawabnya.


Ne Zha terdiam ketika mendapatkan jawaban dari Su Lihwa, "Hwa'er..."


"Baiklah jika kau tidak ingin dimaafkan, aku akan marah padamu!" ketus Su Lihwa lalu beranjak dari pangkuan Ne Zha.


Ne Zha segera meraih tangan Su Lihwa, dia menariknya lalu memegangi tengkuk Su Lihwa, Ne Zha menghadiahi sebuah kecupan ringan pada pipi Su Lihwa.


Gadis itu terkesiap, pipinya memerah merasakan senyar panas yang dikirim oleh Ne Zha lewat kecupan seringan jaring laba-laba tersebut.


"Kau sangat tidak tulus," ujar Su Lihwa.

__ADS_1


Ne Zha mengerutkan dahinya, "Bagaimana ciuman yang tulus?" tanyanya polos, sungguh Ne Zha tidak memahami hal yang dikatakan oleh Su Lihwa. Dia sangat minim pengalaman intim bersama gadis.


Su Lihwa tersenyum lalu dengan segera menarik tengkuk Ne Zha dan mencium bibir pemuda itu tanpa malu, tubuh Ne Zha membeku terkejut, dia merasakan rasa yang manis dari bibir Su Lihwa yang bertautan dengan bibirnya.


Pemuda itu tanpa sadar mengecap bibir Su Lihwa, hal itu membuat Su Lihwa menyangka bahwa Ne Zha memulai aksinya. Gadis itu menciumi dengan puas Ne Zha sebelum memisahkan diri.


Napas kedua insan itu memburu ketika mereka saling berpisah, wajah Su Lihwa sudah merah padam, dia segera memalingkan wajahnya dan berpamitan pergi.


Ketika pintu tertutup barulah Ne Zha sadar dari kekalutannya, "Sialan ini nikmat, pantas Han Xiao seperti itu," batin Ne Zha seraya menyentuh bibirnya yang tadi bertautan secara panas dengan Su Lihwa.


Tiba-tiba sebuah cahaya mengintrupsi fokus Ne Zha, dia segera teringat pada Ren Yanyu. Pemuda itu mengutuk dirinya ketika lupa pada tugas utamanya disini, Ne Zha memeriksa keadaan Ren Yanyu lalu menghela napas lega.


"Cahaya yang terpancar dari tubuhnya ini menandakan dia telah membuka Istana Takdir keempat belas," gumam Ne Zha dengan senang, setidaknya jika Ren Yanyu gagal membuka Istana Takdir kelima belas, gadis itu akan memiliki kekuatan yang sangat mengerikan walaupun tidak memiliki kekuatan Mutlak.


Tapi tentu saja Ne Zha mengharapkan bahwa Ren Yanyu sanggup membuka Istana Takdir kelima belas agar memiliki kekuatan Mutlak dan menambah presentasi ketenangan hati Ne Zha dimasa depan.


Benar saja, beberapa menit kemudian, sebuah Istana Takdir kecil terbang keluar dari Meridian Neigong milik Ren Yanyu dan ikut berputar bersama Istana Takdir lainnya.


"Berjuanglah, aku yakin kau bisa melakukannya," ucap Ne Zha seraya menatap penuh harapan pada Ren Yanyu.


Ne Zha segera menyusun rencana untuk melawan Ras Iblis nanti di Benua Kayu Tengah.


***


Update Mingguan : 04/14


Update Merdeka : 05/75

__ADS_1


__ADS_2