
Pesta itu berlangsung dalam waktu singkat saja, Han Xiao dan Ne Zha tidak banyak berniat membuang waktu, mereka akan menggunakan waktu dengan sangat baik untuk emngurus urusan yang sangat penting bagi mereka. Permasalahan pelindung Lima Benua dari Tanah Suci Beladiri telah selesai, kini hanya tersisa masalah internal kecil saja, setelah itu mereka bisa benar-benar berangkat dengan tenang menuju Alam Abadi.
Kaisar Yang Qian sedikit banyaknya telah mengetahui bahwa dua pemuda itu mengemban beban yang sangat berat, sehingga tidak ingin menambah beban mereka, disisi lain Permaisuri An yang sebelumnya berlawanan dengan Han Xiao kini sudah menjadi sangat tunduk, tidak ada lagi rasa ingin melawan atau mengusir ketika bertemu dengan Han Xiao, justru ada sebuah teror pada matanya.
Tapi itu tidak membuat Han Xiao tenang tentu saja, pada saat dia mendapatkan kesempatan, pemuda itu membawa Permaisuri An menuju tempat dan memberikannya pada Ratu Ular Selatan, Han Xiao memiliki firasat yang tajam jika menyangkut seorang pengkhianat, bisa-bisa saja di suatu hari nanti Permaisuri An melakukan pembelotan dengan Tanah Suci Beladiri.
Sampai tiba pada saat yang sangat dinantikan, seluruh persiapan telah selesai, masalah internal juga sudah selesai.
Begitu pula dengan Su Lihwa yang tidak bisa lepas dari Ne Zha akhirnya dengan enggan melepaskan Ne Zha untuk pergi ke Alam Abadi.
Kini Han Xiao, Ne Zha, Feng Jin telah siap untuk berangkat menuju Alam Abadi!
"Han, ada yang ingin kubicarakan denganmu," Chang Yue menghampiri Han Xiao yang tengah bersantai ditemani secangkir teh dan satu piring penuh kue buatan Feng Jin.
"Bicaralah," sahut Han Xiao ditemani senyum riang khasnya.
Chang Yue terlihat sedikit bimbang, tapi setelah beberapa saat dia segera mengeluarkan kata yang sudah dia susun sedemikian rupa untuk Han Xiao.
Sangat singkat namun padat, Chang Yue mengatakan bahwa dirinya ingin mengikuti Han Xiao ke Alam Abadi, dia tidak memiliki siapapun lagi di Lima Benua jika tidka ada Han Xiao, biarpun dia mengenal Xiao Jiang dan Xiao Wushuang, dulu mereka selalu berseteru, dan kini biarpun sudah berbaikan, tetap saja Chang Yue masih tidak bisa dekat dengan dua kakak beradik itu.
"Hanya kau satu-satunya rumah bagiku," ujar Chang Yue seraya menatap pada Han Xiao.
Han Xiao segera terdiam, dia sempat memiliki pemikiran untuk membawa Chang Yue ke Alam Abadi, namun segera dia menepisnya karena dia masih belum mengetahui seberapa bahaya Alam Abadi, meskipun nanti mereka akan datang langsung ke tempat Xian Chin. Yang pasti keadaan di Alam Abadi akan berada diluar nalar kepala bahkan nalar orang gila.
"Tidak bisa," ujar Han Xiao.
"Kenapa?! Aku bisa hanya diam di Pagoda Mimpi Buruk, dengan begitu aku tidak akan menjadi beban bagimu." Chang Yue segera menyerbu Han Xiao dengan nada penuh kekecewaan.
__ADS_1
"Tidak, belum saatnya untuk dirimu ke Alam Abadi, aku akan mengirimmu ke Tanah Suci Beladiri, disana panggung sementara untukmu dan lainnya, terserah padamu untuk berpetualang bersama yang lain atau menyendiri," terang Han Xiao.
Chang Yue jelas langsung menolak usulan Han Xiao, dia tetap bersikeras untuk mengikuti Han Xiao ke Alam Abadi.
"Apa alasan paling jelas untukmu ingin mengikuti selain alasan yang sebelumnya?" Han Xiao melontarkan sebuah perntanyaan yang ternyata langsung dijawab oleh Chang Yue dengan cepat.
"Aku ingin terus bersamamu." Kalimat singkat itulah yang menjadi jawaban Chang Yue.
Han Xiao tersenyum kecil, dia menyentuh pucuk kepala Chang Yue dan mengelusnya ringan disana, Chang Yue yang merasakan elusan Han Xiao merasakan sebuah kenyamanan, gadis itu secara naluri mengejar tangan Han Xiao untuk mencari kenyamanan.
"Jangan khawatir, aku bisa menarikmu kapan saja ke Alam Abadi melewati Pola Kejahatan yang terdapat dalam dirimu," kata Han Xiao seraya tersenyum hangat.
Mata Chang Yue melebar tidak percaya, "Benarkah?!"
Han Xiao mengangguk ringan, "Kau adalah bagian dari Pasukan Haus Darah, pasukanku sangat unik dan luar biasa, maka dari itu aku memintamu untuk menjadi lebih kuat terlebih dahulu, sebelum nanti aku menarikmu ke Alam Abadi."
"Jadi kau sudah memutuskan?" Han Xiao tersenyum pada Chang Yue.
Gadis itu mengagguk penuh semangat, "Aku sudah memutuskan untuk berpetualang dengan gadis Xiao, dengan mereka yang kuat, aku pasti akan berusaha lebih keras agar bisa sejajar dengan mereka!" ujarnya penuh tekad.
"Gadis yang baik." Han Xiao tertawa kecil seraya terus mengelus kepala Chang Yue.
"Terus saja elus dia!" Sebuah suara mengintrupsi tangan Han Xiao untuk berhenti seketika.
***
"Zha, apakah kau yakin tidak ingin memberikanku..." Su Lihwa berkata dengan wajah yang memerah padam.
__ADS_1
"Anak?" celetuk Ne Zha dengan santainya.
Su Lihwa mengangguk, "Dengan adanya anak kita, aku tidak akan kesepian saat menantimu disini," ucap Su Lihwa.
Ne Zha menggelengkan kepalanya ringan, "Bukan aku tidak mau, tapi saat ini aku belum cukup kuat untuk melindungi anak kita, ketika aku pulang nanti aku akan memberikannya padamu, mungkin pada saat itu aku sangat kuat, ya kuat untuk melindungi keluarga kecilku."
Wajah Su Lihwa bertambah merah ketika mendengar kata 'keluarga kecilku' yang keluar dari mulut Ne Zha, biarpun terkesan datar dan tidak beremosi, tapi sangat jelas terdengar oleh Su Lihwa bahwa Ne Zha mengatakannya dengan sangat tulus.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan menurut saja. Aku berdoa kau cepat kembali kesini dan menemui istrimu ini, ingatlah jaga matamu. Jangan seperti Han Xiao yang selalu tergeser oleh para gadis cantik," ujar Su Lihwa dengan nada yang mengintimidasi.
"Tidak ada gadis lain yang mengalahkan pesona istriku." Ne Zha berkata dengan serius.
Wajah Su Lihwa semakin memerah padam karena perkataan Ne Zha, gadis itu memukul dada Ne Zha, "Kau tidak banyak bicara, namun sekali bicara sungguh memporak-porandakan hatiku!" gerutu Su Lihwa.
Ne Zha mengangkat alisnya bingung, "Memporak-porandakan hatimu?" Ne Zha membeo gerutuan Su Lihwa.
"Argh, kau tetaplah Ne Zha yang polos, sudahlah. Aku hanya ingin menghabiskan waktu singkat kita sebelum berpisah ini." Su Lihwa menyandarkan kepalanya pada dada Ne Zha sementara tubuhnya terbaring dalam pangkuan Ne Zha, mereka berdua menonton indahnya langit malam yang berhiaskan ribuan bintang.
Tangan Ne Zha terulur untuk menunjuk salah satu bintang terang di langit, "Disana terdapat kehidupan seperti disini, disana juga merupakan sebuah tempat makhluk hidup, hanya saja aku tidak yakin makhluk apa yang hidup disana," ujar Ne Zha.
Su Lihwa mengangguk ringan, "Aku pernah membaca sebuah buku lama. Bahwa di setiap bintang itu terdapat sebuah kehidupan yang sama seperti disini," balas Su Lihwa.
"Bintang-bintang itu memiliki nama, aku hanya mengetahui bahwa kita kini berada di Wilayah Bintang Biru yang disebut sebagai Bintang Makhluk Buas," tutur Su Lihwa.
***
Update Mingguan : 14/14
__ADS_1
Update Merdeka : 41/75