Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab244. Pengakuan


__ADS_3

Han Xiao dengan panik segera merebut botol labu tersebut, membutuhkan kontrol Qi agar alkohol yang keluar dari dalam botol labu teratur, namun jika diminum secara serampangan seperti yang dilakukan oleh Bing Xing, maka kadar alkohol yang keluar akan sangat tinggi.


Pemuda itu menepuk keningnya setelah memasukan botol labu kedalam Cincin Darah, kini Po Houzi berdiam diri di Cincin Darah, karena memiliki dimensi yang cocok dengan Monyet Anggur Emas tersebut.


"Xing kau tidak apa-apa?" Han Xiao menggoyangkan tubuh Bing Xing.


"Tentu saja, aku kan kua..."


Bruk...


Gadis itu ambruk kedalam pelukan Han Xiao, dia tidak pingsan karena masih meracau bahwa dia kuat, Han Xiao menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika kini pandangan tersorot padanya.


"Ada apa dengannya?" tanya Bing Kong dengan kahwatir.


"Ehm... dia meminum terlalu banyak anggur," jawab Han Xiao dengan ragu.


"Hais kau, saudari Bing Xing memiliki toleransi alkohol yang rendah, maka dari itu dia tidak ikut minum bersama kita," ujar Bing Kong dengan khawatir.


"Aku tahu itu, tapi dialah yang merebut botol labuku dan menegak anggur didalamnya dengan rakus seolah menemukan air di gurun pasir," ceplos Han Xiao tidak ingin disalahkan.


"Kau harus bertanggung jawab, bawa saudari Bing ke kamarnya untuk beristirahat, bersihkan kadar alkohol dalamdirinya!" ketus Bing Kong dengan sangat menuduh.


"Baiklah aku akan melakukannya." Han Xiao tidak ingin mendengarkan omelan lebih lanjt sehingga melilih untuk mengikuti kemauan gadis tersebut, lagipula tidak menjadi masalah baginya jika hanya untuk membawa Bing Xing kembali ke kamar.


Han Xiao meraup tubuh Bing Xing dan menggendongnya, "Aku pamit dahulu, setelah melakukan hukumanku maka aku akan kembali," ujar han Xiao dengan nada menjengkelkan pada Bing Kong.


"Pergi sana!' usir Bing Kong.


Han Xiao mendengus ringan sebelum melenggang pergi membawa Bing Xing kembali ke kamarnya.


sekepergiannya Han Xiao, pundak Bing Kong ditepuk oleh seseorang, dia adalah Bi Jiao.


"Kau tidak khawatir Bing Xing diapa-apakan olehnya?" Bi Jiao adalah salah satu korban han Xiao, jadi dia sedikit khawatir pada Bing Xing.

__ADS_1


"Jikapun iya tidak masalah, Patriark bahkan mendukung ada apa-apa diantara mereka," sahut Bing Kong dengan enteng. "Aku tahu apa yang dilakukan Han Xiao padamu, seseorang yang hebat tidak akan menjadi masalah jika memiliki banyak perempuan disisinya," lanjut gadis itu seraya tekekeh pelan.


Wajah Bi Jiao menjadi merah padam, namun segera dia menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa melakukan itu, rasa miliknya pada Han Xiao harus dia padamkan, itu karena kini pemuda itu sudah menjulang sangat tinggu dihdapannya dan tidak bisa dia gapai.


"Kau adalah sosokyang tercapai namun tak tergapai, melupakan rasa ini adalah yang terbaik," batin Bi Jiao dengan senyum penuh ironi.


***


"Astaga Bing Xing, kau makan apa huh sampai bisa seberat ini?" gerutu Han Xiao ketika menggendong Bing Xing.


Beban gadis itu tidak berat, namun karena gadis itu tidak mau diam hal itu membuat Han Xiao sedikit kesulitan.


Han Xiao sakhirnya sampai di depan pintu kamar Bing Xing, pemua itu membuka pintu dan menghela napas lega, langkah kakinya terayun menuju ranjang.


Ketika hendak saja Han Xiao membaringkan Bing Xing di ranjang, gadis itu dengan erat memeluk pada tengkuk Han Xiao dan membenamkan wajahnya pada leher pemuda tersebut.


"Jangan pergi," lirih Bing Xing.


Han Xiao menggernyitkan dahinya, dia yakin Bing Xing hanyalah meracau, dengan toleransi alkohol yang rendah, bukan tidak mungkin gadis itu akan dibawa menuju fantasi oleh alkohol tinggi tersebut.


"Tidak Han, kau jangan pergi," rengek Bing Xing semakin mengeratkan pelukannya pada Han Xiao.


Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia menatap wajah Bing Xing yang sangat manja seperti anak-anak. Han Xiao terkekeh melihat wajah lucu Bing Xing.


"Aku tidak akan pergi, maka dari itu tidurlah di ranjang. Tubuhku sudah pegal," ucap Han Xiao, dia sendiri ingin tertwa karena berbicara dengan orang yang tengah mabuk.


Bing Xing seolah paham, gadis itu melonggarkan pelukannya pada Han Xiao lalu membiarkan dirinya dibaringkan di atas ranjang.


Han Xiao menghela napas panjang setelah membaringkan Bing Xing, "Istirahatlah," bisik Han Xiao seraya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Bing Xing dan menyelipkannya pada telinga gadis tersebut.


Pemuda itu beranjak dari pinggiran ranjang, namun tangannya segera tercekal ketika hendak melangkahkan kaki.


"Jangan pergi, temani aku." Bing Xing yang tadi tertidur tiba-tiba bangun dan menarik tangan Han Xiao.

__ADS_1


Sekali lagi Han xiao menggaruk kepalanya, "Bailklah aku akan menemanimu." Han Xiao memilih untuk mengalah, dia naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya disamping Bing Xing.


Tiba-tiba Bing Xing membaringkan tubuhnya diatas Han Xiao dan memeluk erat Han Xiao.


"Hais, ini yang tidak kuinginkan ketika menemani gadis mabuk tidur," kata Han Xiao dengan nada yang kesal.


Bing Xing seolah tidak menanggapi perktaan Han Xiao, gadis itu menempel lekat pada Han Xiao.


"Kau tahu Han, aku memiliki rasa padamu, aku bingung denganrasa itu, karena rasa itu sangatlah baru dalam diriku," racau Bing Xing dengan suara yang teredam karena dia menenggelamkan wajahnya pada dada Han Xiao.


"Aku merasakan sebuah sakit ketika kau memberikan perhatian lebih pada Ruan Jian, aku merasakan iri yang teramat ketika kau menyiksa dan membantai dua ras asing untuk membalas dendam Ruan Jian. Aku juga merasakan sangat nyaman dan aman jika bersamamu, saat pertemuan pertama kita di Hutan Kegelapan, ketika kau menyelamatkanku aku merasakan hal yang sngat aneh dalam hatiku." Bing Xing terus berbicara panjang lebar.


Han Xiao mengetahui, jika orang yang mabuk akan berkata jujur, dia tidak menyangka Bing Xing akan membicarakan sebuah pengakuan terhadap perasaanya.


"Saat terjadi badai di Kota Laut Es, aku bisa saja diam di kamarku akrena aku sudah terbiasa dengan hawa dingin, tapi saat melihat Xuenai masuk kedalam kamarmu, aku merasakan hatiku terbakr dan segera mengikutinya untuk tidur bersamamu," ujar Bing Xing dengan nada yang bergetar.


"Apakah itu aku cemburu? Saat Mo Qing mengatakan kau adalah priaku, hatiku berpesta pora saat itu, namun aku hnya bisa menutupinya karena aku tahu hatimu dimiliki oleh Ruan Jian, aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan," racau Bing Xing dengan kacau.


Han Xiao terdiam ketika mendengarkan semua pengakuan Bing Xing, pemuda itu merasakan kejujuran dan ketulusan dalam perkataan Bing Xing. Matanya kini menatap Bing Xing yang sedang menenggelamkan diri di dadanya.


Pemuda itu menarik napas pendek seraya memejamkan matanya, dia menelaah perasaan yang mengalir kacau dalam hatinya, tangan Han Xiao bergerak untuk mengelus lembut rambut Bing Xing.


***


Update Mingguan : 06/14


Update Merdeka : 10/75


Terimakasih banyak atas suport kalian, saya bacain kok komentar kalian, cuma gabisa bales satu persatu😆 ayo kasih vote, jempol keatas, koin juga boleh mayan buat ngeteh.


NGETEH A*U


Taraktak tak tak dung...

__ADS_1


Bab ini disponsori oleh Akang kendang...


__ADS_2