
"Berkedip-berkedip!" Han Xiao mengulang-ulang kata tersebut untuk mengingatkan dirinya. Namun lain dengan nyatanya, dia justru tidak mengedip ketika melihat penampilan luar biasa dari Xian Chin.
Xian Chin tertawa kecil melihat tingkah Han Xiao yang seperti itu, tidak terlupakan dalam kepalanya tentang Han Xiao yang dulu saat pertama kali bertemu dengannya. Sebuah kilasan pada pertemuan pertamanya dengan Han Xiao segera berputar di kepalanya.
***
Pada saat itu, Xian Chin datang ke Mansion kediaman keluarga Han Xiao untuk mengajukan pertunangan, tidak dalam hitungannya Han Xiao datang dan berteriak pada orang tuanya.
"Aku tidak inngin ditunangkan!" seru Han Xiao pada saat itu.
Xian Chin dengan sengaja menggunakan kekuatannya untuk membuat pandangan Han Xiao teralih padanya. Sama seperti sekarang, pandangan itu masih sama, pandangan mata murni tanpa memiliki sedikitpun hal kotor.
"Tapi jika tunanganku seperti dia bisa dibicarakan." Han Xiao yang saat itu tengah mengomel segera menjadi sedikit lunak, tapi masih terlihat kekeras kepalaannya yang tidak terima ditunangkan.
***
Sebuah tawa indah terlepas dari bibir Xian Chin ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Han Xiao, tujuan awalnya perlahan berubah ketika melihat secara langusung Han Xiao yang dulu.
Gadis itu menyentuh pipi Han Xiao dan memberikan sebuah kecupan ringan yang berhasil membuat Han Xiao berkedip dan bangun dari kekagumannya.
"Kau masih sama ya?" kekeh Xian Chin.
"Sudahlah, ayo kita masuk kedalam Istanaku," ajak Xian Chin seraya mengaitkan tangannya paa lengan Han Xiao, dia juga tersenyum mengajak pada Ne Zha dan Feng Jin.
Ne Zha dan Feng Jin saling menatap, mereka juga tidak kalah terkejut dengan sosok Xian Chin yang menjadi lebih cantik dan anggun. Namun mengingat bahwa gadis itu sudah hidup jutaan tahun, segera keduanya tiba-tiba merinding.
"Ayo, ikuti saja." Ne Zha meraih pinggang Feng Jin dan terbang mengikuti arah perginya Xian Chin dan Han Xiao.
__ADS_1
Sesampainya mereka di Istana Xian Chin, ada satu hal yang sangat mereka sayangkan, yaitu tidak ada makhluk hidup lain selain mereka dan satu orang lagi, Ne Zha yakin orang itu adalah Xian Xuenai, si gadis nakal.
Di istana ini terlihat banyak lalu lalang, mereka memiliki bentuk manusia, Binatang Iblis, dan masih banyak lagi, tapi mereka bukanlah makhluk hidup, karena Ne zha mengetahui bahwa semuanya adalah robot yang terbuat dari mekanisme.
Tapi tidak menutup kemungkinan untuk Ne Zha merasakan kagum, ini adalah tempat yang sangat dia impikan, tempat dimana teknologi sangat maju dan segalanya berjalan dengan sebuah sistem yang teratur.
"Luar biasa bukan?" Tiba-tiba saja seorang gadis muncul di samping Ne Zha dan Feng Jin membuat mereka berdua terkejut.
"Kau!" Ne Zha sedikit geram karena Xian Xuenai sungguh benar-benar senang sekali muncul secara tiba-tiba dan mengejutkan orang-orang.
"Janganlah marah, aku hanya bercanda." Xian Xuenai mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk sebuah huruf V.
Ne Zha hanya membalas dengan dengusan kesal sebelum terus mengikuti Xian Chin dan Han Xiao menuju bangunan gasing yang berada diatas puncak. Sebelumnya dia mengira butuh waktu singkat untuk sampai disana, tetapi dia harus berdecak kagum karena apa yang dipandang hanyalah ilusi, nyatanya membutuhkan waktu terbang selama empat jam dengan kecepatan tercepatnya.
Ne Zha sangat yakin, dengan kecepatan seperti itu, dia bisa mengelilingi Benua Angin Selatan dua kali dalam empat jam tersebut.
Pandangan Ne Zha terarah pada Xian Xuenai, "Kenapa kau tidak bilang sejak tadi? Jika begitu aku akan menggunakan Kuai You Shengqi," gerutu Ne Zha.
Xian Xuenai tertawa ketika mendengar keluhan dari Ne Zha, "Lalu kenapa kau terbang? Tidak ada yang melarangmu untuk menggunakan mobil itu," celetuk Xian Xuenai.
Wajah Ne Zha menjadi semakin dingin, terlihat jelas dia tengah kesal, "Aku tidak mengetahui ada ilusi disini sebelumnya."
Tawa Xian Xuenai semakin terpingkal ketika mendengar gerutuan dari Ne Zha, tentu saja hal itu menarik perhatian Xian Chin yang berjalan di depan mereka. Xian Chin juga tertawa kecil, jelas dia mendengar juga apa yang dikeluhkan oleh Ne Zha, dengan kultivasinya yang berada selangkah menuju puncak, pendengarannya sungguh peka dan luar biasa kuat.
"Kau tidak mengeluh seperti Ne Zha? Setahuku kau adalah orang yang sangat banyak mengeluh jika dibandingkan dengan Ne Zha," ucap Xian Chin seraya menatap Han Xiao yang berjalan dengan riang disampingnya.
Han Xiao menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan mengeluh jika bersamamu, bahkan jika menghabiskan jutaan tahun perjalanan aku tidak akan mengeluh," ujar Han Xiao ringan.
__ADS_1
"Mulutmu itu sungguh berbahaya, terkadang manis, dan terkadang sangat pedas," protes Xian Chin.
Menanggapi protesan Xian Chin, Han Xiao justru tertawa riang, "Aku tidak mengatakan bualan manis untukmu, tapi itu adalah kenyataan yang keluar dalam hatiku."
Xian Chin sempat terdiam sejenak, dia adalah sosok yang telah hidup sangat lama sampai dia saja lupa berapa umurnya kini. Sudah banyak kata-kata manis yang keluar dari milyaran lelaki dalam hidupnya, tapi pernyataan yang terdengar hanya menyeplos dari mulut Han Xiao seolah memiliki kekuatan ajaib yang mampu membuat dirinya tersipu malu dan tersentuh.
Ne Zha yang terus berdebat dengan Xian Xuenai, Feng Jin yang hanya menonton, sementara Han Xiao dan Xian Chin yang asik mengobrol tidak menyadari bahwa mereka telah memasuki aula dari Istana tersebut.
Di ruangan tersebut, terdapat sepasang singgasana yang sangat megah, pada saat masuk kedalam aula, ada suara yang menyambut kedatangan mereka.
"Jaya selalu Yang Mulia Xian Chin! Selamat datang Yang Mulia Han Xiao, Yang Mulia Ne Zha, Tuan Putri Feng Jin!" suara tersebut bergema di aula Istana.
Han Xiao mengerutkan dahinya, "Kenapa nama Xian Xuenai tidak disebut?" tanyanya.
"Aku yang tidak menginginkannya, sungguh tidak asik mendapatkan salam dari sebuah robot," jawab Xian Xuenai.
Jawban Xian Xuenai membuat Han Xiao menggaruk kepalanya, memang benar. Rasanya akan kurang memuaskan jika disambut oleh robot, tapi di Istana ini, tidak ada manusia selain mereka berlima. Lebih tepatnya tidak ada makhluk hidup lain selain mereka.
"Chin sayang, kau menyendiri seperti ini, apakah salah satu caramu menghindari lelaki lain? Agar kau bisa selalu terfokus padaku?" Han Xiao menaik turunkan alisnya kearah Xian Chin, dia berkata dengan nada menggoda yang sangat menjengkelkan.
Bukan amarah yang dikeluarkan oleh Xian Chin, justru gadis itu tersenyum lebar, "Jika iya bagaimana?"
"Ah kau memang istri terbaik." Han Xiao menggerakan tangannya untuk mengelus pucuk kepala Xian Chin seperti anak kecil, dia melupakan satu fakta, yaitu umur mereka yang terpaut sangat jauh.
***
Update Mingguan : 14/14
__ADS_1
Update Merdeka : 45/75