
Qin berhasil menghadapi mimpi buruknya, kini dia terbangun dari tidurnya.
Hal yang pertama dia perhatikan adalah pria paruh baya pemilik Mata Mimpi Buruk, helaan napas lega terpancar dari hidung dan mulut Qin, mata dia masihlah ada juga pria paruh baya itu masih menutup matanya dengan posisi tertidur di kursi goyang.
Pandangan Qin terjatuh pada tangga yang tadinya tidak ada disana, “Sepertinya itu tangga menuju lantai dua,” batin Qin.
“Selamat telah mengatasi mimpi burukmu, silahkan menuju langai dua Pagoda Mimpi Buruk.” Pria paruh baya itu berkata namun tidak membuka matanya dan posisinya masihlah di kursi goyang.
Qin alih-alih menjawab, gadis kecil itu melangkahkan kakinya menuju tangga dan menyusuri satu demi satu anak tangga untuk sampai di lantai berikutnya.
Sesampainya di lantai dua Qin menemukan sebuah papan catur, tubuhnya bergetar ringan saat melihat benda tersebut.
Sebuah ingatan menyakitkan hati terlintas pada kepala Qin, tentang papan catur. Tragedi yang tidak akan pernah dia lupakan, karena saat itu dia kehilangan saudaranya yang oaling berharga karena papan catur.
Terlebih lagi yang membuat Qin memburuk adalah papan catur itu persis seperti papan catur yang dulu merenggut nyawa saudaranya.
“Selamat datang di lantai dua, mulai ujiannya?” Sesosok gadis menatap pada Qin seraya tersenyum.
Qin kini bergetar keras, tidak pernah terduga akan bertemu sosok gadis itu disini, dihadapan papan catur tersebut.
“Ke–” ucapan Qin tersangkut di tenggorokannya saat hendak memanggil nama gadis tersebut.
“Menangkan permainan ini atau mundur dan keluar dari Pagoda Mimpi Buruk,” ujar gadis tersebut seraya menatap Qin.
Qin menggertakan giginya lalu memaksa kakinya untuk melangkah dan duduk dihadapan gadis tersebut.
“Silahkan pilih warna,” ucap sosok tersebut seraya mengajukan dua mangkuk berisi pion catur.
“Hitam.” Qin mengambil mangkuk berisi pion hitam.
Tangannya sedikit bergetar, permainan inilah yang merenggut nyawa saudaranya yang kini entah bagaimana caranya bisa berhadapan dengannya.
__ADS_1
Saat itu, saudaranya Ken Jia bertaruh dalam permainan catur. Karena selama dia bermain catur tidak pernah kalah saat dia kalah sekali membuat Ken Jia marah dan berusaha untuk terus bermain.
Siapa sangka lawannya sungguh tidak bermain membuat Ken Jia mengajukan sebuah taruhan untuk lawannya, saat itu Ken Jia kalah berturut-turut hingga kehilangan banyak benda berharganya.
Hingga saat terakhir kalinya Ken Jia sudah tidak memiliki benda apapun lagi untuk bertarung, namun jiwanya yang tak rela untuk mengalami kekalahan seperti itu membuat Ken Jia mempertaruhkan dirinya karena percaya dia akan menang.
Namun sepertinya langit berkata lain, Ken Jia kalah telak dalam permainan itu dihadapan Qin yang masih kecil saat itu.
Lawan main Ken Jia adalah lelaki, sehingga hal mengerikan yang seharusnya tidak dilihat oleh anak seumuran Qin yang masih 5 tahun saat itu terjadi.
Lelaki itu melecehkan Ken Jia dengan sangat mengerikan, tidak ada yang bisa menyelamatkan Ken Jia karena mereka bermain di sebuah ruang pribadi dalam gedung perjudian besar.
Qin yang saat itu masih tidak paham apapun melihat bahwa saudarinya sedang merintih kesakitan dilukai oleh lelaki tersebut memukuli lelaki tersebut, sebuah vas terbuat dari keramik dilempar oleh Qin sehingga membuat lelaki itu berdarah pada kepalanya.
Amarah lelaki itu memuncak sehingga melampiaskannya pada Ken Jia, sebuah pukulan telak pada dada Ken Jia membuat jantung gadis malang itu hancur membuat dia mati seketika.
Para petugas yang telat menyadari masuk kedalam ruang pribadi, mereka melihat mayat Ken Jia lalu mengamankan Qin kecil.
“Kau ambil langkah yang salah,” kata Ken Jia saat melihat Qin meletakan pionnya dengan sembarang.
Ken Jia menaruh pionnya lalu menatap Qin untuk membiarkan gadis itu mendapatkan gilirannya menaruh pion.
“Kau,” ujar Qin saat meletakan pionnya.
Ken Jia terkejut dengan ucapan Qin, segera dia melihat pada papan catur, ya benar! Ini adalah kemenangan mutlak untuknya.
“Apa yang kau lakukan?!” seru Ken Jia penuh heran dan terkejut.
“Saat akhir hidupmu kau sangat ingin memenangkan permainanmu, aku juga merasakan hal yang sama. Selama ini bayanganmu yang kalah telak saat itu membuatku ketakutan.
Aku ingin memberikan sebuah kemenangan padamu, tapi bukan berarti aku harus pasrah. Permainanmu sungguh cerdas, aku telah menperhitungkan dengan matang seluruh langkah. Namun tetap satu langkah yang kau ambil membuat rencanaku hancur.
__ADS_1
Disinilah aku tersadar bahwa kau memang sangat hebat, tanpa ada yang bisa mengalahkanmu. Bahkan tidak perlu aku memberikan kemenangan padamu. Kau bisa memenangkannya.” Qin kini merasa sangat lega.
Hal yang mengganjal dalam hatinya bisa terlepas, dia selalu dihantui untuk memberikan kemenangan pada Ken Jia.
Dia selalu berandai-andai jika saat itu dia bisa memberikan kemenangan untuk Ken Jia tidak akan Ken Jia harus mati dengan sangat menyedihkan di tangan lelaki jahat yang mencuranginya saat itu.
“Kau tidak kalah dengan cara jujur, lelaki itu bermain dengan kotor untuk memenangkan permainan dengan cara mengacaukan pikiranmu yang dibayangi rasa tidak ingin kalah,” lanjut Qin seraya tersenyum pada Ken Jia yang kini mulai memudar.
Ken Jia termangu menatap Qin, setelah beberapa saat seulas senyum yang penuh kelegaan terbentuk pada bibir indah Ken Jia.
“Selamat Qin’er, kau telah melewati ujian lantai dua. Aku berterimakasih karena kau telah mrmberikan sebuah kebenaran padaku. Jika kau bingung, aku bukanlah bayangan palsu. Tapi ini adalah diriku yang kau kenal, aku tidak mati, aku selalu hidup disini.” Ken Jia menyentuh dada Qin.
Qin hendak mengangkat suara untuk berbicara, namun ketika mulutnya terbuka. Dia tidak bisa mengatakan apapun.
Wujud Ken Jia pun telah mulai menjadi sebuah cahaya putih transparan lalu masuk kedalam tubuh Qin.
Perasaan tentang mimpi buruknya perihal papan catur telah hilang, digantikan oleh rasa tenang karena telah bisa menyelesaikan hal yang mengganggunya tentang papan catur dan saudarinya.
Papan catur juga perlahan menghilang dan menjadi sebuah tangga menuju lantai berikutnya.
Qin tidak segera naik, gadis kecil itu memantapkan hati terlebih dahulu. Seluruh mimpi buruknya menjadi kenyataan disini, tidak banyak yang dia takuti namun ada beberapa hal buruk yang selalu membayanginya.
Merasa sudah cukup mantap dengan kondisi hatinya. Qin memutuskan untuk segera menaiki tangga yang menuju ke lantai berikutnya.
Tersisa setengah jalan lagi menuju lantai lima, hal ini yang membuat Qin terus menyemangati dirinya. Karena selain mendapatkan Koin yang dicarinya dia juga akan menggilas habis hal buruk yang selalu membayangi dirinya ketika tidur.
Tangga kali ini sungguh terasa panjang bagi Qin, kaki kecilnya telah melangkah menaiki satu persatu anak tangga namun baru setelah setengah jam dia sampai di lantai ketiga.
***
Bacotan Pengetik :
__ADS_1
Helo gengs!
Ini adalah part reguler untuk tanggal 26. Tunggu crazy update tanggal 26 nanti oke!