Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab126. Kacang Panjang Umur


__ADS_3

"K.. kau siapa?!" tanya pria tua itu penuh kejutan.


Ne Zha menunjuk hidungnya, "Aku Ne Zha."


Pria tua itu berpikir keras apakah dia mengenali pemuda di hadapannya itu, namun mustahil, dia tidak berhasil mengingat apakah dia mengenal pemuda itu atau tidak.


Seolah sudah menebak pria tua itu akan kebingungan Ne Zha segera angkat suara, "Kau memang tak mengenalku, tapi aku mengenalmu."


Kerutan pada dahi pria tua itu semakin bertambah ketika Ne Zha seolah memberikan teka-teki padanya, "Pada intinya." Dengusnya kesal.


"Kukira Kacang Panjang akan suka berceloteh panjang." Ne Zha memicingkan matanya.


Sekali lagi perkataan Ne Zha membuat pria tua itu mematung, dia kini menatap Ne Zha penuh waspada serta penasaran. Dirinya memiliki banyak musuh sehingga tidak tahu apakah Ne Zha ini salah satunya.


"Apa tujuanmu?" Akhirnya pria tua itu mengangkat suara untuk menanyakan hal tersebut.


"Herbal Roh tingkat Raja," jawab Ne Zha seraya melemparkan tiga Herbal Roh yang didapatnya dari Qin pada meja dekat pria tua.


"Aku tidak memilikinya untuk jenis ini," ketus pria tua tersebut.


"Apa perlu aku menjelaskan dengan detail?" Ne Zha menatap pria tua itu dengan datar.


"Apa maksudmu?" Tantang pria tua itu.


"Kau adalah Roh Alam yang terbentuk dari Tanaman Sihir Kacang Panjang Umur, tentu kau memiliki sebuah cara untuk membuat Herbal Roh menua, betul?" ungkap Ne Zha.


Tubuh pria tua itu bergetar keras saat Ne Zha mengungkapkan identitasnya, sungguh dia tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang mengungkap identitasnya. Selama ini walaupun dia memiliki banyak musuh tapi musuh-musuhnya tidak pernah mengira bahwa dia adalah Roh Alam.


"Aku tak tahu apa yang membawamu ke Benua Angin Selatan, namun aku tak peduli. Aku hanya ingin tiga Herbal Roh itu jadi tingkat Raja, dan satu hal pasti, aku bukanlah musuhmu," ujar Ne Zha lalu duduk di kursi terdekat.


Pria tua itu tentu paham dengan apa yang dikatakan Ne Zha, tapi hal pasti yang sudah dikonfirmasi oleh Ne Zha adalah pemuda itu bukan musuh. Dari pembawaannya saja pemuda itu sangat tenang dan menyendiri serta tidak ada hawa permusuhan sedikitpun yang dipancarkan pemuda itu.


"Kau harusnya tahu bahwa aku bisa membunuhmu hanya dengan satu jari," tandas pria tua itu.


"Kujamin kau tak akan melakukannya, dan kau tak akan pernah bisa." Ne Zha mengeluarkan Pedang Lima Elemen dari Cincin Spasialnya dan menaruh diatas meja.

__ADS_1


Mata pria tua itu segera memancarkan ketakutan yang sangat dalam ketika melihat Pedang Lima Elemen.


"Kau penerusnya!" seru pria tua itu penuh kejutan, segera saja dia menghampiri Ne Zha dan bersujud dihadapan pemuda tersebut.


"Bangunlah, setahuku hubunganmu dengannya tidak seperti pelayan dan tuan, kau hanya orang yang sempat ditolongnya sekali," ujar Ne Zha.


Pria tua itu bangun dan menatap Ne Zha, wajah Ne Zha masihlah sama, dingin dan datar.


Setelah beberapa saat pria tua itu menghela napas dan menjelaskan, dalam pertolongan Harimau Suci padanya saat itu dia berhasil menjadi Roh Alam, karena jika tidak maka dia akan mati karena tidak sanggup menahan kekuatan Petir Penyucian.


Butuh waktu yang lama untuk pria tua itu menceritakan kisahnya dengan Harimau Suci, Ne Zha bahkan sampai menguap mendengarkannya.


"Aku akan segera membuat tiga Herbal Roh itu menjadi tingkat Raja, apakah ada yang lain?" kata pria tua itu setelah merasa puas bercerita.


"Teratai Hujan dan Bunga Matahari Elemen, kau memilikinya?" Ne Zha membutuhkan dua Tanaman Sihir tersebut, sangat sulit untuk mencarinya, tapi dia yakin Kacang tua itu memilikinya.


Pria tua itu mengangguk dengan penuh semangat, persediaannya memiliki cukup banyak kedua Tanaman Sihir tersebut.


Tidak banyak berpikir pria tua itu memberikan seluruh Teratai Hujan dan Bunga Matahari Elemen yang dimilikinya pada Ne Zha.


"Sangat sulit untuk menumbuhkan mereka, tapi aku tidak perduli jika itu keinginan Tuan Muda." Pria tua itu tersenyum lebar.


***


Qin berhasil melewati lantai tiga dan empat, kini dia tengah berada di lantai lima, lantai terakhir dari Pagoda Mimpi Buruk.


Pertemuannya dengan sang guru membuat Qin belajar tentang sebuah kehidupan di dunia, Qin belajar banyak dari lantai tiga dan lantai empat.


Disana bukan hanya terdapat sebuah ujian, tapi juga sebuah pembelajaran yang sangat berharga untuk Qin. Ilmu pengetahuan Qin semakin meluas terhadap kehidupan dan takdir. Tentu hal ini sangatlah menguntungkan dirinya sebagai pemilik mata Takdir.


Kini Qin berdiri di tengah ruangan lantai lima, tidak ada apapun di ruangan ini selain sebuah altar kosong dihadapan Qin sekarang.


Tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk saat ini karena selama menjalani ujian empat lantai sebelumnya semuanya berjalan menuntunnya.


Tapi kini seperti Qin harus mencari sendiri ujian terakhir dari lantai lima Pagoda Mimpi Buruk.

__ADS_1


"Apa yang harus kulakukan?" batin Qin bingung setelah berjam-jam dirinya berdiri di hadapan altar.


"Selamat Qin, kau lulus ujian Pagoda Mimpi Buruk, silahkan pilih hadiahmu." Sosok pria paruh baya yang berada di lantai satu tiba-tiba muncul dan membawa dua kotak pada tangan kanan dan kirinya.


"Apakah ini ujian?" tanya Qin.


Pria paruh baya itu tersenyum ramah pada Qin, "Bukan, ini bukanlah ujian. Pagoda Mimpi Buruk hanya menguji pada lantai satu hingga lantai empat, lantai lima adalah untuk pemberian hadiah karena telah berhasil melewati empat lantai sebelumnya."


Qin masih sulit untuk mempercayai pria paruh baya tersebut.


"Aku sudah tahu apa yang kau inginkan, maka terimalah ini." Seolah mengetahui bahwa Qin tidak mempercayainya pria paruh baya itu membuka kotak yang ada di tangan kanannya.


Terdapat sebuah Koin berwarna perak dengan motif kuno disana, sekilas Koin perak itu terlihat hanya seperti Koin perak biasa, tapi tidak bagi Qin. Mata gadis kecil itu memancarkan sinar kebahagiaan melihat Koin tersebut, seolah menemukan harta terbaik di dunia.


Reaksi Qin membuat pria paruh baya itu terkekeh, dia segera mengambil Koin Perak tersebut lalu memberikannya pada Qin.


Tangan Qin bergetar ringan dipenuhi rasa senang saat menerima koin perak tersebut, dia merasakan sebuah hubungan pada koin tersebut ketika menyentuhnya.


"Sekali lagi selamat," ucap pria paruh baya tersebut.


Qin mengangguk dan mengucapkan terimakasih, bagaimanapun koin yang diinginkannya telah diberikan oleh pria paruh baya tersebut.


"Sampaikan salamku pada pemilik baru Pagoda Mimpi Buruk," pinta pria paruh baya tersebut.


"Baiklah aku akan menyampaikan salammu," balas Qin.


Tiba-tiba pandangan Qin menggelap lalu muncul di sebuah tempat, matanya melihat sekeliling dan hanya menemukan sebuah gunung dan pulau-pulau yang mengambang di udarah.


***


**Bacotan Pengetik :


Hey yo!!! inilah Crazy Update yang disponsori Album baru Blackpink!!!


Bonus Update : 02/18**

__ADS_1


__ADS_2