Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab190. Membalikkan arus


__ADS_3

Mo Moshi memimpin jenius dari Benua Api Barat untuk bergabung dalam perang di tepi pantai, dia hanya membawa seratus orang untuk bergabung dalam pertarungan ini, tapi jumlah itu tidak bisa dianggap remeh karena ada puluhan jenius yang berada di Alam Raja.


Jenius dari Ras Pola Hantu dan Ras Sayap segera berbenturan secara langsung dengan pasukan benua Angin Selatan, mereka mengeluarkan senjata mereka, sangat beragam senjata dari para jenius tersebut, ada yang memakai golok, sabit, tongkat, gada, sampai sebuah cemeti.


Kehadiran mereka awalnya tidak terlalu berasa, namun ketika waktu sudah berjalan satu hari lebih, barulah terlihat.


Arus mulai berubah dengan adanya seratus Jenius dari Ras Sayap dan Ras Pola Hantu, mereka belum terluka sedikitpun. Setiap serangan mereka sungguh mengerikan, sangat sulit bagi pasukan Benua Angin Selatan mendaratkan serangan mereka pada Jenius kedua ras tersebut.


"Hahahah! Hanya segini kekuatan dari pasukan Benua Angin Selatan? Sungguh lemah!" pekik Mo Moshi sungguh senang ketika dia membunuh satu persatu kultivator dari Benua Angin Selatan.


"Kau bermulut besar ya?" Seorang pria berjubah biru menyerang Mo Moshi membuat pemuda Ras Pola Hantu itu terpental.


"Kita tahan sampai tuan muda datang," ucap seorang pria berjubah hijau disamping pria bejubah biru tersebut.


Pria berjubah biru mengangguk lalu menyerbu para seratus jenius Benua Api Barat, Mo Moshi penuh kejutan ketika menerima serangan dari pria berjubah biru dan hijau ini, kekuatan mereka sangat mengerikan. Itu seperti menerima serangan dari Alam Inti Kosong!


Tapi ketika dia mengukur kekuatan dua orang itu, mereka mengeluarkan aura Alam Roh! Apakah mereka menyembunyikan kultivasi mereka? itulah yang ada dalam pikirannya.


"Hahaha, janganlah terkejut seperti itu, kami memang masih Alam Roh, tapi itu cukup untuk menangani kalian," ujar pria berjubah hijau. Mereka adalah pelindung tim Han Xiao saat Berburu Siluman!


"Omong kosong!" Mo Moshi ditemani sembilan puluh sembilan jenius lainnya segera menyerang balik pada dua pria tersebut.


Arus tetap berada pada pihak Benua Api Selatan, akan membutuhkan tambahan orang untuk mengubah arus menjadi milik Benua Angin Selatan, tapi dalam sejauh ini masihlah bisa dibilang terkendali walau arus perang berada di pihak musuh.


***


"Sungguh kacau." Ne Zha yang melihat situasi medan perang menggunakan layar proyeksi dari kapal Naga sungguh terkejut, melihat Benua Angin Selatan terpojok, dia ingin lebih segera sampai disana.

__ADS_1


Bukan hanya Ne Zha yang menonton layar proyeksi, disini ada Pasukan Penguasa Generasi dan pasukan dari akademi juga ikut menonton.


"Kalian hanya perlu mengikuti arahanku agar arus perang ini beralih pada kita, juga ketika sampai disana..." Mata Ne Zha berkilat dingin. "Kita akan menghabisi para Jenius dari Benua Api Barat, jika mereka semua mati, itu akan menjadi pukulan telak yang melukai moral lawan," lanjut Ne Zha.


Pasukan Penguasa Generasi merasakan darah mereka mendidih, melihat lawan yang kuat, sungguh akan menjadi pelatihan yang sangat baik untuk mereka.


Beberapa orang yang berada di samping Ne Zha terkejut oleh aura yang dikeuarkan oleh Ne Zha, walau aura itu memancarkan sinergi positif namun ada hawa membunuh besar dari aura tersebut.


Su Lihwa sendiri sudah terbiasa oleh aura yang dipancarkan oleh Ne Zha, jadi dia masih dengan santai berada disamping Ne Zha merangkul tangan pemuda tersebut.


"Dimana Han Xiao?" tanya Ne Zha pada Dekan Meili yang sedang berada tak jauh darinya.


"Sejak dia masuk kedalam kamar, sampai sekarang dia belum keluar," jawab Dekan Meili.


Ne Zha memindai satu persatu orang yang ada di ruangan ini, dia juga menyadari bahwa Ruan Jian tidak ada, Ne Zha menggelengkan kepalanya ringan. Sudah tahu dia penyebab kenapa Han Xiao tidak ada disini sekarang.


"Hanya tinggal delapan Jam, tidak masalah untuk menaikan kecepatan, itu akan lebih baik, tapi sebaiknya kalian berpegangan pada sesuatu jika dalam kecepatan ini kalian tidak ada di kamar," ujar Dekan Meili lalu memberi tanda untuk menaikan kecepatan.


"Kenapa kita harus berpe..." Belum sempat Xia Shiva melanjutkan pertanyaannya, tubuhnya terpental mundur dan menbrak dinding, banyak juga Pasukan Penguasa Generasi yang bernasib serupa dengan Xia Shiva karena tidak berpegangantangan.


"Itu yang akan terjadi." Dekan Meili tersenyum kecil.


"Aktifkan pelindung," pinta Dekan Meili.


Segera saja, pada bagian kapal semuanya dikellingi oleh sebuah lapisan cahaya tipis, goncangan kapal Naga juga menjadi lebih stabil dan pasukan Penguasa Generasi segera bisa berdiri dengan baik lagi.


"Ketika menaikan kecepatan, kita melawan arus ruang dan waktu. Maka dari itu kita memiliki tarikan seperti itu, kita akan sampai dalam setengah jam menuju medan perang." Dekan Meili tersenyum seolah tidak tejadi apapun sebelumnya.

__ADS_1


Xia Shiva mendengus kesal lalu menghentakan kakinya sebelum melenggang pergi dari ruangan tersebut menuju kamar miliknya, setengah jam ini akan berguna untuknya jika berkultivasi.


***


"Walaupun kau cabul dan kurang ajar, tapi ternyata kau adalah orang yang jujur," batin Ruan Jian ketika menatap Han Xiao yang kini tertidur.


Sebelumnya dia ingin terus berkultivasi dengan Han Xiao, tapi pemuda itu mengatakan ingin beristirahat, sehingga dia tidak memaksakan pemuda tersebut dan membiarkan Han Xiao tertidur pulas seperti saat ini.


Ruan Jian tersenyum manis sebelum menarik selimut dan menutupi tubuh Han Xiao, sedikit banyaknya dia mengetahui perasaan Han Xiao, pemuda itu tidak pernah merasakan kasih sayang baik dari orang tuanya ataupun seorang kekasih. Tentu saja apa yang diketahui oleh Ruan Jian hanyalah sebatas perasaan, gadis itu tidak mengetahui bahwa Han Xiao bukan berasal dari dunia ini.


"Kau bodoh," batin Ruan Jian seraya tertawa kecil, dia juga merasakan lelah ingin sejenak dia beristirahat.


Dengan sembrono dia masuk kedalam selimut dan menempatkan kepalanya pada dada Han Xiao lalu memeluk pemuda tersebut sebelum terlelap tidur disana.


***


"Apa-apaan mereka ini?!" Mo Moshi berteriak kesal ketika tidak berhasil melukai dua pria dihadapannya.


Sudha berjam-jam mereka bertarung melawan dua pria bejubah biru dan berjubah hijau, namun belum berhasil mendaratkan serangan bahkan pada baju dua pria tersebut.


Mo Moshi sempat berkomunikasi dengan ayahnya tentang kekuatan dua pra tersebut, ayahnya juga telah mengukur dan mereka berdua memang hanya memiliki kultivasi Alam Roh, sesuai dengan aura yang mereka lepaskan, kemampuan Ras Pol Hantu adalah bisa melihat kultivasi seseorang dengan jelas walaupun itu disegel.


"Tidak ada yang namanya mustahil, untuk melawan kalian dari Benua Api Barat? sebenarnya hanya butuh salah satu dari kami," ujar pria berjubah biru.


Mo Moshi dengan lainnya segera menyerang lagi, ketika beberapa saat kemudian, Mo Moshi menyadari ada hal akrab yang dia kenali dari dua pria dihadapannya.


***

__ADS_1


Update Mingguan : 08/14


__ADS_2