
"Dia sedang melakukan pencarian jiwa, proses ini dilakukan untuk menelusuri ingatan dalam kepala seseorang, biarpun sangat menguntungkan bagi kita, namun korban akan mengalami kesakitan tiada duanya di dunia karena jiwanya sedang diacak-acak," jelas Ne Zha santai.
Yang Qianfan menarik napas dingin, memang benar apa yang ada dalam pikirannya, apa yang dilakukan Han Xiao walaupun terlihat remeh, namun sangat menyiksa.
Setelah beberapa menit, Han Xiao menarik tangannya dari kepala Pemuda Ras Iblis tersebut, ekspresi wajahnya menjadi sangat muram ketika mendapatkan informasi dari pemuda tersebut.
Tubuh pemuda Iblis itu terjatuh dan sudah menghembuskan napas terakhirnya, inilah sisi mengerikan dari teknik Pencarian Jiwa, jika seseorang tidak bisa menahan sakitnya. Maka dia akan mati, berbeda dengan teknik yang dilakukan oleh Xian Xuenai untuk mengintip isi kepala Han Xiao, teknik yang digunakan Xian Xuenai tidaklah memberikan efek apapun.
"Yang datang bersamanya bernama Raja Iblis Kulit Putih, dia adalah Raja Klan Kulit Putih, mereka datang kemari untuk Master Kunci dan barangmu yang ada di Pulau Es Menyendiri." Han Xiao menatap Ne Zha.
Han Xiao memasukan jenasah pemuda Iblis itu ke Alam tempat Mo Yanjing dikurung, dia memerintahkan untuk memberikan Pola Hantu pada pemuda iblis tersebut.
"Beri waktu kita berdua," pinta Han Xiao pada yang lainnya.
Mereka semua segera paham, setelah mengangguk semuanya pamit untuk menunggu di ruangan sebelumnya.
"Untung saja aku bergerak lebih cepat, jika saja telat, ada kemungkinan Mo Qing dan Mata Langit akan terjatuh pada Klan Kulit Putih." Han Xiao kini mengetahui siapa tabib yang menipu Ou Ke untuk Teratai Api.
Teratai Api bisa digunakan untuk mendeteksi Mo Qing yang merupakan Ras Iblis dari Klan Darah, Mo Qing adalah satu-satunya keturunan dari Klan Darah tidak ada lagi Klan Darah di Ras Iblis selain Mo Qing, dan sulit untuk mendeteksi Mo Qing ketika dia memilih untuk menyamar.
Dan Teratai Api adalah kelemahan dari Klan Darah, lebih tepatnya cara mengetahui itu Klan Darah atau bukan bisa dilihat jika Teratai Api bereaksi.
"Aku sudah curiga dari awal, tabib itu adalah Raja Iblis Kulit Putih, pemuda itu sengaja berkeliaran untuk memantau keberhasilan Ou Ke mendapatkan Teratai Api, jika gagal maa pemuda itu akan bergerak sendiri merebut dari pemenang turnamen," lanjut Han Xiao.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Han Xiao menyentuh dagunya dan mengerutkan dahi.
"Tidak ada untuk saat ini, kita akan mengurus Raja Iblis Kulit Putih seraya merangkat menuju Benua Kayu Tengah, saat ini aku ingin memfokuskan diriku pada pernikahanku esok hari," ujar Ne Zha.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah jika kau bahagia maka aku juga bahagia," balas Han Xiao, tiba-tiba pemuda itu tersenyum nakal pada Ne Zha. "Zha aku memiliki obat kuat, apakah kau menginginkannya?" Han Xiao menaik turunkan alisnya menggoda Ne Zha.
Bletak...
Ne Zha memukul kepala Han Xiao ringan, "Su Lihwa tidak memiliki pengalaman dan ini adalah pertama untuknya, jika melakukan dalam waktu lama akan sangat menyakitinya, aku juga tidak ingin melakukan itu," ketus Ne Zha.
"Kau berbicara seolah kau adalah ahli," celetuk Han Xiao.
Ne Zha terdiam seketika, benar. Dia tidak memiliki pengalaman sedikitpun tentang hal tersebut. Han Xiao mengetahui itu.
Pemuda berambut biru gelap itu menatap Ne Zha dengan tatapan nakal yang sangat menjengkelkan, "Kau ingin belajar dariku? Ayo kita ke Pavilium Bunga Malam," ajak Han Xiao.
Bletak...
Sekali lagi Ne Zha memukul kepala Han Xiao, "Kau kira aku sepolos itu huh?" sungut Ne Zha. "Bagaimanapun aku adalah pria normal, tidak terhitung video yang ku tonton walaupun tidak pernah melakukannya," sambung pemuda tersebut.
Ne Zha menggelengkan kepalanya melihat tingkah Han Xiao, biarpun terlihat seperti bercanda dan berkesan menggodanya, Ne Zha mengetahui niat Han Xiao adalah memberinya petunjuk lagipula sudah tidak terhitung gadis yang melemparkan diri pada pemuda riang itu dan ditangkap dengan tangan terbuka lebar oleh Han Xiao.
"Kau ada gunanya juga ya?" Ne Zha tersenyum ketika menjelajah ingatan dari Ne Zha yang lama, Ne Zha yang dia gantikan sering bermain perempuan seperti Han Xiao, dia sempat bepikir ingatan dari orang itu tidaklah berguna, namun kini sepertinya dibutuhkan, pengalaman orang itu juga sangat luas.
"Aku harus berterimakasih padamu kah soal ini?" gumam Ne Zha seraya terkekeh ringan.
***
Ketika malam tiba, semua orang ramai memenuhi Akademi, mereka juga menyambut dengan meriah acara yang akan diadakan esok hari.
Murid Kelas S adalah yang paling menyala, mereka menghamburkan uang mereka untuk mengadakan pesta besar atas pernikahan mantan guru mereka. Biarpun Ne Zha tidak mengajar lagi, tapi hasil ajaran dari Ne Zha sangat membekas dalam hati mereka terpaku disana tanpa bisa terlepas.
__ADS_1
Ne Zha tentu hadir dalam pesta yang diadakan oleh Murid Kelas S, dia datang bersama Su Lihwa, setelah pemuda itu datang, menyusul Han Xiao dan lainnya.
Kini mereka telah berbincang dan bercanda di pesta tersebut, berbagai makanan serta anggur terbaik disajikan pada meja Ne Zha dan lainnya.
"Guru Zha, aku turut bahagia denganmu, semoga hubungan kalian terus terberkahi!" Yin Cheng mengangkat cawan berisikan anggur diikuti oleh yang lainnya, lalu mereka menegak hingga tandas isi cawan tersebut.
"Xing kau tidak minum?" Han Xiao menatap heran pada Bing Xing, setiap ada pesta, gadis itu tidak pernah menyentuh anggur sedikitpun. "Kau memiliki toleransi rendah pada alkohol?" sambung Han Xiao.
Bing Xing mengerutkan dahinya, "Toleransi alkoholku sangat tinggi, kau boleh mencobanya dengan anggur terbaikpun," sahut Bing Xing dengan nada yang menyimpan kesombongan.
Han Xiao tertawa kecil, "Benarkah?" tanya pemuda tersebut.
"Tentu saja," jawab Bing Xing.
"Cobalah ini, alkoholnya lumayan tinggi, lebih baik daripada anggur disini," ujar Han Xiao seraya memberikan secawan Anggur Emas dari botol labu milik Po Houzi.
Bing Xing dengan santai menambilnya, tanpa ragu gadis itu menegak habis anggur emas tersebut.
Segera saja wajah Bing Xing memerah, "Aku kuat kan?" ujar Bing Xing.
Han Xiao menggelengkan kepalanya, sudah jelas toleransi alkohol gadis itu sangat rendah, dia memberikan anggur emas yang memiliki kadar alkohol rendah pada Bing Xing, namun wajah gadis itu segera memerah padam seolah telah mabuk beberapa kendi anggur.
Bing Xing kesal karena Han Xiao menggeleng dan mengira Han Xiao tidak mengatkuinya, gadis itu secara tiba-tiba merebut botol labu dari tangan Han Xiao dan menegak anggur emas dari sana secara langsung.
***
Update Mingguan : 06/14
__ADS_1
Update Merdeka : 09/75