Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab394. Persetan wajah cantik


__ADS_3

"Tanggung jawab apa maksudmu?" Han Xiao bertanya heran.


"Ka... Kau mengeluarkannya didalam, sudah dipastikan aku hamil!" nada Juxue mengencang saat melihat wajah polos Han Xiao yang seolah tidak melakukan apapun padanya.


Han Xiao menggaruk kepalanya ringan, pantas saja gadis ini tidak pergi. Kemungkinan besar ingin dia bertanggung jawab atas anaknya? Tapi Han Xiao yakin, selama ini jika dia melepaskan Energi Negatif dengan hasrat seperti itu walaupun dia mengeluarkannya di dalam, itu tidak akan mengalami kehamilan seperti yang dikatakan oleh Juxue.


Han Xiao tentu saja langsung membuat alasan bahwa dirinya mandul, dalam hatinya dia sungguh memohon agar itu tidak menjadi kenyataan. Han Xiao masih ingin memiliki anak.


"Apakah itu benar?" tanya Juxue dengan tatapan menyelidik.


"Jangka hamil akan terlihat setelah tiga bulan, jika pada waktu tiga bulan perutmu membesar maka kau hamil. Aku akan bertanggung jawab," ujar Han Xiao, biarpun dia kini memasang taruhan bahwa Juxue tidak hamil, tapi dia juga tidak bisa memastikannya karena ini baru terjadi beberapa hari.


"Ini telah lewat berapa hari setelah pertemuan kita?" tanya Han Xiao.


"Empat belas hari," jawab Juxue dengan ketus.


"Bagus jika begitu, aku memiliki metode terbaik untuk melihat kehamilan setelah dua puluh empat hari. Akan kubuktikan nanti bahwa kau tidaklah hamil." Han Xiao mengambil posisi duduk dan mengeluarkan Buah Neraka untuk menjadi makanan.


Juxue menatap penuh curiga pada Han Xiao, tapi pada akhirnya dia duduk bersebrangan dengan Han Xiao.


"Kau terlihat enggan menerimaku? Kenapa? Apakah aku tidak cukup cantik bagimu?" Juxue tentu saja kesal karena kecantikanna tidak berpengaruh pada Han Xiao.


Han Xiao melanjutkan mengunyah Buah Neraka, pandangan pemuda itu terjatuh pada wajah indah Juxue. Sebuah senyum ironi tercetak pada bibirnya.


"Persetan wajah cantik, pada akhirnya itu hanyalah sebuah kulit, kantong yang membungkus tumpukan daging yang disusun oleh tulang dan otot," ujar Han Xiao dengan ringan.


Juxue terdiam, sungguh tidak menyangka dia akan mendapatkan jawaban seperti itu, tetapi belum sempat dia melemparkan pertanyaan lain. Han Xiao sudah bangkit dan melesat ke arah utara.


Dengan tergesa-gesa Juxue mengikuti Han Xiao menuju utara.


***

__ADS_1


"Adik kecil, kau memiliki drah Phoenix emas, apakah kau memiliki hubungan dengan si tua Feng?" sedosom wanita cantik tersenyum sangat hangat pada gadis berambut emas.


Gadis berambut emas itu tak lain adalah Feng Jin, ketika mendapat pertanyaan itu, Feng Jin hanya tersenyum kecil.


"Itu bukan hal penting, apakah itu tangga ke lantai kedua?" Feng Jin mengarahkan pandangannya pada sebuah tangga.


"Benar sekali, silahkan pilih salah satu dari hadiah ini karena telah menyelesaikan lantai pertama dengan waktu empat belas hari." Wanita cantik itu mengambil dua nampan, disana terdapat berbagai perhiasan dan yang satunya adalah sumber daya.


Feng Jin tertawa kecil, "Biarpun aku anak kecil, tapi aku tidak akan terganggu oleh ilusk kalian. Lagi pula, abangku memiliki harta dan sumber daya yang lebih baik dari ini." Feng Jin tersenyum lalu melangkah melewati sang wanita cantik itu.


Ketika telah melewati wanita cantik tadi, Feng Jin segera mencapai sebuah ruangan, disana sangat sepi dan hanya ada satu jalan. Yaitu menuju tangga, karena jalan di belakangnya telah menghilang.


Sesosok pria muncul dari tangga, pria itu menggunakan pakaian yang sangat sederhana, dia menghampiri Feng Jin.


"Itu tangga menuju lantai dua?" Feng Jin bertanya.


"Benar, itu adalah tangga menuju lantai dua," jawab pria itu.


Tetapi pada saat itu sang pri menghalangi Feng Jin, "Serahkan hadiah yang kah pilih sebelum memasuki ruangan ini." Pria itu mengulurkan tangannya.


Feng Jin menerutkan dahi, dari peraturan, dia tidak boleh mundur lagi pula akses jalan tadi sudah menghilang.


"Jika kau tidak memberikannya, kau tidak akan bisa lewat!" nada bicara pria itu meninggi.


Feng Jin mengerutkan dahinya, ini tidak ada dalan pemikirannya tentang hal seperti ini, dari pengamatannya. Ilusi di lantai pertama ini menyesuaikan isi kepala sang peserta.


Feng Jin tiba-tiba tersenyum simpul, "Ilusi yang nakal." Gadis kecik itu melambaikan tangannya lalu kobaran api emas membakar tubuh pria itu.


Dengan begitu, si pria menghilang. Feng Jin melanjutkan langkahnya dan mencapai lantai kedua.


***

__ADS_1


"Hey kau mau kemana Bing Xing?" Seorang gadis yang memiliki pembawaan tenang bagaikan air bertanya pada sosok dingin di sampingnya yang hendak saja melenggang pergi. Dia adalah Yang Shui.


"Mengambil potongan Sabit Dingin, aku merasakan reaksinya tidak jauh dari sini," jawab gadis dingin yang dipanggil Bing Xing.


Yang Shui mengerutkan dahinya, dia mengetahui bahwa gadis ini memiliki potongan dari Alat Dewa milik Kaisar Es.


"Shui, biarlah. Kita ikuti saja dia," ucap seorang gadis yang memiliki tampilan berapi-api dan bersemangat.


"Baiklah jika itu maumu." Yang Shui menuruti kemauan gadis tersebut yag tak lain adalah Su Lihwa!


Su Lihwa berhasil menerobos ke ranah Dewa Raja dan bisa menggantikan Shouzi untuk masuk ke Menara Tianxia. Dia sungguh penuh harap bahwa Bing Xing dari Alan Semesta Es adalah Bing Xing yang sama dengan yang dia kenal. Namun, Su Lihwa diharuskan kecewa, gadis itu hanya memiliki nama yang sama. Bing Xing, tapi jelas orang yang berbeda.


Sama seperti Yang Shui, Su Lihwa memiliki harapan bahwa itu adalah Bing Xing yang mereka kenal, agar Han Xiao bisa membantunya saat Ne Zha mengomel padanya nanti.


Namun, pada akhirnya itu hanya sebuah harapan.


"Ne Zha sudah di lantai dua, jika kau ingin bertemu dengannya. Maka kita harus secepat mungkin menemukan pintu ke lantai dua," terang Yang Shui.


Su Lihwa mengangguk ringan, "Setelah urusan Xing selesai. Kita bisa kembali ke tempat tadi dan menantang Beruang Salju itu untuk membuka pintu ke lantai dua untuk kita."


"Kalian bisa pergi terlebih dahulu, aku bisa mengurus ini sendiri," ujar Bing Xing yang terbang di depan mereka.


Su Lihwa tersenyum kecut, apa yang dikatakan oleh Bing Xing tidak berlebihan, gadis itu sedikit lagi akan menembus Alam Raja Abadi, tidak banyak yang bisa mengancamnya.


"Tidak, kita di sini ada karena sebuah tim, maka kita akan saling terus membantu," ucap Su Lihwa.


Bing Xing terdiam dan tidak membalas lagi selain terbang menuju arah yang dirasakan olehnya. Jika dia menemukan potongan Sabit Dingin, kekuatannya sudah dipastikan melonjak, dia bisa membalaskan dendam Kaisar Es terhadap Kaisar Air dan Kaisar yang membantu Kaisar Air dahulu.


Membunuh Murid Kaisar di sini, itu berarti membunuh masa depan Alam Semesta tersebut, Bing Xing sudah mengeraskan hatinya untuk membalaskan dendam Kaisar Es.


***

__ADS_1


Update Mingguan : 07/14


__ADS_2