
"Jelaskan hubunganmu dengan ibuku," ujar Han Xiao setelah Mo Qing berhasil menenangkan diri.
Mo Qing menatap Han Xiao, wanita itu duduk dengan baik di pinggiran ranjang untuk saling berhadapan dengan Han Xiao.
"Kami adalah teman, dulu ketika Patriark lama dari Klan Xiao datang ke alam bawah, dia membawa Zi Yao, disana kami bertemu, saat itu aku tengah melarikan diri, Zi Yao menawarkan bantuan padaku untuk lari dari Alam Bawah, dengan bayaran aku harus menjaga barang yang dia titipkan padaku, Zi Yao mengatakan bahwa barang itu adalah untuk anaknya kelak. Kesinilah Zi Yao menyarankanku, dengan kekuatanku. Aku bisa menembus portal dan menyelundup bersembunyi di desa ini," jelas Mo Qing.
"Barang peninggalan ibuku ada padamu? Bukankah itu berada di Pulau Es Menyendiri?" Han Xiao ingat jelas bahwa barang milik Ne Zha yang diturunkan dari Zi Yao berada di Pulau Es Menyendiri, lalu kenapa berada di tangan Mo Qing?
Mo Qing menggelengkan kepalanya, "Itu memang ada di Pulau Es Menyendiri, namun kau membutuhkanku untuk masuk kedalam tempat Zi Yao menyimpan barang tersebut, aku membuat kunci yang hanya aku yang bisa membukanya, ini kulakukan agar aman hingga kau ataupun saudaramu datang," jawab Mo Qing.
Han Xiao kini merasa bahwa persinggahannya di Kota Laut Es adalah pilihan yang sangat baik, jika saja dia menerobos ke Pulau Es Menyendiri, belum tentu dia bisa menghancurkan kunci yang dibuat oleh Master Kunci.
"Jika begitu baguslah, esok hari kita akan menuju Pulau Es Menyendiri, sekarang kau boleh keluar dan menemui anakmu. Aku memiliki saran sebaiknya kau membiarkan darah Iblis pada Ou Ke terbangun, dengan begitu kekuatan gadis itu akan menaik secara pesat, kau tidak perlu khawatir dengan hatinya yang tidak memiliki perasaan, dia adalah manusia setengah Iblis, jika kau mendidiknya dengan baik maka tidak akan terjadi hal yang tidak kau inginkan," tutur Han Xiao memberi saran, setelah itu pemuda itu naik keatas ranjang dan membaringkan diri, dia sangat lelah. Mengobati Mo Qing menguras cukup banyak Qi miliknya.
Mo Qing mengangguk ringan, "Aku akan melakukan yang kau arahkan," sahut Mo Qing lalu wanita itu pergi keluar dari kamar.
"Masih banyak misteri yang tidak kuketahui walaupun memiliki ingatan dari Harimau Suci," gumam Han Xiao seraya menghela napas panjang.
"Jangan berkecil hati, ingatan ini belum sepenuhnya terbuka," batin Han Xiao lalu dia benar-benar memilih untuk beristirahat.
***
"Ibu, kau kah itu?" Ou Ke yang melihat Mo Qing keluar dari kamar terpana ketika melihat kecantikan Mo Qing.
Mo Qing tersenyum manis, "Ke'er terimakasih sayang, kau menemukan orang yang ibu tunggu selama ini, kini penyakit pada tubuh ibu sudah hilang semuanya, bahkan ibu menjadi puluhan kali lebih muda," kekeh Mo Qing.
__ADS_1
Ou Ke masih tidak percaya dia melihat wajah muda ibunya yang sangat cantik, tapi setelah beberapa saat barulah dia menerima hal tersebut, itu karena wajah dari Mo Qing sangat mirip dengannya.
"Kalian istirahatlah, kami akan datang lagi esok hari, terimakasih atas semuanya," ucap Mo Qing pada Bing Xing dan Xian Xuenai, kedua gadis itu tersenyum dan menjawab dengan ramah ucapan dari Mo Qing.
Setelah berbasa basi dan pamit, Mo Qing membawa Ou Ke keluar dari ruang Penginapan Han Xiao dan dua gadis tersebut.
"Ayo beristirahat esok kita akan menuju Pulau Es Menyendiri, kita tidak tahu apa yang ada didalam sana. Walaupun aku yakin dengan kekuatan Han Xiao, setidaknya kita juga harus bersiap siaga," ajak Bing Xing pada Xian Xuenai.
Xian Xuenai membalas dengan ramah dan riang, dia dengan senang mengikuti ajakan Bing Xing untuk beristirahat di kamar.
***
Sementara itu di Akademi Naga dan Phoenix, Ne Zha tengah mentap penuh serius pada Ren Yanyu yang kini sudah mulai membangun Istana Takdir lainnya, butuh beberapa jam baginya untuk membuka kesempatan agar Ren Yanyu bisa membuka Istana Takdir berikutnya, sekarang semuanya tergantung pada Ren Yanyu, apakah gadis itu bisa membuka satu demi satu kunci dari Enam Istana dari sepuluh hingga lima belas.
"Beruanglah Yu'er," gumam Ne Zha penuh harapan.
***
Matahari menjulang mulai menerangi seluruh hamparan tanah hingga lautan, sela-sela jendela dipenuhi oleh cahaya yang terus menelisik masuk hingga menyentuh wajah seorang pemuda berparas tampan dan riang, kelopak mata pemuda itu terbuka menunjukan sebuah iris mata biru gelap yang sangat indah.
"Hoaaam nyenyak sekali." Han Xiao meregangkan tubuhnya, namun dia segera merasa ganjal ketika ada sebuah beban pada dadanya.
Mata Han Xiao terarah pada dadanya, dia melihat dua gadis yang tertidur dengan nyenyak disana.
"Apa-apaan mereka?" Han Xiao menggernyitkan dahinya ketika mendapati Bing Xing dan Xian Xuenai yang tertidur pulas seraya memeluknya erat.
__ADS_1
Han Xiao ingin membangunkan dua gadis tersebut, namun perasaan tidak tega menjalari tubuhnya ketika melihat wajah damai dari kedua gadis tersebut, hingga Han Xiao memilih untuk diam dan menonton dua gadis bagaikan malaikat itu tertidur berbaring padanya.
"Untung ada banyak persediaan makanan di Cincin Spasialku," batin Han Xiao seraya mengeluarkan Tofu Bulat dari Cincin Spasialnya beserta beberapa Otak-otak untuk mengisi perutnya di pagi hari ini.
Pemuda itu dengan santai memakan Tofu Bulat dan Otak-Otak seraya menonton dua keindahan yang tertidur damai dalam pelukannya, sebuah senyum terlepas dari mulut Han Xiao, "Xian Chin sayang, kau tidak ingin ikut tidur disini?" kelakar Han Xiao.
"Aku lebih berpikir kau yang ingin tidur bersamaku," suara indah Xian Chin menanggapi Han Xiao.
"Pernah terlewat dalam pikiranku kau adalah penguasa dunia yang kebosanan atau tidak memiliki pekerjaan, bahkan kau selalu menjawab ocehan tidak jelas dariku," celetuk Han Xiao dalam hatinya dengan nada menjengkelkan khas dari dirinya.
"Terserah apa katamu, bagus jika kau menyadari bahwa ocehanmu tidak jelas," sahut suara Xian Chin tidak kalah mengesalkan untuk Han Xiao.
Han Xiao ingin berinteraksi lebih lama namun sayangnya Xian Chin tidak meresponnya lagi, hal itu membuat Han Xiao kesal, dia mengigit dengan penuh nafsu pada Otak-Otak di tangannya.
Entah berapa banyak makanan yang Han Xiao habiskan, sudah hampir dua jam dan akhirnya kedua gadis itu mengerjapkan mata secara bersamaan.
"Selamat pagi para bidadariku," sapa Han Xiao dengan senyum yang sangat lebar.
***
Update Mingguan : 01/14
Update Merdeka : 04/75
Dua list digabung biar ga lieur:)
__ADS_1