Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab209. Hukuman


__ADS_3

"Apa kabar dengan pemimpin Ras Pola Hnatu yang kau tangkap?" Xiao Jiang tiba-tiba teringat pada Mo Yanjing yang ditangkap oleh Han Xiao.


Mata Han Xiao segera berkedip dingin tapi dalam sekejap berubah menjadi hangat dan riang kembali, "Ah kau mengingatkanku, terimakasih. Apakah kau ingin menonton pertunjukan?" tawar Han Xiao pada Xiao Jiang.


"Pertunjukan?" Xiao Jiang mengerutkan dahinya.


"Aku ingin memberikan hukuman pada Baj!ngan sialan itu," ujar Han Xiao ringan.


"Boleh," balas Xiao Jiang.


Han Xiao tersenyum lebar sebelum mengajak orang yang ingin menonton 'pertunjukan' yang dia bawakan ke sebuah ruangan yang sudah dimintanya pada Presiden Mu untuk melakukan hukuman.


Sesampainya di ruangan berukuran sedang itu Han Xiao mengeluarkan sesosok pria dari tubuhnya, selama ini Mo Yanjing dia simpan pada Pagoda Mimpi Buruk, disana Han Xiao meperintahkan pria pemilik mata Mimpi Buruk untuk memberikan mimpi terburuk pada Mo Yanjing selama ada disana.


Kekuatan dari Mata Dewa sungguh menakutkan, mimpi buruk yang didapat oleh Mo Yanjing benar-benar menakutkan, ketika pria itu keluar dari Pagoda Mimpi Buruk dan bangun dari mimpi buruknya, segera dia dipenuhi rasa syukur yang sangat tinggi.


"Ekhm..." suara dehaman ringan dari belakangnya membuat punggung Mo Yanjing menjadi sangat dingin.


Suara itu, suara itu dimiliki oleh orang yang menjadi mimpi terburuknya!


"Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?" Han Xiao tersenyum riang pada Mo Yanjing, namun tidak ada rasa kagum atau riang ketika melihat senyuman pemuda tersebut, justru sebuah kengerian yang sangat dalam tercetak pada kedalaman mata Mo Yanjing.


"Nyenyak kepalamu!" kutuk Mo Yanjing dalam hati.


"Aku masih belum puas denganmu," ujar Han Xiao gamblang, dia berjalan dan menyentuh pundak Mo Yanjing.

__ADS_1


Tubuh pria itu seolah tersetrum ketika mendapat tepukan ringan dari Han Xiao, dia yakin bahwa Han Xiao tidak mengalirkan Qi apapun, tapi ras tadi adalah reaksi tubuhnya yang ketakutan ketika disentuh pemuda monster tersebut.


"Aku ingin mengetahui apa salahku? Mengapa kau menyiksaku seperti ini sedangkan seluruh Ras ku kau musnahkan?!" tanya Mo Yanjing dengan getir, dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menatap monster dihadapannya yang kini tengah tersenyum riang kearahnya.


Tiba-tiba senyum riang itu digantikan oleh senyum dingin yang haus darah, tubuh Mo Yanjing bergetar keras. Dia menyadari bahwa dia telah salah bicara hinga membuat monster itu bangkit kembali.


"Kau ingin tahu?" ucap Han Xiao dengan nada lambat-lambat.


Mo Yanjing tidak menjawab, dia terdiam namun matanya menunjukan bahwa dia sangat penasaran.


"Kau mengatakan bahwa kau turun tangan karena anakmu hendak terbunuh? Tentu kau merasakan cinta dan kasih sayang pada anakmu bukan?" Han Xiao menatap riang pada Mo Yanjing, tapi Mo Yanjing yakin bahwa tatapan riang itu lebih mematikan dari tatapan dingin para monster.


"Aku memang tidak memiliki anak, tapi aku memiliki orang yang kucintai. Apa reaksimu jika orang yang kau cintai akan dibunuh? Dan saat setelah menyelamatkannya pun dia mati karena hancurnya Dantian dan Roh Beladirinya?" ujar Han Xiao dengan nada tersirat kesedihan yang dalam, namun dalam sesaat Han Xiao mematikan nada tersebut dan menatap nyalang pada Mo Yanjing.


Mo Yanjing hendak mengeluarkan suara, tapi segera tubuhnya terhempas jatuh ke lantai, punggungnya terasa sangat lemas seolah tidak memiliki tulang dan tenaga. Rasa sakit langsung memenuhi sekujur tubuh Mo Yanjing, pria itu memekik namun tidak ada suara yang keluar.


"Aku mematikan seluruh jaringan meridianmu, kau juga tidak akan bisa berbicara karena aku mengunci titik pita suaramu," ucap Han Xiao ringan seraya menghampiri Mo Yanjing.


"Kau terlalu bodoh," kekeh Han Xiao, ketika dia menepuk pundak Mo Yanjing, dia segera menginvasi tubuh pria tersebut dan mematikan sebagian besar titik meridian, pun dia tidak segan untuk menggeserkan tulang belakang Mo Yanjing agar pria itu tidak bisa bangkit.


Mo Yanjing kini tengah memasang ekspresi yang sangat kesakitan, titik meridian yang dimatikan secara paksa akan membuat penyiksaan paling menyakitkan untuk kultivator!


"Ah tidak seru jika tidak ada yang berteriak," celetuk Han Xiao, dengan totokan tangannya, suara Mo Yanjing yang berteriak segera bergema di ruangan.


Para gadis yang menonton 'Hukuman' yang diberikan oleh Han Xiao bergidik ngeri, jika itu mereka. Mereka akan lebih baik mati secara instan!

__ADS_1


"AAAAAAAMPUUUUUN!!!! BUUUUNUUH SAAJAAAA AAAKUUUU!!!" pekik Mo Yanjing parau penuh kesakitan, air mata darah mengalir pada matanya serta empat lubang indra lainnya.


"Enak saja ingin mati semudah itu, tebus dulu dosamu dan terima hukumanmu, setelah itu aku akan mempertimbangkan apakah kau layak mati atau tidak," celetuk Han Xiao dengan ringan.


"AAAAAAARGHHH!!!" Mo Yanjing berteriak penuh kesakitan dan frustasi.


Han Xiao yang berada di depan Mo Yanjing terdiam seolah menikmati siksaan yang diterima oleh Mo Yanjing, sebuah ide terbesit pada kepala Han Xiao.


Tangan Han Xiao terulur pada dada Mo Yanjing, sebuah cahaya terang segera memancar dari tangan Han Xiao dan masuk kedalam tubuh Mo Yanjing.


Mo Yanjing merasakan firasat terburuk ketika melihat yang dilakukan oleh Han Xiao, sesaat saja dia segera merasakan rasa sakit yang dahsyat dari dada nya. Lebih tepat pada bagian hatinya.


"Manusia memiliki 14 titik meridian pada hati, kau tau apa yang akan terjadi jika 14 titik meridian itu dihancurkan? Ya itu yang kau rasakan sekarang, rasa itu sama dengan rasa sakit yang kurasakan ketika kehilangan Ruan Jian," papar Han Xiao dengan santai.


Napas Yang Shui, Yang Qianfan, Bing Xing, Xiao Jiang dn Xiao Wushuang bergidik penuh ketakutan melihat apa yang dilakukan oleh Han Xiao, apa yang dilakukan pemuda itu lebih menakutkan daripada hukuman mati!


"Rasakan sakit itu, barulah kau akan mengetahui kenapa aku menyiksamu," tandas Han Xiao dingin.


Mo Yanjing berteriak kesakitan dan penuh putus asa, tidak pernah dulu dalam mimpi terliarnya pun dia seorang kultivator Alam Dewa akan merasakan siksaan mengerikan seperti ini. Hanya ketika dia masuk kedalam pagoda aneh itulah dia bermimpi hal yang paling dia takutkan selama ini, serta berbagai penyiksaan yang diberikan sosok pemuda di hadapannya, dan seolah tidak cukup dia disiksa pada alam mimpi, kini dia harus menerima 'hukuman' ketika dia bangun.


Rasa sakit meridian yang dihancurkan sungguh bagaikan neraka bagi kultivator, secara perlahan rasa yang berada pada hati Mo Yanjing menghilang, kini hatinya seolah sudah mati dan tidak mengenal rasa apapun lagi. Hanya tubuhnya lah yang merasakan sakit, hatinya sudah mati.


***


Update Mingguan : 09/14

__ADS_1


__ADS_2