Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab390. Ujian Hati


__ADS_3

"Tahan." Saat hendak saja Ne Zha bersama Xian Xuenai dan Feng Jin memasuki pintu lantai pertama, wanita cantik di belakang meja berseru rendah.


Ne Zha mengangkat alisnya dengan memasang ekspresi bertanya.


"Kau, kau adalah Kultivator puncak Raja Abadi, selain di puncak. Kau bisa menembus kapan saja ke Alam Kaisar, dengan tingkatanmu. Kau tidak perlu mengikuti ujian ini," ujar wanita tersebut.


Ne Zha menatap Xian Xuenai, dia mengetahui bahwa Xian Xuenai hanya setengah langkah ke Alam Kaisar, tapi siapa sangka bahwa gadis itu tidak melangkah ke Alam berikutnya.


"Kenapa kau bertahan di Alam Raja Abadi?" tanya wanita cantik itu.


"Agar ujian di lantai ini tidak terlalu sulit bagiku," jawab Xian Xuenai.


Memang, Menara Tianxia akan memberikan ujian sesuai dengan tingkatan Kultuvasi, semakin tinggi. Maka semakin sulit juga ujian yang akan dihadapi.


"Kau lulus, jika kau ingin. Kau bisa ke lantai kelima untuk menguji keberuntunganmu. Itu adalah pilihan, kau bisa pergi atau tidak." Wanita itu melambaikan tangannya lalu token pada tangan Xian Xuenai bersinar menunjukan angka lima.


"Itu adalah poinmu, satu lantai bernilai satu poin, jika kau ingin menambahna. Kau bisa pergi ke lantai lima," terang Wanita cantik itu.


"Aku pergi!" Xian Xuenai memilih untuk menambah poinnya, dia ingat bahwa Poin ini bisa ditukar dengan barang-barang yang sangat baik di Menara Tianxia. Ini terjadi di lantai tiga pada saat Xian Chin pergi dulu.


Wanita itu memberi tanda untuk Ne Zha dan Feng Jin masuk ke pintu lantai pertama, setelah melihat Ne Zha dan Feng Jin masuk ke lantai kedua. Wanita itu tersenyum pada Xian Xuenai.


"Ayo, kutunjukab kau ke lantai kelima," ajak wanita itu.


Xian Xuenai dengan senang hati mengikuti sang wanita, dia ingat bahwa dunia di Menara Tianxia tidak ada yang biasa, harta di dalamnya pasti sangatlah berharga. Xian Xuenai tidak ingin melewatkan hal baik seperti ini, jikapun dia harus masuk dari lantai satu hingga empat. Xian Xuenai tidak akan mengeluh karena fia menginginkan lantai kelima.


Sampailah Xian Xuenai dengan wanita tadi ke sebuah pintu, aksen kuno dan ukiran indah tercetak pada pintu kayu tersebut.

__ADS_1


"Silahkan masuk," ujar wanita itu.


Xian Xuenai mengatakan terimakasih lalu masuk ke dalam.


***


Seluruh Alam Semesta di Kesatuan dibuat gemetar, baru hari pertama Menara Tianxia dibuka, tetapi sudah ada yang masuk ke lantai dua.


Tentu saja akan ada tanda-tanda dari luar jika seseorang telah masuk ke lantai dua, tingkatan Menara Tianxia ada lima, dengan cahaya yang menyala. Itu menandakan ada peserta yang suda masuk kesana.


Lantai dua telah bersinar seperti lantai pertama, itu menandakan bahwa ada peserta yang telah masuk ke lantai dua!


Para Kaisar berkomunikasi dengan sangat panik, mereka saling lempar tanya mengenai siapa yang telah mencapai lantai dua, setelah satu hari perdebatan saling tanya. Mereka segera mengetahui jawabannya.


Tidak ada satupun murid mereka yang mencapai lantai dua, maka sudah dipastikan. Peserta dari Alam Semesta Waktu lah yang telah mencapai ke lantai berikutnya.


"Bagaimanapun Xian Xuenai bersama mereka, biarpun Menara Tianxia berubah, setan kecil itu masihlah memiliki pengetahuan paling luas." Kaisar Dewa mengelus dagunya saat menatap layar proyeksi yang menunjukan muridnya.


Pada layar proyeksi, Yalan yang sedang duduk berkultivasi secara tiba-tiba mengeluarkan tongkat dari Cincin Spasialnya. Pada detik itu juga dia mengangguk.


"Guargh..." Kaisar Dewa memuntahkan seteguk darah, dia telah melanggar satu tabu dari Menara Tianxia, memang para Kaisar tidak bisa memberikan arahan karena kekuatan misterius dari Menara Tianxia, tetapi dengan bantuan Alat Dewa. Kaisar Dewa bisa mengirim transmisi suara satu arah. Namun, harga yang dibayar sungguh sangat mahal, itu adalah lima persen kekuatan dari Kaisar Dewa harus dikorbankan.


Tetapi tidak ada penyesalan pada Kaisar Dewa, dia sungguh ingin seluruh murid Kaisar ini bersatu dan membunuh Xian Xuenai dan lainnya.


"Dua bocah yang dikabarkan Kaisar Angin sungguh berbahaya, kuharap Yalan mengetahui batasannya sesuai arahanku." Kaisar Dewa menghembuskan napasnya, dia sungguh tidak pernah merasa takut dengan siapapun atau apapun. Tapi untuk kali ini, dia takut muridnya terbunuh, yang berarti itu juga imiannya akan ikut terbunuh.


***

__ADS_1


"Dimana ini?" Ne Zha mengedarkan pandangannya, serentak saja dia terkejut bukan main saat sebuah sentuhan menyapa pundaknya.


"Sayang, kau sudah pulang. Ibu merindukanmu nak," suara indah terdengar sangat hangat di telinga Ne Zha, sebuah rengkuhan juga melingkar pada pinggang pemuda tersebut.


Ne Zha mengarahkan pandangannya hatinya berggetar saat melihat manik mata hitam legam bagaikan langit malam, kilauan dari manik mata itu bagaikan bintang-bintang yang menghiasi langit.


"Tidak, ini ilusi!" Ne Zha segera melepaskan rengkuhan dari sosok wanita yang tak lain adalah Ibunya.


Ne Zha ingat bahwa dirinya memasuki lantai pertama Ujian, segera saja seteah Ne Zha melepaskan rengkuhan ibunya, sosok wanita itu segera mengabur dan hilang.


"Ilusi di sini sangat kuat, itu mengambil bagian dari memori kenangan." Ne Zha menarik napas dingin, kini dia sungguh berharap Feng Jin bisa melewati tanpa masalah, karena dia tahu jika sekali saja terjebak dalam ilusi ini. Bukan tidak mungkin akan terjebak selamanya.


Pada saat berikutnya, sebuah jembatan muncul, di sana terdapat orang-orang yang berbondong-bondong menyebrang karena di sebrang sana ada gundukan harta yang sangat menggoda, berbagai senjata, sumber daya dan lainnya.


Namun, tidak ada satupun yang sampai ke sebrang sana, orang-orang itu jatuh ke bawah yang marupakan kawah api magma.


"Kekayaan sesunghuhnya terletak pada bahaya." Ne Zha membaca sebuah plakat yang melayang di atas jembatan.


Sekali lagi Ne Zha menatap jembatan, lalu kawah Magma, "Kekayaan sesungguhnya terletak lada bahaya?" Seraya mengulang kata tersebut, Ne Zha langsung mendapat pencerahan.


Memang, terlihat bahwa jembatan yang hanya terbuat dari tali itu berada di atas kawah Magma, itu sangat berbahaya dan di sebrang sana ada harta yang sangat melimpah, itu persis seperti kata-kata di Plakat.


"Tidak, arti kata 'Sesungguhnya' mengartikan bukanlah harta di sebrang. Namun, di tempat lain." Segera pikiran Ne Zha menjadi liar, memang jembatan itu berbahaya, tapi ada yang lebih berbahaya. Yaitu masuk ke kawah Magma!


"Tidak ada salahnya mencoba, ini hanya ilusi." Ne Zha memutuskan untuk menceburkan diri ke Kawah Magma.


Ketika Ne Zha berlari dan melompat, orang-orang yang sedang berbondong di jembatan menatap gila, seolah melihat orang yang sedang bunuh diri. Itu hanya terjadi sesaat, sebelum Ne Zha menghilang di Kawah Magma, orang-orang itu segera kembali berbondong-bondong lagi untuk menyebrang.

__ADS_1


***


Update Mingguan : 03/14


__ADS_2