
Karena perang sudah berakhir, Ne Zha, Han Xiao dan lainnya pergi menuju Bintang Cahaya Ungu. Di sana mereka pergi menuju pusat Bintang yang terdapat sebuah Istana megah yang seluruh bangunannya terbuat dari Kristal berwarna ungu menyala, hal itu membuat Istana terlihat sangat mewah dan mengagumkan.
Ketika mereka masuk ke Istana, di sana terdapat Matriark Xiu dengan para jenderal dan petinggi-petinggi dari Alam Semesta Waktu.
"Dimana Xing Yi,Ching Shi, Yin Hulin dan She Ling?" Xian Chin bertanya pada sesosok tinggi, sosok itu tak lain adalah salah satu jenderal dari Alam Semesta Waktu.
"Karena disibukkan menjaga Wilayah lain, keempat Kaisar tersebut terlambat datang. Dari informasi yang mereka kirim, mereka akan tiba dalam waktu dekat." Jenderal menjelaskan beberapa saat lalu, keempat Wilayah yang dijaga oleh keempat Kaisar mendadak melemah, hal itu membuat keempat Kaisar dengan mudah melakukan pembantaian sehingga kini mereka tengah menuju kemari untuk memberikan bantuan.
Xian Chin mengangguk ringan, dia memberikan perintah untuk semua agar membubarkan diri dari Istana, saat tatapan Xian Chin melintas pada Matriark Xiu, dia memberi tanda agar Matriark Xiu tinggal sementara para pasukannya meninggalkan Istana. Matriark Xiu dengan patuh memerintahkan seluruh anggota Sekte-nya agar keluar dari Istana.
"Matriark Xiu, lama tidak berjumpa." Han Xiao tersenyum lebar melihat Matriark Xiu.
Matriark Xiu tersenyum canggung membalas Han Xiao, jika itu adalah pria yang sama saat mereka pertama kali bertemu di Alam Semesta Air, tidak akan ragu dia membalas senyum Han Xiao dengan santai, tapi sekarang. Han Xiao telah menjadi eksistensi yang hanya bisa dia pandang jauh dari bawah.
"Beristirahatlah, nanti akan ada orang yang menjemputmu untuk bergabung dalam pertemuan." Xian Chin berkata.
"Terimakasih atas kebaikan Yang Mulia." Matriark Xiu membungkuk penuh rendah hati dan rasa terimakasih, jika bukan karena Xian Chin membiarkan mereka bergabung dengan Alam Semesta Waktu, kemungkinan besar dirinya sudah tiada dan juga nama Sekte-nya hanya akan menjadi sejarah.
Matriark Xiu diantar oleh pelayan dari Istana, setelah kepergian Matriark Xiu. Kini hanya menyisakan Ne Zha, Han Xiao, Xian Chin, Xian Xuenai, Feng Jin, Su Lihwa, Bing Xing, Yang Shui, Qian Du, Qin, Gouyu dan Yan Zhong.
"Sebaiknya kita semua beristirahat terlebih dahulu seraya menunggu Xing Yi dan lainnya datang, terdapat banyak kamar di sini, pilihlah seenak hati kalian." Setelah mengatakan itu, Xian Chin pergi bersama Han Xiao meninggalkan ruang utama Istana.
__ADS_1
Melihat kepergian Han Xiao, Ne Zha mengerutkan keningnya saat merasakan tatapan padanya, dia mengalihkan pandangan ke sisi kanan. Mata Ne Zha mendapati Su Lihwa yang kini menarik-narik lengan jubahnya.
"Ada apa?" tanya Ne Zha bingung.
Mata Su Lihwa melotot kesal karena Ne Zha tidak mengerti arti tatapannya, "Ayo istirahat!" Pada akhirnya Su Lihwa memilih untuk mengatakan niatnya secara langsung.
Ne Zha tersedak napasnya ketika mengerti arti dari perkataan Su Lihwa, dia terkekeh ringan sebelum mengikuti Su Lihwa pergi.
"Kalian berdua tidak seperti mereka? Beristirahat bersama?" Xian Xuenai menatap Gouyu dan Yan Zhong.
Mendengar perkataan Xian Xuenai, Gouyu dan Yan Zhong tersenyum canggung sebelum pergi bersama setelah mengatakan selamat istirahat kepada Xian Xuenai dan lainnya yang kini masih di ruang utama Istana.
Saat ini di ruang utama Istana tersisa Xian Xuenai, Feng Jin, Yang Shui, Bing Xing, Qin dan Qiandu.
Melihat kepergian Xian Xuenai dan Feng Jin, Yang Shui menggelengkan kepalanya ringan, kini tatapannya jatuh pada Bing Xing. Yang Shui menghela napas ringan sebelum mengajak Bing Xing pergi bersama mencari tempat untuk beristirahat, kini tersisa Qin dan Qiandu, mereka berdua saling tatap sebelum terkekeh ringan. Keduanya juga melenggang pergi mencari kamar untuk beristirahat, petualangan di Menara Tianxia benar-benar membuat mereka harus beristirahat.
***
Bruk...
Pintu ditutup dengan hempasan kasar, dua insan saling berpelukan bercumbu dengan penuh hasrat, wajah keduanya memerah seolah terbakar saat kedua bibir mereka bertaut saling mengigit untuk merasakan masing-masing rasa.
__ADS_1
Pertautan itu terlepas sejenak, pemuda berambut biru gelap itu menyeringai lebar menatap gadis cantik dalam pelukannya.
"Kau membuatku hampir mati penasaran saat itu, kini kau harus membayarnya," desis Han Xiao seraya perlahan melonggarkan pakaian Xian Chin.
Xian Chin menghentikan tangan Han Xiao, gadis itu menatap dengan sombong, "Kau pikir mudah membuatku membayar? Pertama-tama kau harus yakin apakah bisa membuatku puas? Pria selalu memikirkan kepuasannya sendiri dan tidak memikirkan kepuasan pasangannya."
"Pada siapa kau bertanya? Kau seharusnya mengetahuinya, aku akan membawamu ke surga," kekeh Han Xiao, tanpa menunggu lagi dia membawa Xian Chin ke ranjang dan memulai pergulatan erotis mereka.
***
Di kamar lain, dua gadis baru saja selesai membersihkan tubuh mereka dan kini duduk berdua ditemani oleh secangkir Teh dan pemandangan indah Bintang Cahaya Ungu, dari balkon tempat mereka duduk ini mereka melihat hamparan luas yang terdapat flora dan fauna menakjubkan serta eksotis.
"Kau tidak masalah bahkan mengetahui pria yang kau cintai tidur dengan wanita lain tepat di depan wajahmu?" Sosok yang berbicara itu menggunakan jubah biru muda lembut yang memberikan kesan tenang, saat melihat wajahnya ketenangan akan bertambah berkali-kali lipat seolah melihat aliran Air yang damai, gadis itu tidak lain adalah Yang Shui.
Suara kekehan ringan terdengar dari samping Yang Shui, suara kekehan itu terlepas dari Bing Xing yang kini baru saja meletakan cawan Teh.
"Kau tahu? Sulit bagiku untuk mengatakan kesal, marah atau cemburu. Aku menerima Han Xiao apa adanya selagi dia membagikan rasa sayangnya secara merata, dan sejauh ini dia melakukan itu. Aku tidak masalah karena aku juga mengetahui tepat hanya ada tiga wanita di hati Han Xiao," jawab Bing Xing santai.
Yang Shui tidak perlu bertanya siapa saja ketiga wanita tersebut, sudah dipastikan itu adalah Xian Chin, Ruan Jian dan Bing Xing.
"Aku ingin tahu kenapa kau bisa jatuh cinta padanya," ujar Yang Shui.
__ADS_1
Tangan Bing Xing yang hendak mengangkat cawan membeku sejenak, dia tertawa kecil ketika mengingat bagaimana pertemuan dengan Han Xiao di Hutan Kegelapan, saat itu dia berada dalam keadaan terpojok dan dihadapkan oleh dua pilihan, mati atau dinajiskan oleh Ming Weisheng pangeran kesebelas Kekaisaran Ming. Tidak pernah dalam pikirannya terlintas ada orang yang menyelamatkannya, memang yang membuat langkah pertama adalah Ne Zha, tetapi yang membunuh Ming Weisheng dan menaruh tanda sangat dalam pada Bing Xing adalah pemuda ceroboh yang sembrono. Han Xiao.
Yang Shui tersenyum, dia tidak menyangka pertemuan mereka begitu unik.