Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab245. Tidak terduga


__ADS_3

Bing Xing mendongakkan kepalanya untuk menatap Han Xiao, mata gadis itu sangat polos ketika bertemu dengan mata biru Han Xiao.


"Kenapa diam Han? Apakah benar yang aku katakan? Cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan?" Bing Xing menatap lekat pada wajah Han Xiao, dalam kondisi mabuk seperti itu, Bing Xing melihat wajah Han Xiao berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya.


Gadis itu bergerak untuk memajukan dirinya menghampiri wajah Han Xiao, tentu saja pemuda itu terkejut. Namun dia sudah terbiasa jadi dengan cepat menenangkan diri.


"Xing kau lebih baik beristira..." Han Xiao belum menyelesaikan kalimatnya ketika Bing Xing dengan sembrono maju padanya mendekatkan wajah mereka.


Dengan cekatan Han Xiao membungkam bibir Bing Xing dengan tangannya agar tidak mendarat pada bibirnya, Han Xiao tidak ingin dia jatuh kedalam hasrat yang nanti akan berbuat buruk pada Bing Xing.


Bing Xing juga berhenti ketika bibirnya ditahan dengan cara membungkam mulutnya, gadis itu mengigit tangan Han Xiao lalu mendengus kesal.


"Kau bahkan menolak ciuman dariku, sudah jelas bukan bahwa perasaanku ini hanya aku saja yang memilikinya?" Bing Xing memundurkan wajahnya, dia kembali memeluk Han Xiao dan menenggelamkan wajahnya pada dada Han Xiao.


"Bukan begitu maksudku Xing," lirih Han Xiao dengan sedikit menahan tawa ketika melihat Bing Xing yang kini marah padanya seperti anak kecil.


"Lalu bagaimana?!" ujar Bing Xing yang masih menenggelamkan wajahnya.


Dengan paksa Han Xiao dibuat menggaruk kepalanya lagi oleh Bing Xing, pemuda itu bingung dengan apa yang harus dilakukannya, pada akhirnya pemuda itu hanya menghela napas panjang sebelum kembali mengelus rambut Bing Xing.


"Aku takut kehilangan kendali, hasratku sangat membara jika sudah terpancing, aku tidak ingin melakukan itu padamu," ucap Han Xiao seraya mengelus-elus pucuk kepala Bing Xing dengan lembut.


"Lalu kenapa?" balas Bing Xing.


Han Xiao mengerutkan keningnya, dia heran apakah Bing Xing benar-benar mabuk atau tidak, gadis itu bisa berkomunikasi normal dengannya walaupun secar terang-terangan bersungut-sungut padanya.


"Aku takut kau kenapa-napa, musuhku akan menjadi puluhan bahkan jutaan ketika aku keluar dari Benua Angin Selatan, aku tidak ingin kau celaka karena ada rumor yang menyebar tentang hubungan kita," kata Han Xiao dengan santai.


"Aku tidak perduli." Bing Xing kini kembali mendongakkan kepalanya, dia menatap Han Xiao dengan pandangan penuh menantang.

__ADS_1


"Kau khawatir padaku, apakah kau memiliki perasaan yang sama denganku?" ceplos Bing Xing dengan ringan.


Sungguh! Gadis ini sangat tidak memiliki rem pada mulutnya ketika mabuk, ketika dalam kondisi normal, gadis itu sangat hemat berbicara. Namun berbeda dengan yang sekarang. Han Xiao bahkan berkali-kali dibuat terbungkam karena kata-kata dari Bing Xing.


"Aih kau terlalu banyak minum, sudah tidurlah." Han Xiao memukul pelan bagian titik pada punggun Bing Xing, gadis itu segera teratuh tidur di dadanya. "Maafkan aku," lirih Han Xiao.


"Kau tidak aku maafkan jika belum menjawab pertanyaanku yang sebelumnya." Han Xiao terkesiap ketika mendengar suara Bing Xing.


Pemuda itu menatap pada dadanya, disana Bing Xing kembali menatapnya dengan penuh tantangan, "Kau sangat keras kepala," gerutu Han Xiao, dia sungguh tidak percaya Bing Xing terbangun setelah ditotok olehnya.


Bing Xing menyerbu dengan sangat cepat, gadis itu menarik tengkuk Han Xiao dan segera menautkan bibirnya dengan Han Xiao, rasa puas mengisi tubuh Bing Xing ketika dia berhasil melakukan aksinya.


Han Xiao dengan cekatan melepaskan pertautan bibir mereka, dia benar-benar tidak ingin terbawa oleh hasratnya.


"Kau tidak menginginkanku?" gerutu Bing Xing.


Sebuah cahaya biru redup memancar dari tubuh Bing Xing, sekejap kemudian mata gadis itu menjadi lebih jernih dari sebelumnya, "Siapa bilang? Aku akan melakukannya walaupun tersadar seperti sekarang," tantang Bing Xing.


Han Xiao mengumpat dalam hatinya, baru kali ini dia diperlakukan oleh gadis seperti ini, biarpun di dunianya dulu banyak gadis yang melemparkan diri padanya, namun Han Xiao tidak pernah mengalami hal seperti ini. Bing Xing memiliki keberanian yang berbeda dengan gadis-gadis yang menceburkan diri padanya.


"Xing, kau sudah sadar kan? Kau bisa tidur sendiri, aku pamit." Han Xiao hendak beranjak dari ranjang, namun Bing Xing segera menabrak pemuda itu.


Kini Han Xiao berada dibawah tubuh Bing Xing, gadis itu dengan serampangan menatap Han Xiao.


"Kau harus bertanggung jawab atas rasa yang kumiliki," ujar Bing Xing.


"Kenapa begitu?" tanya Han Xiao heran.


"Aku tidak ingin merasakan patah hati," bisik Bing Xing, gadis itu kembali menyerang Han Xiao, kali ini Bing Xing menginvasi bagian dari mulut Han Xiao, walaupun dia tidak memiliki pengalaman, namun dia menyukai rasa yang diberikan oleh bibir Han Xiao, itu sangat manis dan lembut.

__ADS_1


"Xing!" Han Xiao sedikit berseru ketika kembali melepaskan dirinya dari Bing Xing.


Bing Xing terdiam, dia menatap nanar pada Han Xiao, sungguh dia sebenarnya tidak ingin melepaskan diri dari Han Xiao, aroma opium yang menguar dari tubuh Han Xiao sungguh menjadi candu baginya, Bing Xing sangat menyukai aroma unik tubuh Han Xiao. Dia benar-benar hanyut jika berdekatan seperti ini dengan Han Xiao, seolah tidak perlu alkohol baginya untuk memabukan dirinya ketika bersentuhan dengan Han Xiao.


"Han... Kau benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padaku? Kau bahkan tidak ingin menyentuhku atau sekedar membalas ciumanku? Ah tidak, memang aku saja yang terlalu berharap padamu," ujar Bing Cing dengan sangat lirih.


Han Xiao dibuat kalut oleh Bing Xing, sebuah rasa bersalah tiba-tiba muncu dalam hatinya. Pemuda itu memilih untuk sedikit melunakan keras kepalanya, setidaknya dia bisa menghibur Bing Xing untuk saat ini. Sebelum dia pergi ke Benua Kayu Tengah dalam waktu dua hari kedepan.


Pemuda itu merengkuh tubuh Bing Xing, sebuah senyuman indah terpatri pada wajah tampan Han Xiao, "Siapa yang bilang seperti itu? Kau tahu, aku memiliki sedikit rasa padamu, karena hal yang sedikit itulah aku tidak berani menyuarakannya."


Bing Xing sempat terdiam ketika mendengar perkataan Han Xiao, dia menatap han Xiao dengan sangat lekat, "Kau serius?" tanyanya.


Han Xiao mengengguk ringan, kini Han Xiao yang mengambil inisiatif untuk mencium Bing Xing, dia memainkan lidahnya untuk menginvasi titik-titik pada lidah Bing Xing secara ahli, Bing Xing tidak sengaja melepaskan sebuah erangan ketika pertautan panas itu membuat pandangannya berkabut.


"Aku akan membuat rasa sedikit yang dimilikimu menjadi banyak padanku." Bing Xing segera melepaskan jubah yang dikenakannya.


"Kau yang meminta." Han Xiao menyeringai.


Han Xiao menarik Bing Xing dan memposisikan gadis itu berada dibawahnya, sesaat kemudian Han Xiao merasakan aneh, tangannya yang tadi menginvasi tubuh Bing Xing dia tarik dan menatapnya.


"Kau sedang datang bulan," lirih Han Xiao ketika melihat darah kental melumuri tangannya.


Bing Xing yang berada dibawah pemuda itu segera memerah karena malu, "aku tidak mengetahuinya," sahut gadis itu dengan nada yang sangat malu.


***


Update Mingguan : 07/14


Update Merdeka : 10/75

__ADS_1


__ADS_2