
Bletak...
"Eh aku salah pukul." Han Xiao menyeplos saat melihat bukanlah Pin yang melayang, tapi pemuda tadi.
Para penonton menatap ngeri pada Han Xiao, jelas bahwa Han Xiao tengah mempermainkan dan memukuli pemuda itu secara tidak langsung. Para peserta yang menonton menjadi lebih waspada, mereka kini belajar dari tim Raungan Singa, bahwa dilarang memprovokasi tim Kilat Es sebelm pertandingan dimulai, jika tidak mereka akan bernasib sama dengan pemuda tersebut.
Ou Ke yang melihat itu terpana, dia sebagai penduduk kota ini mengetahui bahwa tim Raungan Singa adalah salah satu kandidat terbaik untuk memenangkan turnamen kali ini karena adanya pemuda yang memiliki Istana Bumi tersebut. Dia awalnya sudah lemas ketika mengetahui lawannya adalah tim Raungan Singa, tapi siapa sangka justru kini seluruh tim Raungan Singa tengah dipermainkan oleh pemuda berambut biru itu seorang diri.
Permainan Han Xiao sungguh menakjubkan, dia dengan lincah melewati sati persatu anggota tim Raungan Singa, jika pemuda itu tidak sempat untuk mengelak, dia akan menghantamkan Pin pada orang yang menghalanginya.
Cara permainan pemud itu sangat brutal dihadapan orang lain yang menonton, Ou Ke sekarang tidak yakin apakah dirinya dibutuhkan atau tidak dalam pertandingan ini, melihat cara bermain Han Xiao yang sangat handal namun brutal tersebut, ada setitik kengerian bahkan dalam matanya. Tapi sebuah harapan besar tercetak pada mata Ou Ke.
"Kita akan memenangkan pertandingan ini!" batin Ou Ke sangat senang.
BAAM
Han Xiao sekali lagi membuat seluruh tim Raungan singa terjatuh, namun pemuda itu selalu dengan sengaja melesetkan tembakannya agar tidak masuk kedalam gawang dan memenangkan babak penyisihan ini.
"Kami menyerah!" seru Pemuda tadi, dia sudah tidak memiliki wajah dan tenaga untuk terus bertanding, dia jelas merasakan bahwa Han Xiao hanya ingin menyiksa mereka, sekarang dia merutuki nasib sialnya. Tubuh pemuda itu merinding ketika melihat dua gadis lainnya yang tadi berada disamping Han Xiao.
Sekarang pemuda itu baru merasakan sebuah ancaman besar yang terpancar dari kedua gadis tersebut.
Wasit segera meniup pluit, jika salah satu tim menyerah, maka itu adalah kemenangan lawan dari tim tersebut, tim Raungan Singa dengan tergopoh-gopoh kabur dari lapangan, mereka tidak menengok ke beakang untuk melihat Han Xiao karena mereka memiliki ketakutan yang sangat dalam.
"Pemenang pertandingan kali ini adalah tim Kilat Es!" seru wasit yang lalu disambut oleh teriakan penuh semangat dari penonton.
Han Xiao dan empat gadis lainnya berjalan keluar dari lapangan, mereka duduk lagi pada kursi penonton.
"Saudara Han, kekuatanmu sangat besar!" ujar Ou Ke dengan kagum.
Han Xiao menjawab dengan senyuman pada Ou Ke.
__ADS_1
"Saudara Han, apakah kita bisa memenangkan turnamen ini?" tanya Ou Ke dengan sedikit ragu.
"Tentu saja, kenapa memangnya?" jawab Han Xiao.
"Aku sangat berharap padamu, jika kita memenangkan turnamen ini. Aku ada sebuah pemintaan kecil," ucap Ou Ke.
"Permintaan kecil apa?" tanya Han Xiao.
"Ibuku tengah mengidap penyakit aneh, tabib mengatakan bahwa dalam tubuh ibuku terdapat sebuah racun dingin, dan hadiah utama dari turnamen ini adalah Teratai Api yang memiliki kegunaan untuk menghilangkan racun dingin pada tubuh ibuku, permintaanku memang sangat kurang ajar karena mengingat aku bahkan tidak bergerak sedikitpun. Tapi jika kau memberiku Teratai Api, aku akan mengabdi untuk menjadi budakmu pun tidak masalah," tutur Ou Ke dengan sangat panjang lebar.
Han Xiao tersenyum kecil ketika mendengar masalah yang dihadapi oleh Ou Ke, "Aku datang kesini hanya untuk bersenang-senang, kau bisa mengambil Teratai Api itu ketika kita memenangkan turnamen ini," balas Han Xiao.
***
Pertandingan demi pertandingan terus berjalan, Han Xiao dan lainnya sudah bertanding hingga tiga kali, dan memenangkan semuanya. Kini mereka tengah berada pada babak grand final, menyisakan empat tim yang akan saling bertanding.
Pemenang babak grand final ini akan melaju ke babak final yang akan menempatkan posisi pertama dan kedua nanti.
Han Xiao tersenyum tipis, bagi Ou Ke yang memiliki kultivasi Alam Emas memang akan sangat sulit berhadapan dengan orang-orang tersebut, namun baginya. Ini hanyalah sebuah permainan yang bahkan tidak menggelitiknya.
"Kota Laut Es memiliki banyak talenta bagus ya?" ujar Han Xiao.
Bing Xing mengangguk ringan, "Salah satu markas Sekte luar dari Istana Falcon Utara dibangun tidak jauh dari kota ini, jadi potensi orang-orang ini tergali dengan baik," jawab Bing Xing.
Han Xiao mengangguk ringan, kini pandangannya terarah pada pertandingan yang sedang berlangsung, berbeda dengan penyisihan. Poin yang harus didapat untuk melaju ke babak berikutnya dalah dua poin, sehingga mereka bertarung dengan lebih sengit dan lama.
Pertandingan berakhir dan yang memenangkan pertandingan itu bernama tim Tongkat Besi, setelah tim tersebut keluar dari lapangan, kini giliran tim Kilat Es melawan tim Elang Putih.
"Mulai!" wasit berseru lalu mundur.
Han Xiao tersenyum, dia segera melesat maju kedepan untuk merebut Pin dari pemin Elang Putih.
__ADS_1
"Mudah," suara Han Xiao terdengar santai oleh semua orang.
Tim Elang Putih tersedak saat melihat Pin sudah berada di gawang mereka dan Han Xiao yang tengah mengayunkan tongkat dengan santai berjalan menuju garis tim Kilat Es.
"Nama kami Kilat Es, sudah wajar bukan kami secepat kilat?" ujar Han Xiao lalu tertawa ketika melihat ekspresi bingung pada seluruh pemain Elang Putih.
"Lebih berhati-hati, perhatikan setiap gerakannya, kalau bisa hadang aja dia," bisik ketua tim Elang Putih.
Peluit berbunyi nyaring menandakan pertandingan kembali dimulai, namun sial bagi tim Elang Putih.
Han Xiao sekali lagi melesat secepat kilat dan sudah mencetak poin sekali lagi, mereka dengan marah berulangkali mengutuk Han Xiao dan menuduh pemuda itu melakukan kecurangan.
"Mari kita beradu tinju untuk membuktikan kekuatan," balas Han Xiao dengan riang.
Ketua tim Elang Putih yang tidak terima dengan kekalahan timnya segera menyerang maju pada Han Xiao.
BAAAAM!!!
Gelombang kejut berhembus membuat salju berterbangan dan menutupi pandangan semua orang.
BAAANG!!
Seseorang terpental dari dalam kumpulan salju, itu adalah ketua dari tim Elang Putih, sesaat kemudian seorang pemuda berambut biru dengan santai keluar dari kabut.
"Masih meragukan kekuatanku? Atau kalian ingin maju bersamaan untuk membuktikan kekuatanku?" kata Han Xiao dengan santai.
Ketika hendak empat orang dari tim Elang Putih menyerang, ketua mereka berteriak untuk menghentikan mereka.
***
Update Merdeka : 02/75
__ADS_1