
Pintu terbuka hanya sedikit, itu langsung menghisap serpihan dari hancuran Balok Es yang berisi Han Xiao. Setelah semua serpihan masuk ke dalam, pintu segera tertutup rapat seperti sebelumnya.
Bing Xing terkejut dengan hal itu, segera saja dia tersadar dan menyerang dengan sangat gila pada pintu Es besar menggunakan Sabit Dingin. Sial, bahkan dengan Sabit Dingin Bing Xing tidak bisa meninggalkan satu lecetan saja pada Pintu Es besar tersebut.
Dengan napas yang terengah, Bing Xing terjatuh dengan posisi terduduk, dia yakin dengan seluruh kekuatannya yang telah dihabiskan ini, seharusnya dia sudah menghabiskan waktu selama satu bulan untuk menyerang dengan sangat gencar ini.
Tatapan matanya terlihat sangat sedih pada Pintu Es Besar, mata biru gadis itu menunjukan sebuah penyesalan dan banyak permintaan maaf.
"Aku memang masih bodoh Han, andai aku tidak menyamar dan bisa merasakan kehangatan dirimu," racau Bing Xing, pada detik berikutnya struktur dari wajah Bing Xing berubah secara perlahan.
Wajah mungil dan bibir kecil serta mata lebar, jika Su Lihwa berada di sini, dia akan benar-benar yakin gadis ini adalah Bing Xing yang dia kenal!
Ya, memang Bing Xing menggunakan penyamaran selama ini untuk menipu bahkan Yang Shui. Penyamarannya sudah diketahui oleh Han Xiao tetapi dia masih terus melanjutkan peran yang sudah dia pilih, Bing Xing ingin dia menjadi kuat dan setara dengan Han Xiao sebelum benar-benar memiliki wajah bangga sebagai pasangan dari pemuda tersebut. Bing Xing mengira bahwa kemajuannya mencapai puncak ranah Dewa Raja akan membuatnya percaya diri ketika bertemu dengan Han Xiao. Tetapi sekali lagi Han Xiao membuatnya mundur.
Memang, kultivasi Han Xiao berada di bawahnya, tetapi kekuatan pemuda itu jauh berada di atasnya. Bing Xing merasakan tekanan lagi ketika mengetahui bahwa Kaisar Waktu, Xian Chin adalah pasangan Han Xiao. Tekanan yang berada padanya semakin membesar.
Hal itu membuat Bing Xing memilih untuk benar-benar menjauh dari Han Xiao dan tidak mengharapkan apapun lagi tentang hatinya, tetapi hari ini, saat dirinya melihat Han Xiao hancur berkeping-keping di hadapannya. Bing Xing menyesali pilihannya untuk menjauh dari Han Xiao dan justru membuat masalah besar.
"Jika saja aku menurut dan naik ke lantai dua! Han Xiao tidak akan sembrono menerobos Kamp." Bing Xing berkata dengan nada yang sangat rendah.
"AAAAAAAAAAAARRRRGHHHHH!!!" Gadis itu menarik rambutnya dan berteriak keras.
Mata biru Bing Xing segera bersinar sebuah sinar mengerikan, "Murid Kaisar? Tunggu aku membunuh kalian."
__ADS_1
Bing Xing kini memiliki dendam yang sangat besar terhadap murid Kaisar, jika sebelumnya dia hanya ingin membunuh Murid Kaisar yang bersangkutan dengan hilangnya Kaisar Es, kini dengam Bing Xing menjadi lebih besar dia menganggap semua murid Kaisar sebagai mushnya sekarang. Itu karena para murid Kaisar ini telah mengambil hal yang sangat dia cintai!
Api membara tebakar pada tubuh Bing Xing, tatapannya menjadi sangat parau saat melihat pintu es besar, kini dia mengetahui sebagaimana sakitnya ditinggalkan, Han Xiao telah merasakan dua kali ditinggalkan, pertama oleh Ruan Jian, lalu oleh dirinya. Bing Xing kini tidak bisa merasakan seberapa hancurnya isi hati pemuda yang selalu memasang tampang riang tak bermasalah itu.
Bing Xing bangkit dan segera melesat dari sana menuju arah jalan keluar, tujuannya saat ini adalah membunuh murid Kaisar dan membalaskan atas matinya Han Xiao.
Pada saat ini Bing Xing benar-benar tidak ingin mempercayai Han Xiao mati, tetapi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Han Xiao hancur berkeping-keping. Tidak akan ada yang selamat jika sudah hancur seperti itu.
Sebelumnya Bing Xing membutuhkan banyak waktu untuk sampai kemari karena harus menggali, tetapi tidak lama baginya untuk kembali karena sudah terdapat lubang. Bing Xing melesat dengan kecepatan penuhnya untuk keluar dari sana.
Hanya beberapa waktu saja untuk Bing Xing sampai di permukaan gunung kembali, Bing Xing memilih untuk memulihkan dirinya terlebih dahulu. Sebelumnya dia sudah dengna gila menyerang Pintu Es, kekuatannya sudah dikeringkan. Jika dia ingin membunuh Murid Kaisar, Bing Xing membutuhkan kekuatannya.
"Tunggu kematian kalian," desis Bing Xing lalu menutup matanya untuk berkultivasi.
***
Ne Zha tidak meremehkan sebilah Bambu ini, seluruh Lima Elemen beresonasi dan membawanya untuk menghindar dari bilah Bambu tersebut. Ne Zha tidak bodoh, serangan dari Monster tingkat 22 ini bukanlah lelucon. Dia saja masih harus berpikir saat menangkis serangan kultivator Kaisar Puncak, apalagi Monster tingkat 22.
"Kau mengganggu waktu makanku! Kau harus dihukum!" raung Panda tersebut.
Ne Zha mengumpat dalam hatinya, tetapi setidaknya dia mengetahui masalah utama yang dirasakan oleh sang Panda, dengan begini Ne Zha bisa mengambil langkah terbaik kedepannya.
"Makan ya?" Sebuah senyum tercetak pada bibir Ne Zha.
__ADS_1
Ne Zha segera mengeluarkan peralatan masak seraya terbang menjauh dari Panda, sungguh pemandangan luar biasa. Ne Zha memasak di udara seraya dikejar oleh Panda Monster tingkat 22.
Saat ini Ne Zha berada di hutan bambu raksasa, dia mengetahui bahwa Panda menyukai Bambu yang masih muda, sebuah masakan terngiang di kepalanya yang menggunakan olahan Bambu.
Semua olahan telah selesai dimasak, hanya tinggal menunggu waktu matang, Ne Zha sengaja menggunakan Qi miliknya untuk menyebarkan wangi masakannya pada sang Panda yang tengah mengejarnya dengan gencar.
Ne Zha melirik dan melihat bahwa ekspresi sang Panda berubah banyak, senyum tercetak pada Ne Zha. Sebelumnya dia sangat putus asa karena tidak menemukan titik terang mengenai pelariannya, juga dia tidak mengetahui masalah apa yang dihadapi sang Panda.
Setelah mengetahui bahwa sang Panda marah karena makannya terganggu, Ne Zha segera memiliki ide. Yaitu membuatkan masakan untuk menawarkan jalan damai, sungguh lelah dia terus berkejar kejaran seperti ini. Ne Zha ingin berpetualang dengan santai, tidak dengan dikejar-kejar seperti ini.
Benar saja, saat Ne Zha menghentikan terbangnya, sang Panda juga berhenti tetapi tidak menyerang Ne Zha.
"Apa yang ada di tanganmu?" Sang Panda segera bertanya ketika merasakan aroma nikmat pada sesuatu di tangan Ne Zha.
"Ini kusebut Rebung, ini adalah olahan bambu yang kumasak, aku menawarkan ini padamu sebagai pertanda maaf karena telah menganggu makanmu," ucap Ne Zha.
Sang Panda tergiur, tetapi matanya segera memicing, "Kau berniat meracuniku?"
Ne Zha sudah memperkirakan hal ini, tindakan Panda ini memang tidak ada salahnya. Memang bisa saja Ne Zha menambahkan racun, tetapi racun yang dimilikinya tidak cukup bahkan untuk membuat Panda tertidur.
"Apakah terlihat aku seperti orang jahat? Seranganku tidak sengaja mengenaimu, aku memberikan ini sebagai pertanda maafku. Tidak lebih, jika kau ingin terus berkejar-kejaran. Maka ayolah, aku akan membuang ini." Tangan Ne Zha bergerak untuk membuang masakannya.
***
__ADS_1
Update Mingguan : 10/14