Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab261. Dongfang Changyue


__ADS_3

Han Xiao melesat ke arah Dongfang Changyue dan para tetua Klan Dongfang.


Dongfang Changyue terjatuh ketika Han Xiao muncul secara tiba-tiba dihadapannya, para tetua segera mengelilingi Han Xiao dengan niat membunuh yang membumbung tinggi.


Dihadapan orang-orang kuat yang selalu menjadi bayangan di Benua Kayu Tengah, Han Xiao justru tertawa kecil.


"Hukuman seperti apa yang cocok untuk para pengkhianat ini?" Han Xiao mengelus dagunya seraya menatap panas pada Dongfang Changyue.


Pemuda itu memindai dari ujung rambut hingga ujung kaki Dongfang Changyue, sebuah senyum terurai pada bibir Han Xiao.


"Sangat sayang jika kau mati, tubuhmu sangat indah. Wajahmu juga sangat menawan, aku memutuskan untuk tidak membunuhmu." Han Xiao mengeluarkan aura menakutkan dari tubuhnya.


Aura itu berubah menjadi sebuah kekuatan yang sangat kacau dan penuh penghancuran, dengan ayunan tangan kekuatan itu menghantam dua puluh sembilan tetua Klan Dongfang.


Napas Dongfang Changyue tertahan ketika melihat apa yang dilakukan Han Xiao, dia yakin bahkan Patriark lama tidak bisa melakukan hal tersebut. Biarpun mudah untuk membunuh para tetua, tapi akan membutuhkan waktu yang tidak sekejap seperti yang dilakukan Han Xiao..


"Nah gadis cantik siapa namamu? Ayo ikut denganku," ucap Han Xiao seraya menatap Dongfang Changyue.


Dongfang Changyue tidak menanggapi, dia bahkan memalingka wajahnya.


"Lebih baik aku mati daripada jadi mainanmu!" ketus Dongfang Changyue seraya menarik pedangnya dan menaruh pada lehernya.


Darah merembes dari leher gadis tersebut, tatapannya menjadi sangat penuh kepedihan.


"Berhenti la berdrama agar terlihat menyedihkan." Han Xiao bergerak mengambil pedang Dongfang Changyue. "Aku tahu kau sangat takut mati, sungguh konyol kau bisa memiliki dua belas Istana Takdir dengan memiliki ketakutan seperti itu," kekeh Han Xiao.


Dongfang Changyue terdiam, dia menatap Han Xiao dengan penuh kebingungan.


Han Xiao tertawa kecil, dalam lambaia tangannya. Han Xiao memindahkan Dongfang Changyue ke Alam Kejahatan dan menempatkannya di Pagoda Mimpi Buruk.

__ADS_1


"Tidak, janga apa-apakan dia. Jika kau bosan, kau boleh menjadi kan ya teman mengobrol," ucap Han Xiao ketika suara pria mendengung di kepalanya.


Han Xiao menyebarkan kekuatannya untuk memindai seluruh Mansion Klan Dongfang, bibirnya tersenyum lebar seperti biasanya. Tidak ada yang lolos dalam pembantaian ini, hal ini dipermudah karena Dongfang Changyue yang memerintahkan para murid untuk menyerangnya. Mungkin tujuan awal Dongfang Changyue adalah untuk menjadikan mereka tumbal agar mendapatkan kekuatan yang lebih besar, namun semuanya gagal total karena Han Xiao mengambil semua untuk memberikan pengorbanan pada Xian Chin.


Pemuda itu terbang pada suatu arah, dalam beberapa saat kemudian. Han Xiao bertemu dengan Xiao Jiang dan Xiao Wushuang membawa seorang wanita yang terlihat sangat lemah.


"Bibi apakah mereka melakukan sesuatu padamu?" Han Xiao langsung bertanya ketika melihat kondisi Mu Yudie yang sangat lemah. "Jangan berbohong, jawab dengan benar."


Mu Yudie menatap pada Xiao Jiang, gadis itu mengangguk ringan, "Tenanglah bu, dia adalah anak dari bibi Zi Yao. Juga dialah yang membantuku memiliki Kekuatan Mutlak," ujar Xiao Jiang.


Sorot mata Mu Yudie segera berubah, dia menatap Han Xiao dengan penuh tidak percaya, Mu Yudie memindai wajah Han Xiao lalu terjatuh pada mata biru gelap dari pemuda tersebut.


"Kau mewarisi mata indah ibumu," ujar Mu Yudie dengan sangat kagum.


"Bibi, sekarang bukan waktu bernostalgia, ada hal yang lebih penting, yaitu keadaan dirimu," ujar Han Xiao lalu tidak menunggu jawaban dari Mu Yudie, pemuda itu meraih dengan lembut tangan Mu Yudie lalu menyalurkan Qi kedalam tubuh perempuan itu untuk memeriksa keadaannya.


Ekspresi Han Xiao menjadi gelap ketika berhasil memastikan dugaannya tidak meleset, "Bibi, kau harus segera ditangani, ayo kita pulang."


***


"Kau paham kondisinya Zha, aku tidak bisa menyembuhkannya, hanya kau yang bisa." Han Xiao menatap tubuh Mu Yudie yang terbaring lemah diatas ranjang setelah dia menyegel kesadaran perempuan tersebut.


"Tindakanmu sudah baik untuk mencegah kesakitan yang dia tanggung jika sadarkan diri, aku akan berjung semampuku agar bibi terbebas dari hal buruk ini," balas Ne Zha seraya menganggukan kepalanya pada Han Xiao.


Han Xiao kembali tersenyum lebar seperti biasanya, kini dia menjadi lega karena Mu Yudie akan terobati, dia sudah merasakan sebuah kehilangan. Sungguh Han Xiao tidak akan tega jika dua saudarinya meraskan hal yang dulu dia rasakan.


"Baiklah Zha, aku pamit sebentar. Ada hal yang harus kuurus," ujar Han Xiao lalu melenggang pergi dari kamar tersebut.


Ne Zha menggelengkan kepalanya ringan, "Tugas merepotkan kau memberikannya padaku," celetuk Ne Zha.

__ADS_1


***


Bruk...


Sesosok gadis berambut merah terang terjatuh ketika dirinya muncul dari udara kosong.


"Kenapa kau tidak membunuhku saja," desis gadis tersebut, dia tak lain adalah Dongfang Changyue.


Han Xiao justru tersenyum lebar ketika meihat ekspresi menakutkan dari Dongfang Changyue, "Jika kau mati, tidak akan berguna."


"Kau menginginkan tubuhku kan? Lakukanah jadikanlah aku bonekamu. Namun aku ingin kau membunuhku terlebih dahulu," sahut Dongfang Changyue dengan datar.


Han Xiao menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Dongfang Changyue, "Aku tidak menginginkan tubuhmu, yang jelas aku membutuhkan dirimu."


Dongfang Changyue megerutkan dahinya, perkataan pemuda ini sedikit berkelit, tetapi semuanya dikatakan seolah spontan dari isi hatinya. Wajah gadis itu menjadi lebih datar.


Tidak pernah ada lelaki yang tidak terpikat oleh kecantikan dan keindahan tubuhnya, tapi pemuda dihadapannya ini seolah memandangnya seongok tumpukan daging yang disusun oleh tulang.


"Memang langkah yang bagus kau tidak meningkatkan kekuatanmu dengan persembahan dari Ras Iblis," ucap Han Xiao secara tiba-tiba.


Wajah Dongfang Changyue sedikit berubah ketika Han Xiao mengatakan hal tersebut, "Apa maksudmu? Sudah jelas aku melakukan pengorbanan untuk menembuh Alam Dewa secepat ini," kilah Dongfang Changyue.


Tawa lantang keluar dari mulut Han Xiao, pemuda itu sangat lama tertawa sebelum menatap ringan pada Dongfang Changyue, sebuah senyum misterius yang diaduk dengan senyum riang itu sangat menggelitik rasa penasaran dari Dongfang Changyue.


Tangan Han Xiao bergerak untuk menyentuh pucuk kepala Dongfang Changyue, lalu mengelus lembut disana, kepala pemuda itu mendekat pada samping kepala Changyue, "Kau ingin aku memberitahumu atau kau sendiri yang mengungkapkannya?" bisik Han Xiao seraya meniup lembut telinga Dongfang Changyue mengirim senyar menggelitik bergairah pada Dongfang Changyue.


***


Update Mingguan : 06/14

__ADS_1


Update Merdeka : 13/75


__ADS_2