Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab225. Berpisah lagi


__ADS_3

Su Lihwa akhirnya kembali luluh, gadis itu melihat keseriusan dari perkataan Ne Zha, dia sangat terharu dan kini dia sangat menanti hari dimana dia akan segera menikah dengan Ne Zha.


Dalam satu minggu kedepan, Su Lihwa akan mempersiapkan untuk acara pernikahan mereka, sedangkan Ne Zha akan membimbing Ren Yanyu dalam tembusan gadis itu masuk ke Alam Ekspansi Istana dan mendapatkan Istana Dao.


Gadis itu memberikan kecupan pada Ne Zha sebelum melenggang pergi, Ne Zha tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya ringan, ketika hendak saja dia pergi, Ne Zha mendengar pintu kamar Han Xiao terbuka. Disana dia mendapati Bing Xing keluar dari dalam kamar.


Tatapan Bing Xing bersirobok dengan Ne Zha, wajah gadis itu langsung menjadi sangat merah, "Ja-jangan salah sangka, aku tidak melakukan apapun dengan Han Xiao," ujar Bing Xing segera, tentu dia mengetahui Han Xiao yang selalu bersikap liar.


"Aku percaya itu, bersihkanlah dirimu. Kelas S akan menyambut guru baru," ucap Ne Zha seraya mengangguk ringan.


Bing Xing memiringkan kepalanya, "Siapa yang menjadi guru baru kelas S? Aku tidak yakin guru itu akan sebanding dengan kalian," tanya Bing Xing.


"Presiden Mu dan Presiden Wanpi," jawab Ne Zha.


Bing Xing terdiam, setidaknya dua orang tersebut adalah orang paling pintar di Benua Angin Selatan, jika keduanya mengatakan sebagai nomor dua, maka tidak ada yang mengatakan sebagai posisi nomor satu.


"Sudahlah, silahkan bersiap," ujar Ne Zha membangunkan lamunan Bing Xing.


Gadis cantik itu segera pamit untuk pergi dari sana, Ne Zha menjawab dengan anggukan. Tak lama Ne Zha mendengar suara pintu terbuka lagi, kali ini Han Xiao yang keluar, wajahnya masih memerah namun tidak separah tadi malam.


"Kau tidak menggunakan Qi untuk menetralkan alkohol dalam tubuhmu?" Ne Zha bertanya dengan heran.


"Kau bertanya seperti itu seolah kau tidak mengenaliku Zha," celetuk Han Xiao lalu duduk disamping Ne Zha.

__ADS_1


Ne Zha menghela napas, sepertinya karena pikirannya terlalu kacau hingga dia terlupa bahwa kulit Han Xiao memiliki keunikan, jika bersentuhan dengan alkohol dia akan memerah seperti udang rebus.


"Kapan kita mulai membimbing Yu'er?" tanya Ne Zha.


"Terserah padamu, aku memiliki ide lain. Hal ini mengenai barangmu yang berada di Pulau Es Menyendiri," jawab Han Xiao.


"Kenapa dengan barang itu? Kita bisa mengambilnya seraya berangkat ke Benua Kayu Tengah," balas Ne Zha sedikit heran.


"Ini akan menghemat waktu, kita berangkat menuju Benua Kayu Tengah tidak melewati Pulau Es Menyendiri, lebih bak jika kau membimbing Yu'er sendiri dan aku akan mengambilkan barang itu untukmu, kau pasti mengetahui bukan bahwa Pulau Es Menyendiri menempati posisi pertama dari lima tempat paling berbahaya di Benua Angin Selatan karena apa?" kata Han Xiao dengan panjang.


Ne Zha merenung sebentar lalu setelah menimang dengan matang dia menyetujui ide dari Han Xiao, di Pulau Es Menyendiri yang juga merupakan tempat paling berbahaya di Benua Angin Selatan terdapat banyak kejahatan.


Untuk orang lain mungkin akan sangat berbahaya, bahkan Ne Zha sendiri akan sedikit kesulitan jika datang kesana seorang diri, namun berbeda dengan Han Xiao, pemuda itu memiliki Kekuatan Kejahatan, secara alami Pulau Es Menyendiri seperti taman belakang rumah bagi Han Xiao. Ini sangat menghemat waktu dibandingkan harus bertarung melawan gerombolan makhluk jahat disana.


"Bruuuu..." Han Xiao yang sedang meminum susu kedelai segera menyemburkan susu tersebut ketika mendengar kalimat akhir dari Ne Zha.


"Kau sungguh jahat, aku masih sendiri dan kau ingin menikah?" keluh Han Xiao.


Ne Zha tertawa sebelum berkata, "Kau memiliki tunangan penguasa dunia ini, apakah kau tidak puas?"


Wajah Han Xiao justru semakin memburuk ketika Ne Zha mengangkat hal tersebut, "Tunangan macam apa yang bahkan tidak memunculkan diri dihadapan calon suaminya?"


"Jangan berkata seperti itu Han, bagaimanapun juga dia adalah tunanganmu," ujar Ne Zha lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aku setuju dengan Ne Zha." Tiba-tiba sesosok gadis berparas luar biasa cantik muncul dihadapan Han Xiao dan Ne Zha, gadis itu memiliki pesona dewasa yang sangat memikat hati.


Tubuh Han Xiao mematung ketika melihat sosok tersebut, terdengar jelas pemuda itu menelan ludahnya, "Kau menunjukan dirimu juga?!" Han Xiao segera berhambur pada sosok tersebut.


Namun ketika Han Xiao hendak memeluk sosok tersebut, tangannya menembus seolah hanya memeluk angin.


"Ini adalah tubuh dari secuil jiwaku, kau tidak bisa menyentuhnya, aku menunjukan diri bahwa aku adalah tunangan dan calon istri yang sangat baik sesuai yang kau inginkan," kekeh Xian Chin.


Han Xiao mendengus kesal, dia sungguh terpana, dulu ketika mereka bertemu Xian Chin memang sangat cantik dibalutkan oleh gaun pertunangan, namun kini gadis itu memiliki pesona dan kecantikan yang berkali-kali lipat dari sebelumnya.


"Kau ingin menyentuhku? Perkuatlah dirimu dan datang ke Alam Abadi, aku berjanji kau boleh menyentuh diriku semaumu, aku tunangan yang baik bukan? Hahaha." Setelah mengatakan hal tersebut, sosok dari Xian Chin menghilang dari pandangan dua pemuda tersebut.


"Sialan, gadis ini benar-benar tahu cara memprovokasi yang sangat ampuh, lihat saja aku akan segera datang ke Alam Abadi dan tidak akan memberikanmu ampunan saat aku menyentuhmu!" gerutu Han Xiao terus menerus.


Ne Zha disisi lain terkekeh melihat tingkah Han Xiao, dia sedikit terkejut Xian Chin menunjukan diri pada mereka, namun dia juga setuju dengan hal tersebut. Han Xiao pasti akan terbakar oleh semangat hingga bisa menjadi kuat lebih cepat, Ne Zha tentu sudah memiliki bahan bakar semangat lain, sehingga kini dia ingin menjadi lebih dan lebih kuat lagi.


"Baiklah Zha, aku akan berangkat sekarang juga ke Pulau Es Menyendiri, aku tidak perlu mengatakan lakukan yang terbaik untuk Yu'er padamu, karena aku tahu kau pasti melakukannya, bagaimanapun ikatan kalian lebih erat dibadingkan denganku," ujar Han Xiao setelah cukup lama mengutuk Xian Chin, bukan tenang yang dia dapatkan, namun rasa kesal yang terus bertambah karena suara tawa dari Xian Chin terus terngiang di kepalanya.


"Kau mau kemana?" Ketika Han Xiao hendak saja pergi, suara akrab masuk kedalam indra pendengarannya, Han Xiao membalikkan tubuhnya dan melihat sosok gadis berjubah biru muda yang sangat anggun.


"Pulau Es Menyendiri," jawab Han Xiao enteng seolh datang ke tempat paling berbahaya itu hanyalah main ke taman belakang rumahnya.


***

__ADS_1


Update Mingguan : 11/14


__ADS_2