Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab159. Ketakutan Su Lihwa


__ADS_3

Su Lihwa masih terisak dan memeluk Ne Zha erat seolah takut Ne Zha akan meninggalkannya, jubah bagian depan Ne Zha sudah basah karena tangis dari Su Lihwa yang tidak berhenti setelah dua jam lamanya. Posisi merekapun tidak bergerak dari sebelumnya, masih saling berbelukan.


Ne Zha dengan lembut menggenggam bahu Su Lihwa dan mendorong sangat perlahan agar gadis itu melepas pelukannya dan melihat menatap wajah gadis tersebut, walaupun masih berlinang air mata, namun kesan cantik pada gadis itu tidaklah luntur.


Tangan Ne Zha terulur untuk menghapus jejak air mata pada wajah Su Lihwa, setelah beberapa saat gadis itu juga tenang dan menatap Ne Zha.


"Bicaralah," ucap Ne Zha lembut.


"Aku tidak tahu harus mulai darimana," balas Su Lihwa sebelum dia memutuskan untuk bercerita tentang pembukaan Istana Takdir kesepuluh yang ternyata terkunci oleh rasa takut.


"Lalu apa yang kau takutkan?" tanya Ne Zha.


Su Lihwa menunduk seperti berpikir apakah harus atau tidak dia menjawab pertanyaan Ne Zha.


Ne Zha meraih dagu Su Lihwa dengan lembut dan membuat wajah Su Lihwa menatapnya, "Jangan takut, katakan saja. Ada aku disini, juga kau telah menghadapi ketakutanmu karena Istana Takdir kesepuluh milikmu telah terbuka."


Su Lihwa mengigit bagian bawah bibirnya, "Kau, kaulah ketakutan tersbesarku."


"Aku?'' Ne Zha terkejut.


JDUK...


Suara jatuh terdengar dari kamar Han Xiao.


Su Lihwa mengangguk, "Aku takut kehilanganmu, ka... karena aku sangat mencintaimu," jawab gadis itu tanpa ragu sedikitpun walau sempat tergagap dalam kalimatnya.


Ne Zha tertegun, sebegitu besarnya rasa cinta Su Lihwa sampai rasa takut terbesarnya adalah kehilangannya? Tapi memang itulah jawabannya.


"Ketika kau mengakui dirimu sebagai tunanganku, disanalah rasa takutku hilang dan Istana Takdir kesepuluhku terbuka," lanjut Su Lihwa.

__ADS_1


Mata Ne Zha terpejam sebentar setelah menghela napas panjang dia membuka matanya lagi dan matanya bersirobok dengan mata indah Su Lihwa, "Aku tidak akan meninggalkanmu, dan kau tidak akan kehilanganku," tutur Ne Zha dengan sangat pasti.


Han Xiao yang berada disalam kamar tersenyum ketika mendengar perkataan Ne Zha, sahabatnya kini telah membuka hatinya untuk seorang gadis yang sangat mencintainya, Su Lihwa sudah mengetahui bahwa Ne Zha yang saat ini bukanlah Ne Zha yang sama dengan orang yang ditunangkan dengannya dulu, namun gadis itu malah merasakan perasaan yang lebih dalam pada Ne Zha sahabatnya.


"Aku kapan memiliki pacar?" batin Han Xiao sedih, walaupun dia sering bermain dengan para gadis namun tidak ada satupun gadis yang benar-benar menarik perhatiannya atau memiliki cinta sebesar Su Lihwa kepada Ne Zha. Baru kali ini dia merasakan iri pada sahabatnya.


Pemuda riang itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum kembali naik keatas kasur untuk tertidur, sebelumya dia penasaran apa tanggapan Ne Zha terhadap Su Lihwa, sepertinya semua berjalan dengan indah. Han Xiao hanya akan menunggu sebuah traktiran dari sahabatnya atas pengakuan perasaannya pada gadis tersebut, walaupun secara tidak langsung.


Sedangkan di kamar lain, Xia Shiva dan Bi Jiao terisak saat mendengar percakapan antara Ne Zha dan Su Lihwa, secara tidak langsung. Mereka berdua juga mengetahui bahwa dalam hubungan pertunangan sepasang kekasih itu cinta Su Lihwa hanya berjuang seorang diri tanpa balasan yang jelas dari Ne Zha, kini mendengar keduanya sangat dekat dan secara tidak langsung saling meyatakan rasa cintanya. Membuat dua gadis lajang itu terharu.


"Huhuhu... aku jadi ingin mempunyai pasangan," isak Xia Shiva seraya mengelap air matanya dengan sebuah kain.


"Hey Shiva, bajuku sudah basah oleh air matamu," keluh Bi Jiao seraya mengelap air matanya juga.


"Kau berkata begitu namun bajuku kau jadikan lap tangismu," balas Xia Shiva.


Disisi lain Bing Xing yang juga tidak secara sengaja mendengar percakapan antara Ne Zha dan Su Lihwa tersenyum.


Bing Xing segera menghapus air mata yang secara tidak sengaja mengalir tersebut, "Aku hanya kelilipan," kilah Bing Xing.


Namun Ren Yanyu adalah gadis kecil yang cerdas, dia mengetahui bahwa Bing Xing juga terbawa suasana, Ren Yanyu hanya tertawa kecil. Dia juga turut bahagia karena abangnya memperlakukan tunangnnya sebagaimana harusnya. Memang beberapa saat belakangan ini Ne Zha selalu melindungi Su Lihwa, namun itu terlihat seperti sebuah perlindungan pada seorang teman saja, tidak lebih.


"Bang secepatnya menikah, aku ingin melihat keponakanku," batin Ren Yanyu, jika Ne Zha mengetahui hal tersebut mungkin akan menarik telinga Han Xiao karena telah mempengaruhi hal buruk pada Ren Yanyu.


***


''Sudah jangan menangis lagi," ucap Ne Zha seraya menghapus air mata Su Lihwa yang masihmengalir.


"Aku tidak bisa menghentikannya!" ketus Su Lihwa kesal karena Ne Zha menyuruhnya untuk tidak menangis terus-menerus.

__ADS_1


Ne Zha terlihat sedikit bingung, namun segera dia teringat oleh cara yang diajarkan oleh Han Xiao tentang menghadapi gadis.


"Kita akan mencari makan bersama, bagaimana?" tanya Ne Zha.


Mata Su Lihwa segera berbinar, "Ayo!" Tangis yang mengalir dari mata Su Lihwa sudah berhenti.


Tidak pernah Ne Zha sangka hal yang diajarkan oleh Han Xiao, yang sebelumnya dia anggap tidak berguna kini sangat berguna.


"Sama-sama Zha!" seruan Han Xiao terdengar dari kamar.


"Hey aku belum mengatakan terimakasih," batin Ne Zha.


Su Lihwa segera berlari menuju kamar untuk mempersiapkan dirinya terlebih dahulu karena tampilannya kini sangat kacau.


Saat Su Lihwa telah masuk kedalam kamar, pintu kamar Han Xiao terbuka. Pemuda riang itu keluar dari kamarnya lalu tersenyum lebar pada Ne Zha.


"Kau hebat Zha, kutunggu traktiran darimu," ujar Han Xiao memberi dua jempolnya pada ne Zha sebelum kembali masuk kedalam kamar dan menutup pintu.


Ne Zha terdiam, dia sendiri bahkan tidak menyangka akan melakukan hal tersebut, mungkin karena besarnya rasa tulus Su Lihwa yang meluluhkan hati berliannya. Pemuda itu terkekeh dalam hatinya sebelum mengeringkan jubahnya dengan Qi.


Tak butuh waktu lama untuk Su Lihwa kembali ke ruang santai, kini gadis itu telihat sangat cantik, tidak seperti sebelumnya yang berantakan, tubuhnya dibalut sebuah gaun merah hitam yang sangat indah. Riasan pada wajahnya pun tdak tebal, gadis itu hanya memoles sebuah gincu merah muda serta bedak tipis untuk menutupi sembab pada kantung matanya karena terlalu lama menangis tadi.


"Ayo!" ajak Su Lihwa.


Ne Zha tersenyum lalu menggandeng tangan Su Lihwa dan membawa gadis itu keluar dari kamar peserta untuk menuju restoran yang terdapat pada Akademi untuk mencari makanan.


"Huaaaa!!!" Dua suara tangis pecah ketika sejoli itu keluar dari kamar.


***

__ADS_1


Crazy Up Awal Arc 3 : 7/9


__ADS_2