Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab468. Bibi?


__ADS_3

Tiga orang yang menyerang Phoenix sebelumnya memiliki wajah yang memerah saat mendengar teriakkan Feng Jin yang terdengar meledek mereka.


"Sial! Kejar bajingan itu!" teriak wanita dari salah satu tiga orang tersebut.


Segera mereka mencari Feng Jin ke Jalur tengah karena asal suara Feng Jin dari arah itu. Tiga orang itu terdiri dari satu wanita dan dua pria yang satu menggunakan Sitar sedangkan satunya menggunakan Seruling, wanita yang berteriak tadi terlihat seorang petarung tangan kosong.


Feng Jin segera bertemu dengan Ne Zha yang baru saja selesai menghancurkan Tower, tak selang beberapa saat muncul tiga orang dari tempat Feng Jin datang.


"Sial Tower kita telah hancur! Apa yang dilakukan anak manja itu huh?!" Wanita itu berteriak kasar saat melihat Tower sudah dihancurkan oleh Ne Zha.


"Apa yang kalian lakukan?! Ayo serang!" pekik wanita itu ketika melihat dua pria di sampingnya justru diam membeku.


"Feng Jin tutup telinga menggunakan Qi, lalu serang wanita itu." Ne Zha berkata dan langsung maju menyerang dua pria yang kini sedang memainkan alat musik mereka untuk menyerang.


"Fraksi Sitar!" teriak pria yang menggunakan Sitar, pada saat itu juga langsung muncul bayangan-bayangan yang juga memegang Sitar masing-masing membantunya untuk melakukan penyerangan.


"Seruling kematian!" Disisi lain pria satunya tidak hanya diam ketika melihat Ne Zha menyerang.


Ne Zha menggeleng ringan seraya menghindari serangan-serangan yang datang padanya.


"Hehehe bibi, kau ingin melawan adik kecil ini? Ayo datanglah!" Feng Jin terkekeh menggoda wanita tersebut.


"Bibi?" Wajah wanita itu membeku ketika mendengar Feng Jin menyebutnya bibi.


"Kau pikir aku setua itu?!"


Feng Jin mengerutkan dahinya, "Dari perhitungan tulang, kau sudah hidup selama jutaan tahun, aku memanggilmu Bibi masih baik. Ataukah kau ingin aku memanggilmu Nenek?" Feng Jin tertawa lantang setelah mengatakan kalimat terakhirnya.


Wajah wanita itu semakin memerah saat mendengar celotehan Feng Jin, "Lin Wen! Itu namaku, camkan itu bocah tengik! Sebutkan namamu dan segera kau tidak akan memiliki hidup yang santai di Tiga Alam Besar bahkan Alam Langit."


Feng Jin terkekeh, "Oh Nenek Lin Wen, kau ternyata kau sangat emosional, baiklah namaku adalah Feng Jin adik dari Ne Zha."

__ADS_1


"Tinju Roh Api!" Lin Wen langsung melakukan serangan mematikan pada Feng Jin.


"Unsur api? Haish pantas saja sangat bersungut-sungut."


Bam!!!


Segera saja kedua berbentrokan, Feng Jin sanggup mengimbangi dan membalikan serangan Lin Wen, bahkan terlihat dia sangat normal dan tidak kelelahan sama sekali. Justru sebaliknya, kini Lin Wen terlihat sangat frustasi dan tertekan.


Lin Wen melihat pria yang menggunakan Sitar telah terkalahkan dan hanya menyisakan pria berseruling yang kini juga dalam posisi terpojok, serangan terakhir Ne Zha lepaskan dan pria seruling itu langsung menghilang karena kalah.


"Apa apaan?!" Lin Wen benar-benar frustasi ketika serangannya tidak ada yang berpengaruh pada Feng Jin.


"Kau tahu, unsur Api tidak akan melukaiku bahkan menghangatkan tubuhku menjadi nyaman," ujar Feng Jin seraya tersenyum manis.


"Pantas saja."


"Sampai jumpa nanti Nenek Lin Wen," kekeh Feng Jin lalu menghantamkan serangan mematikan.


Bam!!!


Bam!!!


Langsung saja Lin Wen menjadi butiran cahaya dan menghilang menandakan dia kalah dari Feng Jin.


Disela Feng Jin bertarung dengan Lin Wen, Ne Zha telah berhasil menghancurkan dua Tower jalur tengah, kini mereka bisa menerobos untuk menghancurkan Markas musuh. Ne Zha langsung memberikan telepati pada tim nya untuk berkumpul di Jalur tengah agar mereka bisa menghancurkan Markas musuh bersama.


Pria yang sebelumnya melawan Ne Zha sudah bangkit kembali dan langsung melakukan serangan untuk menjauhkan Ne Zha dan tim nya dari Markasnya, tetapi serangannya bisa dengan mudah dihalangi oleh Su Lihwa, dua pria dan Lin Wen juga bangkit kembali tapi bertepatan dengan bangkitnya mereka. Markas sudah berhasil Ne Zha dan tim nya hancurkan, ini berarti pertarungan telah berakhir dengan pemenang tim Ne Zha.


"Nenek Lin, dimana tepatnya Klan mu? Aku akan berkunjung suatu saat," ujar Feng Jin.


"Kau akan tahu jika menginjakkan kaki di Alam Langit," jawab Lin Wen di akhir-akhir mereka sebelum menghilang kembali ke ruangan mereka untuk beristirahat.

__ADS_1


***


"Sangat menegangkan, orang-orang dari Alam Langit ini sungguh sangat kuat, jika saja aku tidak mengerahkan seluruh kekuatanku serta melakukan serangan kejutan. Mustahil untuk aku menang." Su Lihwa menghela napasnya setelah mereka kembali di ruang istirahat.


"Sangat mengejutkan bahkan kalian bisa bertahan sampai babak final ini." Instruktur terkekeh ringan saat tim Ne Zha kembali.


"Benar, kita memiliki satu pertarungan terakhir, kalian harus benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatan kalian, termasuk kau Ne Zha." Qin maju dan berkata pada Ne Zha bahwa dia menangkap Takdir dari Yang Shui, pertarungan mereka akan sangat sulit.


Ne Zha mengangguk ringan, bahkan tanpa pengingat dari Qin, dia akan bertarung sebaik mungkin pada pertarungan terakhir ini. Karena ini adalah pertarungan kelompok, maka tim Han Xiao dan Ne Zha tidak akan bertemu. Jika salah satu dari mereka mengalahkan semua tim, itu sudah cukup untuk menjadi juara pertama.


***


"Hey... Hey... Hey... Kalian terlalu agresif bukan?" Han Xiao menangkap anak panah yang meluncur ke arahnya dengan dua jarinya, tatapan Han Xiao kini terarah ke depan dimana ada lima orang yang sedang menghadangnya.


Musuh yang dihadapi Han Xiao sangat unik, mereka tidak memperdulikan Tower yang kini sedang dihancurkan oleh tim Han Xiao. Mereka justru memojokkan Han Xiao terus menerus, ini bahkan membuat kepala Han Xiao pusing karena kini dia sudah dibunuh dua kali. Namun, tim musuh masih mengincarnya.


"Ada masalah apa sih kawan? Ayo sini cerita." Han Xiao berkata santai saat menerima satu demi satu serangan musuh.


Mereka tidak menghiraukan Han Xiao dan terus melayangkan serangan semakin ganas dari sebelumnya.


"Baiklah aku akan meladeni kalian dengan serius kali ini." Han Xiao berdesis dan segera aura menakutkan menguar dari tubuhnya bersamaan dengan sayap tulang yang tumbuh dari belakang punggungnya. Delapan pulau kejahatan juga muncul di atas kepala Han Xiao.


"Serang bersama!" ujar seorang pria yang memimpin tim musuh.


Han Xiao menyunggingkan senyum kecil, tangannya terangkat ke atas dan segera saja Pulau Keputusasaan dan Pulau Kegelapan mengeluarkan sebuah cahaya gelap yang langsung menyelimuti kelimanya.


"Mari kita lihat secepat apa kalian keluar dari sana." Han Xiao mengeluarkan kursi dan meja untuk bersantai dan menatap kelima musuhnya yang kini bertekuk lutut dengan posisi kehilangan pandangan karena mata mereka sepenuhnya hitam.


***


Update seenak jidat : 07/10

__ADS_1


__ADS_2