
"Abaaaaaang Haaaaaaaan!"
Sebuah suara membuat Han Xiao dan lainnya terlonjak kaget, mereka berempat segera memalingkan wajah pada arah asal suara tersebut.
Dahi Han Xiao dan lainnya berkerut dalam ketika melihat seorang gadis berjubah merah longgar berlari penuh semangat menghampiri mereka.
Xiao Jiang dan Xiao Wushuang mematung, mereka belum pernah merasakan perasaan ini, sebuah perasaan buruk rupa ketika berada dihadapan gadis lain. Sungguh, gadis berjubah merah longar itu bagaikan dewi, sulit diutarakan dengan kata-kata. Kulit putihnya sudah bagaikan giok putih yang memiliki kualitas tertinggi, bentuk wajah bulatnya sungguh menggemaskan membuat siapapun ingin meremasnya dengan gemas, wajah cantik yang dimiliki gadis itu bagaikan diukir oleh para dewa dan dewi sendiri.
Tanpa dua gadis itu sadari, mereka menyentuh wajah mereka ketika melihat gadis itu terus berlari menghampiri tempat mereka.
Han Xiao dan Ne Zha disisi lain bingung, siapa gadis ini? Juga menyebut Han Xiao dengan sebutan 'abang' mereka yakin, di dunia ini sebutan itu hanya dimiliki oleh mereka. Dan hanya Ren Yanyu yang akan menyebut mereka seperti itu.
"Siapa ka... auch!" Han Xiao belum sempat bertanya, gadis berjubah merah longgar itu menjentikkan dahinya membuat Han Xiao meringis, dia yakin dia akan sulit merasakan sakit jika hanya disentil seperti itu, namun kenapa sangat sakit?
Belum sempat Han Xiao memprotes, ingatan demi ingatan baru mengalir di kepala Han Xiao, disana menjelaskan sesosok gadis cantik dihadapannya. Tidak jelas apa posisi dia di dunia ini, namun hal pasti adalah gadis itu adalah adik dari tunangannya?
Han Xiao segera menarik agak jauh gadis tersebut dari dua gadis lain, hingga cukup jauh. Han Xiao bertanya, "Sejak kapan aku bertunangan huh?"
"Tanggal dua puluh enam november tepat saat kau menginjakan umur lima belas tahun," jawab gadis itu dengan senyum lebar.
Tubuh Han Xiao bergetar ringan, mata Han Xiao menatap penuh tidak percaya pada gadis tersebut. Sekali lagi dia mengamati baik-baik gadis tersebut seolah tidak ingin kehilangan satu detail pun untuk mengenalinya.
__ADS_1
"Kau mengarang!" sanggah Han Xiao.
Gadis itu memukul kepala Han Xiao pelan, sebuah ingatan yang tidak ingin Han Xiao ingat dan lihat segera memutar. Ketika dirinya ditunangkan oleh Ayah dan Ibunya di dunia lamanya dengan seorang gadis yang dua tahun lebih tua darinya.
"Apa yang kau lakukan? Kau melakukan ilusi huh?!" sungut Han Xiao mulai waspada terhadap gadis tersebut.
Gadis terseut mendecakan lidahnya kesal, "Itu semua yang berada dalam ingatanmu, bagaimana aku memanipulasinya?" papar gadis tersebut.
"Siapa kau sebenarnya, kenapa kau bisa melihat ingatanku yang disembunyikan?" tanya Han Xiao serius dengan nada penuh wasapada.
"Sudah kubilang bukan? Aku adalah adik dari tunanganmu," jawab gadis tersebut.
Han Xiao tidak bisa mudah percaya, bisa saja gadis ini adalah ahli manipulasi dari luar lima Benua, dia mengetahui bahwa dunia ini sangatlah luas, sehingga bukan tidak mungkin ada sosok yang dalam pikirannya. Seorang ahli manipulasi bisa membaca ingatan hanya dengan sentuhan.
Dua gadis itu juga berhenti bergerak dan mematung, sementara Ne Zha seperti dirinya dan gadis itu, masih bisa bergerak secara normal.
"Waktu terhenti!" Han Xiao tersentak kaget, memang dia bisa melakukan pemberhentian waktu seperti ini juga, namun jangkauannya hanya beberapa puluh meter, tapi sepertinya gadis ini telah menghentikan seluruh waktu yang ada disekitar.
Han Xiao segera bergabung dengan Ne Zha, kini dua pemuda itu memasang posisi siap tempur, Han Xiao sudah mengeluarkan Pedang Delapan Kejahatan, pun begitu dengan Ne Zha yang mengeluarkan Pedang Lima Elemen, mereka juga sudah memasuki mode kuat mereka. Han Xiao dengan jubah merah darahnya serta delapan pulau keluar dari tubuhnya melayang diatas kepalanya dan Ne Zha berjubah putih bersih dengan lima elemen yang berputar di punggungnya.
Gadis itu tersenyum kecut ketika melihat kewaspadaan dari dua pemuda dihadapannya, matanya menjadi lebih pahit ketika melihat Ne Zha yang menatapnya dingin.
__ADS_1
"Jujur saja, jika aku ingin membunuh kalian, aku hanay butuh satu ayunan jari, tapi aku datang kesini bukan untuk itu," ucap gadis tersebut seraya memunculkan sebuah kursi dan duduk disana dengan santai.
"Aku bisa dibilang yang paling mengetahui tentang kalian berdua, bahkan tentang kalian yang datang dari dunia lain," lanjut gadis itu seraya tersenyum.
Han Xiao dan Ne Zha memandang semakin penuh waspada, selama ini tidak ada yang mengetahui mereka berasal dari dunia lain selain dua Harimau Suci.
"Kami sudah bertemu sebelumnya, apakah kalian lupa?" ujar gadis itu terus berbicara.
Selintas gadis cantik keluar dari ingatan terdalam Han Xiao, itu tepat pada proses pertunangannya dua tahun lalu di Negara Maritim, bukan keinginannya untuk bertunangan. Namun itu adalah sebuah pengaturan dari Ayah dan Ibunya, mereka mengatakan kelak tunangannya akan menjadi sosok pelindung bagi Han Xiao ketika orangtuanya tidak ada.
Namun setelah pertunangannya, gadis yang ditunangkan dengannya itu menghilang seolah ditelan bumi, dan muncul ketika saat dia dan Ne Zha hendak dibunuh oleh sekelompok Mafia musuh ayah mereka.
Setelah kejadian hari itu, sosok gadis itu benar-benar menghilang, tidak muncul bahkan saat Han Xiao dan Ne Zha dalam kondisi hidup dan mati. Juga selain gadis yang ditunangkan dengannya, memang Han Xiao sempat mengetahui bahwa sang gadis memiliki adik. Tapi tidak hadir pada saat acara pertunangan karena memiliki kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan.
"Gadis tunanganku berasal dari dunia ini?" tanya Han Xiao dengan lirih.
"Tidak bisa disebut begitu, aku dan Jiejie berasal dari dunia yang sama dengan kalian, namun ada hal yang tidak bisa kujelaskan sekarang, di masa depan nanti ketika kau bertemu dengannya. Kau akan emngetahui semuanya," jawab gadis tersebut.
Jawaban gadis itu sungguh berkelit bagi Han Xiao dan Ne Zha.
"Tenanglah, kupastikan kita bukanlah musuh. Kalian ingin pulang bukan? Ini saatnya kalian membalas budi pada Jiejie, kalian pasti mengetahui apa akhir dari kepungan seribu Mafia bukan? Kematian adalah hal yang akan kalian dapat jika Jiejie saat itu tidak datang, baiklah sudah cukup salam perkenalan dariku. Namaku Xian Xuenai." Gadis itu mengulurkan tangannya dengan sangat bersahabat, jika Han Xiao dan Ne Zha ingin menyerang, gadis ini sungguh tengah memiliki banyak celah.
__ADS_1
***
Update Mingguan : 04/14