Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab247. Sumpah Ne Zha


__ADS_3

Setelah meyakinkan dan mematangkan tekad dalam dirinya, Ne Zha berjalan didampingi oleh Han Xiao dan Kaisar Yang Qian naik menuju panggung.


Ketika mereka naik, dari sisi lain Su Lihwa yang mengenakan gaun pengantin berwarna merah dengan hiasan aksen hitam, menggunakan sebuah tudung dari kain tipis transparan berwarna hitam yang menutupi wajahnya, gadis itu naik keatas altar ditemani oleh Patriark Yuanjun sebagai wali.


Ne Zha tersenyum ketika melihat calon istrinya yang berjalan, menuju tengah altar, langkah pemuda itu terasa sangat lama ketika menuju tengah altar.


"Zha berhenti," bisikan Han Xiao mengintrupsi pemuda tersebut.


Ne Zha segera tersadar dari lamunannya, pikirannya melayang entah kemana dalam beberapa detik lalu, mungkin karena ini adalah pengalaman pertama baginya, sehingga biarpun sudah berusaha mengendalikan diri bagaimanapun sedikit sulit.


Han Xiao tersenyum kecil, dia juga pernah merasakan hal yang sama dengan Ne Zha dulu ketika bertunangan dengan Xian Chin, "Tenanglah Zha, fokuskan dirimu. Jangan memikirkan apapun, ini adalah hari paling penting bagimu." Han Xiao sekali lagi memberikan semangat pada Ne Zha.


Ne Zha menarik napas panjang sebelum menghembuskannya secara perlahan, kini dia sudah berada di tengah altar, dan begitu juga dengan Su Lihwa. Gadis itu menatap lurus pada Ne Zha, biarpun terhalang oleh tudungnya, tapi itu tidak menutup kemungkinan untuk Su Lihwa melihat Ne Zha dihadapannya. Tidak lupa dengan satu bucket bunga indah yang berada di tangan gadis tersebut.


Penampilan Ne Zha kali ini sungguh mengesankan, mungkin karena pemuda itu biasa menggunakan jubah ringan, ketika menggunakan jubah pernikahan mewah, pesona Ne Zha puluhan kali lipat dinaikan, aura wibawa yang kuat menguar dari tubuh pemuda tersebut. Kesan elegan tinggi juga membungkus secara alami pada Ne Zha.


Mahaguru dari Kuil Cahaya Intan Matahari maju kedepan lalu berhenti di tengah-tengah Ne Zha dan Su Lihwa, pria paruh baya botak itu tersenyum ramah pada Ne Zha dan Su Lihwa.


"Kalian siap?" tanya Mahaguru.


Ne Zha dan Su Lihwa mengangguk dengan mantap menanggapi pertanyaan dari Mahaguru Kuil Intan Matahari.


Mahaguru menyenandungkan sebuah sutra sebelum membimbing Ne Zha dan Su Lihwa melakukan sumpah pernikahan mereka.


"Su Lihwa, kau bersedia menerima Ne Zha sebagai suamimu, sehidup semati untuk bersama? dan melewati aliran waktu dunia hingga ajal menjemputmu?" tanya Mahaguru Kuil Intan Matahari ditemani oleh senyum ramah khasnya.


"Aku, Su Lihwa menerima engkau Ne Zha sebagai suami yang sah dan satu-satunya di hadapan sang penguasa dunia," jawab Su Lihwa seraya menatap Ne Zha dengan pasti dan tidak ada sedikitpun keraguan dalam perkataanya.

__ADS_1


"Ne Zha, kau bersedia untuk terus bersama dengan Su Lihwa?" Pandangan Mahaguru Kuil Intan Matahari menatap pada Ne Zha.


"Aku berjanji padamu Su Lihwa untuk tetap setia melayanimu, mengasihimu dalam keadaan suka ataupun duka, susah ataupun senang, kurus ataupun gendut," jawab Ne Zha dengan nada yang sangat serius dan pasti, sama seperti Su Lihwa, dia juga tidak memiliki keragu-raguan dalam jawabannya.


"Hahaha!" Han Xiao yang berada dibelakang Ne Zha tertawa dengan lepas, dia sungguh tidak menyangka sumpah yang dikatakan oleh Ne Zha akan menyeleneh seperti itu, kurus ataupun gendut. Han Xiao semakin tertawa ketika kalimat itu membayang di kepalanya.


Bletak...


Kaisar Yang Qian memukul kepala Han Xiao, pemuda itu segera terdiam, dia meminta maaf karena telah mengacaukan suasana.


"Ne Zha dan Su Lihwa, kalian mulai hari ini resmi sebagai suami istri yang terikat oleh janji kalian dan cinta kalian, aku berdoa agar sang penguasa terus memberikan rahmatnya padamu," ucap Mahaguru Kuil Intan Matahari seraya mengundurkan diri.


Tangan Ne Zha terulur untuk menyingkap tudung yang menutupi wajah Su Lihwa, pemuda itu segera terpana ketika melihat kecantikan Su Lihwa yang berkali-kali lipat lebih cantik.


"Cium! Cium! Cium!" Han Xiao berseru dengan cukup keras, kini seolah terbawa suasana, para tamu undangan juga semuanya menyerukan kata serupa dengan Han Xiao.


Su Lihwa mengaitkan lengannya pada leher Ne Zha membuat pemuda itu sedikit membungkuk, "Sekarang harus kau yang melakukannya," bisik Su Lihwa.


Ne Zha tertawa kecil, dia juga sangat merindukan rasa manis dan lembut yang berasal dari bibir Su Lihwa, pemuda itu terkekeh sebelum memagutkan bibirnya dengan Su Lihwa, memberikan sebuah ciuman menggelora disana. Ne Zha kini harus berterimakasih pada ingatan Ne Zha yang sebelumnya, berkat ingatan tersebut dia bisa menguasai beberapa teknik dalam mencium.


Tepuk tangan dan sorak sorai ucapan selamat memenuhi aula Akademi.


Dua insan itu memisahkan diri mereka, Su Lihwa dan Ne Zha saling bertatapan dalam rasa penuh cinta yang dalam dari mata mereka.


"Lempar bunganya!" Xia Shiva yang berda di meja paling depan dekat dengan altar berseru kencang.


Inilah yang paling dinanti ketika dalam acara pernikahan, bunga pernikahan yang konon akan memberikan kebahagiaan dalam waktu dekat bagi penerimanya.

__ADS_1


Su Lihwa tersenyum, dia menatap bunga yang ada pada tangannya, pandanan Su Lihwa menyusuri seluruh tamu undangan.


Para tamu undangan segera berdiri karena mereka mengetahui bahwa Su Lihwa akan melempar bunga.


Namun jauh dari harapan mereka, pandangan Su Lihwa terjatuh pada Han Xiao, gadis itu berjalan dengan perlahan untuk mendekati Han Xiao.


"Kenapa kemari? Ayo lempar bunganya, mereka sudah menunggu," ujar Han Xiao dengan bingung.


Su Lihwa tidak menjawab, gadis itu meraih tangan Han Xiao, dia meletakan bunga pernikahannya pada tangan Han Xiao seraya tersenyum lebar.


"Terimalah Han, orang yang mendapatkan bunga pernikahan biasanya akan mendapatkan kebahagiaan dalam waktu dekat, kau juga harus berbahagia. Yang lalu biarlah berlalu, kehidupanmu masih panjang kedepan sana," ucap Su Lihwa dengan senyum yang sangat lembut pada Han Xiao, gadis itu memberikan sebuah kecupan ringan pada pipi Han Xiao sebelum kembali menuju samping Ne Zha.


Han Xiao terdiam, matanya menatap pada bunga yang diberikan oleh Su Lihwa, sebuah senyum ironi muncul pada sudut bibir Han Xiao, "Harus bahagia ya?" batin Han Xiao seraya terkekeh.


"Benar apa yang dikatakan oleh Su Lihwa, kau harus merelakan yang sudah berlalu, bukankah aku sudah memberitahumu soal pepatah lama?" ujar Kaisar Yang Qian seraya menepuk pundak Han Xiao.


"Aku selalu bahagia dengan caraku," balas Han Xiao lalu tersenyum lebar menatap Ne Zha dan Su Lihwa yang kini sangat berbahagia.


"Melihat saudaraku berbahagia saja aku sudah sangat bahagia, tidak sulit bagiku untuk bahagia," ucap Han Xiao.


Kaisar Yang Qian menggelengkan kepalanya ringan, biarpun dia melihat memang yang diucapkan Han Xiao benar, tapi dia merasakan bahwa Han Xiao masihlah tidak bisa melepaskan hal yang telah berlalu. Ruan Jian.


***


Update Mingguan : 08/14


Update Merdeka : 11/75

__ADS_1


__ADS_2