
Selepas masuk kedalam Pagoda Mimpi Buruk, gadi kecil Qin tiba pada sebuah ruangan yang terlihat seperti halaman utama rumah biasa.
Tertera banyak perabotan indah serta banyak foto-foto yang terpajang pada setiap dinding.
“Disini Mata Takdirku tidak berguna, aku harus menggunakan sendiri kemampuanku,” batin Qin saat mulai melangkah lebih dalam.
Pandangan Qin mendapatkan sesosok pria paruh baya yang tengah duduk bersantai pada kursi goyang, mata pria itu tertutup rapat seolah tidak perduli dengan apapun yang terjadi pada dunia.
Dengan penasaran Qin menghampiri pria paruh baya itu dengan hati-hati, ketika jarak mereka telah mendekat, Qin bisa mendengar dengkuran halus yang keluar dari sana diiringi suara napas yang teratur.
“Dia sedang tidur?” gumam Qin saat melihat kondisi pria paruh baya tersebut.
Tiba-tiba saja mata pria paruh baya itu terbuka, memperlihatkan mata berwarna ungu gelap dengan iris mata berwarna merah darah.
“Mata Mimpi Buruk!” jarit Qin terkejut, kini tubuhnya sedikit gemetar, dia mengetahui konsekuensi bertemu pemilik Mata Dewa lainnya.
“Oh tamu ini istimewa karena memiliki Mata Takdir.” Pria paruh baya itu menatap ramah, tapi tatapan itu terlihat mengerikan bagi Qin. Seperti mimpi buruk baginya.
Saat Qin hendak mengambil kecapinya untuk melawan pria paruh baya itu mengangkat tangannya seolah pasrah.
“Tenanglah, aku tidak bermaksud buruk. Walau namaku adalah mimpi buruk.” Pria paruh baya itu menggaruk kepalanya.
“Aku tahu kau ingin merenggut Mata Takdirku agar kau menjadi lebih kuat!” cetus Qin dengan nada yang dingin dan kejam.
Tidak pernah terlintas sosok gadis yang terlihat ramah dan ceria bisa memiliki sisi dingin serta kejam seperti saat ini.
“Aku tidak akan melakukan itu, percayalah aku hanya menjaga Pagoda Mimpi Buruk, tidak ada hal lain yang ingin kulakukan selain tidur. Bagiku yang memiliki Mata Mimpi Buruk tidur adalah kenikmatan surgawi,” ujar peia paruh baya tersebut.
“Cih kaum rebahan!” desis Qin.
Pria paruh baya itu tersenyum lebar menanggapi tingkah laku Qin.
__ADS_1
“Baiklah kau datang kesini untuk mengambil Koin itu bukan? Tentu kau juga tahu bahwa harus melakukan ujian untuk sampai di lantai tertinggi. Ujianmu mulai dari lantai pertama ini, silahkan baringkan tubuhmu. Jika kau bisa mengatasi Mimpi Burukmu maka kau bisa naik ke lantai dua,” terang pria paruh baya tersebut seraya menunjuk sebuah ranjang yang sangat nyaman disebelah kanan Qin.
Qin masih menatap penuh curiga dan waspada terhadap pria paruh baya tersebut, gadis kecil itu bahkan tidak bergeming saat diberi arahan untuk tidur di ranjang sana. Bisa saja pria itu melajukan sesuatu yang buruk padanya. Seperti mencongkel matanya agar mendapatkan Mata Takdir.
“Nona kecil, aku bersumpah demi surga bahwa aku tidak akan melakukan hal buruk terhadapnu. Setelah kau berbaring disana aku akan melanjutkan tidurku,” ucap pria paruh baya itu seraya menatap tidak berdaya pada Qin.
Memang karena memiliki Mata Dewa sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari pemilik Mata Dewa lainnya.
Qin menatap pria paruh baya itu sebentar sebelum melangkahkan kakinya menuju ranjang, melihat rasa ketidakberdayaan yang nyata pada mata ungu merah pria patuh baya itu membuat Qin sedikit percaya dengan arahan pria itu.
Memang salah satu ujian yang Qin ketahui adalah dia diahruskan tertidur dan melawan mimpi buruknya, tapi tidak pernah dia sangka penjaga lantai pertama adalah pemilik Mata Dewa.
Tubuh kecil Qin segera berbaring setelah menaruh kecapi di samping tubuh kecilnya, dia tidak ingin jauh dari kecapi tersebut.
Mata Qin segera menutup untuk memasuki tidur dan melawan mimpi buruknya.
***
Disisi lain, Ne Zha yang telah keluar dari Jurang Kejahatan tengah berlari didalam hutan untuk keluar dari tempat mengerikan ini.
Ne Zha malas untuk berhadapan dengan Binatang Iblis yang ditemuinya karena tidak akan menjadi samsak latihan yang baik untuknya, walaupun beberapa memiliki tingkat 6 sampai 7.
“Aku harus mencari tempat yang bagus untuk membangun Istana Takdir selanjutnya,” pikir Ne Zha seraya berlari menuju luar hutan.
Pikiran Ne Zha terus berkelana mencari tempat yang menurutnya cocok untuk dia melakukan rencananya.
***
“Aaaaaaaaaahhhhhhhhhhh!!!” pekikan nyaring keluar dari mulut seorang gadis kecil ketika melihat segerombolan kupu-kupu mengejarnya.
Wajah gadis itu pucat pasi, sungguh dia ketakutan melihat kupu-kupu besar yang sangat banyak itu.
__ADS_1
“Ini benar-benar mimpi buruk!” gerutu Qin saat terus dikejar oleh para kupu-kupu yang menjadi mimpi buruknya.
Qin sangatlah takut pada kupu-kupu, tubuh mereka yang berbulu hasil evolusi dari ulat membuat tubuh Qin merinding.
Dia sangat membenci ulat karena pernah membuatnya harus mengalami gatal-gatal yang menyiksanya hingga beberapa waktu.
Dan ketika mengetahui bahwa kupu-kupu adalah ulat yang berevolusi sungguh walaupun terlihat indah dimata gadis lain tapi itu mengerikan bagi Qin.
Sungguh tidak Qin sangka dia akan berhadapan dengan kupu-kupu yang menjadi minpi buruknya.
“Aku harus melawan!” batin Qin tegas.
Sebuah tekad yang membara menyala pada mata Qin, gadis kecil itu membalikan tubuhnya untuk melihat para kupu-kupu yang mengejarnya.
Diliriknya ada sebuah daun yang jatuh melintasi pandangan matanya, sebuah senyum terulas dari bibir Qin.
Tangan kecilnya segera meraih daun tersebut lalu meletakannya pada bibir kecilnya.
“Ilmu Sihir Musik, Seruling Pembantaian,” gumam Qin rendah.
Qin meniupkan udara pada daun tersebut, dengan segera sebuah melodi seruling yang indah terpancar dari sana.
Alunan melodi itu sangat tenang dan menyenangkan, namun bagi kupu-kupu yang tak tahan dengan suara frekuensi yang dikeluarkan oleh alunan Seruling Pembantaian yang dimainkan Qin terasa bagaikan siksaan.
Kini Qin telah berhasik mengalahkan para kupu-kupu yang menyerangnya, secercah rasa lega membanjiri seluruh tubuhnya. Kini sudah tidak ada lagi rasa takutnya pada kupu-kupu.
Sebuah cahaya terang memasuki tubuh Qin dalam sekejap membuat gadis kecil itu terkejut bukan main.
“Apa ini?” Qin menggernyit heran, setelah dimasuki oleh cahaya putih itu dia merasa pikirannya menjadi lebih jernih dari sebelumnya.
“Selamat telah melawan mimpi burukmu, silahkan naik tangga untuk melanjutkan ke lantai berikutnya.” Sebuah suara lembut mengintruksi Qin dari kebingungannya.
__ADS_1
Belum sempat gadis kecil itu mengangkat suara kini pandangannya sudah dipenuhi oleh pijar putih yang membuat kabur pandangannya, hal yang sudah dia pastikan adalah dia telah melangkah untuk mendekatkan pada tujuannya.
Tapi ini belum membuat Qin senang, ujian berikutnya pastilah tidak kalah sulit. Nama ‘Mimpi Buruk’ pada Pagoda ini bukanlah hanya sekedar hiasan.