Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab195. Pernyataan tidak tepat


__ADS_3

"Ka... Kau masih hidup?!" Mo Moshi menatap horor pada Han Xiao yang kini tlah menusukan pedang besarnya tepat di dadanya.


"Aku tidak akan mati jika baj¡ngan-baj¡ngan sepertimu masih hidup," ujar Han Xiao lalu mengaktifkan Devour pada Pedang Delapan Kejahatan untuk mengisap Esensi Darah dan Qi dari tubuh Mo Moshi.


Tubuh Mo Moshi dengan cepat mengering, dalam waktu singkat kini Mo Moshi hanya tinggal kulit dan tulang yang jatuh luluh lantah di tanah.


Han Xiao menatap dingin pada jasad Mo Moshi, sebuah api menyala terang di tangan Han Xiao, dengan gerakan tangannya, dia membakar kulit dan tulang Mo Moshi.


"Baj¡ngan celaka!" ketus Han Xiao lalu mengalihkan pandangannya pada Ruan Jian yang kini tengah terbaring lemah menatapnya dengan penuh linangan air mata.


"Kau sudah aman, kita akan menuju tempat aman dan mengobati lukamu terlebih dahulu," ucap Han Xiao lalu meraup tubuh Ruan Jian setelah menaruh Pedang Delapan Kejahatan kedalam Cincin Darah.


Mata Han Xiao beredar pada seluruh area, dia menemukan dua gadis cantik yang tengah bersantai menonton perang seolah sedang menonton sebuah drama opera, dia juga menyadari dua gadis itu tengah memperhatikannya, segera Han Xiao melesat kearah dua gadis tersebut.


Tak butuh waktu lama untuk Han Xiao mencapai tempat dua gadis tersebut, "Kalian seharusnya tahu apa yang harus dilakukan," ujar Han Xiao pada dua gadis tersebut.


Han Xiao sudah mengetahui bahwa dua gadis itu adalah yang melindunginya selama berburu siluman dan menyamar menjadi pria, Han Xiao mengetahui bahwa mereka hanya menyamar tapi dia tidak menghiraukan masalah tersebut karena mereka berdua tidak memiliki niat buruk padanya ketika mengetahui bahwa mereka berdua ternyata kakak dan adik dari Han Xiao yang dia gantikan.


"Serahkan pada kami Han'er," balas Xiao Jiang seraya tersenyum indah pada Han Xiao.


"Terimakasih," ucap Han Xiao lalu melesat menuju para jenius yang kini tengah berhadapan dengan Pasukan Penguasa Generasi dan Ne Zha.


"Akan kubuat kalian membalas ini," batin Han Xiao kesal lalu mengayunkan Pedang Delapan Kejahatan untuk melawan jenius Benua Api Barat.


Sejauh ini ada dua korban dari Pasukan Penguasa Generasi dan tujuh korban dari seratus jenius Benua Api Barat, itu sudah termasuk dengan kematian Mo Moshi.


"Han!" suara teriakan Ne Zha dikejauhan segera mengintrupsi Han Xiao untuk mengalihkan pandangannya, segera matanya bersirobok dengan mata hitam legam milik Ne Zha.

__ADS_1


Han Xiao mengangguk lalu melesat menuju arah Ne Zha, dalam sekejap kini dua pemuda itu telah saling memunggungi untuk melawan jenius dari Benua Api Barat.


Tidak tanggung jenius yang mengepung mereka berjumlah tiga puluh, para jenius ini memiliki pikiran yang sama, mengalahkan dua pemuda itu dengan jumlah dan membunuh dua pemuda tersebut!!!


Bukan gentar yang ada pada ekspresi dua pemuda tersebut, melainkan sebuah senyum, yang satu senyum riang, sedangkan yang satunya senyum dingin.


"Formasi Naga dan Phoenix!" Han Xiao dan Ne Zha berseru rendah sebelum mulai menyerang para jenius dari Benua Api Barat.


Raungan Naga dan pekikan Phoenix bergema setiap Han Xiao dan Ne ZHa mendaratkan pedang mereka pada musuh, serangan mereka sungguh mematikan, dalam sekali serang sanggup untuk membelah tubuh Jenius Benua Api Barat menjadi dua.


Terlepas dari Pedang yang mereka gunakan adalah pusaka tingkat tinggi, kekuatan mutlak mereka juga tidak bisa diremehkan.


Pemandangan yang ada bukanlah seperti pertarungan, itu lebih baik dikatakan sebuah pembantaian! Para Jenius Benua Api Barat yang awalnya melawan Psukan Penguasa Generasi kini seluruhnya berkumpul untuk membunuh Han Xiao dan Ne Zha, juga tidak sedikit pasukan dari dua ras lainnya bergabung dengan jenius mereka.


Namun pada akhirnya, mereka masihlah dibantai oleh Han Xiao dan Ne Zha, dua pemuda itu terengah-engah ketika Qi mereka mulai terkuras.


Senyum segera memenuhi pihak pasukan musuh, mereka memastikan bahwa Han Xiao dan Ne Zha kini tengah kehabisan Qi untuk melawan mereka.


Segera saja ratusan orang menyerbu pada Han Xiao dan Ne ZHa yang kini tengah berto[ang pada pedang mereka, namun tidak ada rasa takut pada mata dua pemuda tersebut, justru mereka tersenyum lebar.


"Ledakan!" ujar dua pemuda itu bersamaan.


Pada berikutnya, sebuah bayangan Naga dan Phoenix bangkit dari puluhan mayat yang telah mereka berdua bunuh.


"Kalian pikir kami bodoh? Menyerang secara brutal tanpa arah?" Ne Zha tertawa kecil ketika bayangan Naga dan Phoenix dari para mayat meledak dan membunuh orang-orang dari Ras Sayap dan Ras Pola Hantu.


Mereka bukan hanya sekedar menyerang, mereka menggunakan formasi Naga dan Phoenix dari ingatan Harimau Suci, formasi ini membutuhkan mayat baru untuk bahan, dari mayat itu akan terkumpul Qi Mayat dan membentuk sebuah bayangan yang akan meledak dengan kekuatan yang dahsyat.

__ADS_1


BOOOOOOM!!!


Disisi lain sebuah ledakan terjadi, salah satu kapal milik Ras Pola Hantu hancur oleh sosok yang mendarat disana, seorang pria berkulit pucat terbang keluar dari ledakan tersebut, sekujur tubuhnya dipenuhi oleh darah, matanya menatap nyalang pada sosok bocah yang tengah menatapnya nakal diatas langit.


"MUNDUR!!!" orang itu berteriak nyaring, dia adalah Mo Yanjing. Dia melihat bahwa kondisi mereka sangat buruk dan akan menjadi kekalahan telak jika terus melanjutkan perang.


Segera saja semua orang dari Ras Sayap dan Ras Pola Hantu mengikuti arahan dari Mo Yanjing untuk mundur, berbondong-bondong kultivator dari dua ras berlari kearah kapal mereka lagi. Tentu saja kultivator Benua Angin Selatan tidak membiarkan mereka pergi dengan mudah, mereka membunuh sebanyak mungkin kultivator dari dua ras tersebut.


Perang gelombang pertama ini dimenangkan oleh Benua Angin Selatan, tapi ini masih jauh dari kata menang, itu karena masih ada beberapa kapal yang datang namun tidak menurunkan pasukan mereka.


Dengan kata lain perang akan menjadi sangat panjang, para kultivator Benua Angin Selatan juga mundur ketika melihat musuh sudah kembali masuk kedalam kapal mereka, kini mereka juga kembali ke garis pertahanan di Pantai Selatan untuk beristirahat.


Han Xiao dan Ne Zha bersama Pasukan Penguasa Generasi juga menuju tempat istirahat, sesampainya disana, mereka melihat Ruan Jian yang tengah bersusah payah untuk menghampiri mereka.


Ruan Jian terus menatap Han Xiao, pemuda itu ternyata sedang pintar, dia segera memahami pandangan tersebut dan menghampiri Ruan Jian untuk membantu gadis tersebut berjalan mendekati Pasukan Penguasa Generasi.


"Maafkan aku tidak bertarung bersama kalian sampai akhir," ucap Ruan Jian merasa bersalah.


Pasukan Penguasa Generasi menjawab dengan penuh pengertian, mereka bahkan meminta maaf tidak bisa membantu Ruan Jian yang tengah terpojok saat itu.


"Han Xiao, ada yang ingin kukatakan padamu. Mungkin ini bukanlah waku yang tepat, tapi aku harus menyatakannya sebelum aku pergi," kata Ruan Jian.


"Jangan berkata yang aneh-aneh Ruan Jian! Kau tidak akan pergi!" Han Xiao segera meraih pundak gadis tersebut dan menatapnya.


"Tidak, Dantianku sudah retak, Roh Beladiri miliku sudah hancur. Ini adalah akhir bagiku, tapi sebelum itu aku ingin menyatakan padamu, bahwa aku. Mencintaimu," lirih Ruan Jian.


Tubuh Han Xiao bergetar ringan ketika mendengar pernyataan dari Ruan Jian, dia menatap kosong pada gadis dihadapannya.

__ADS_1


***


Update Mingguan : 13/14


__ADS_2