Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab436. Pertemuan


__ADS_3

"Panen kita sudah sangat baik kali ini, akan sempurna jika berhasil membawa kedua Monster itu." Han Xiao tertawa dan menatap nyalang pada pertarungan Huo dan Haima yang akan segera menuju puncaknya, pertarungan itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.


Han Xiao sudah menghitung, ini genap umurnya yang ke lima ratus dua puluh tahun. Jika dihitung maka dia sudah setengah juta tahun di Menara Tianxia.


"Kau tidak mencari Fan Meirong?" tanya Su Lihwa.


"Ah aku lupa." Han Xiao menjentikan jarinya, dia segera mengeluarkan kompas dari Bi Ru, mata pemuda itu terkejut saat melihat lokasi Fan Meirong sangat dekat dengannya.


"Dia berada di dekat sini!" Han Xiao berseru senang, sudah lima ratus tahun dia menahan dendamnya, ini saatnya untuk dia menuntaskan kekesalan dalam hatinya.


"Keluar dari Titik Buta saat ini akan sangat membahayakan Han!" Xian Xuenai mengingatkan Han xiao dua Monster yang tengah bertarung.


Han Xiao tersenyum lebar, dalam sekejap tubuhnya diliputi oleh sisik hitam halus yang sangat kokoh. Han Xiao melakukan Perubahan Tubuh menjadi Naga Hitam!


"Jika memiliki bentuk Monster juga, mereka akan menghiraukanku," ucap Han Xiao.


Yang Shui, Xian Xuenai dan Su Lihwa segera melakukan hal serupa, Perubahan Tubuh.


Benar, ketika mereka keluar dari titik buta, tidak ada satupun Monster yang memperhatikan mereka.


Han Xiao bergegas menuju titik dimana Fan Meirong berada, itu benar-benar tidak jauh! Han Xiao dipenuhi oleh antisipasi yang sangat membakar.


"Ayo kita akan segera sampai padanya!" Han Xiao tertawa lantang lalu melesat lebih cepat lagi.


***


"Pertarungan Monster tingkat 22 sungguh menakjubkan!" Qin menatap ke langit, disana berbagai warna bertebaran, serangan demi serangan yang dilepaskan oleh Huo dan Haima merentang sangat jauh, saat ini Qin, Ne Zha, Bing Xing, Feng Jin, Gouyu, Yan Zhong dan Fan Meirong tengah menonton pertarungan Huo dan Haima.


Mereka sungguh terkejut, awalnya mengira itu pertarungan dari Monster tingkat 21. Namun, siapa sangka itu akan menjadi pertarungan Monster tingkat 22, Ne Zha awalnya ingin pergi lebih dekat, tetapi tidak diperbolehkan oleh Qin.


Qin mengatakan bahwa Fan Meirong akan bertemu dengan Han Xiao di tempat ini, jika mereka menerobos masuk kedalam pertarungan dua Monster tingkat 22 itu. Takdir akan kembali berubah, dan Qin tidak mengetahui Takdir kedepannya jika mereka melangkah masuk kedalam pertarungan.


"Bagaimanapun mereka adalah Monster tingkat 22, itu setara dengan Kaisar Abadi. Jika pertarungan mereka terjadi di luar Menara Tianxia, sudah cukup untuk mengacak-acak banyak Alam Semesta." Ne Zha berpikiran logis, untuk saat ini. Di Kesatuan yang paling kuat adalah Monster tingkat 20 dan Kultivator Kaisar.


Jika ada keberadaan Monster tingkat 22 seperti Huo dan Haima bertarung di Kesatuan, itu akan menjadi kehancuran Kesatuan. Seratus Kaisar belum tentu sanggup menahan keduanya.


Sampai disini saja Ne Zha mulai berpikir kembali seberapa kuat Menara Tianxia dan juga seberapa hebat orang yang menciptakan Menara Tianxia.


"ZHAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" pekikan nyaring membuat Ne Zha tersentak, pandangan ne Zha segera terarah pada asal suara.


Napas Ne Zha tercekat saat melihat sosok yang dipandangnya, jantung Ne Zha terasa berdetak lebih kencang. Senyum hangat mencelos dari bibir Ne Zha, tatapan Ne Zha juga menjadi sangat lembut dan hangat, tidak sedingin seperti sebelumnya.

__ADS_1


Tubuh kaku Ne Zha menjadi sangar ringan pada saat itu juga, pemuda itu segera berhambur menghampiri sosok gadis berjubah hitam yang juga berlari padanya.


Ya gadis berjubah hitam itu tak lain adalah Su lihwa, sungguh tidak menyangka pergi mengikuti Han Xiao mencari Fan Meirong akan mempertemukannya dengan sosok yang sudah sangat dia rindukan selama ratusan tahun ini. Orang yang selalu membayanginya di setiap tidurnya. Ya, sang suami yang sangat dia cintai. Ne Zha.


Su Lihwa berhambur memeluk Ne Zha dengan sangat erat seolah takut kehilangan Ne Zha lagi, pelukan yang diberikan Ne Zha juga sama eratnya. Kedua insan itu meleburkan rindu mereka dalam pelukan tersebut, hening. Itulah yang ada disana, tiba-tiba tempat itu menjadi hening mendadak. Bahkan pertarungan dari Huo dan Haima tidak terdengar.


"Kau melanggar perjanjian eh untuk menungguku pulang?" Ne Zha berbisik ringan seraya menyibak helaian rambut Su Lihwa dan menaruhnya pada atas daun telinga Su lihwa.


Dug...


Su Lihwa memukul dada Ne Zha, "Kau kira itu mudah huh?! Kau kira itu mudah bagiku?!" Su Lihwa memukul dada Ne Zha terus menerus seraya mengeluarkan air matanya.


Ne Zha tidak sakit oleh pukulan Su Lihwa, Ne Zha memeluk Su Lihwa dan merengkuhkan kepala Su Lihwa agar terbenam di dadanya.


"Maafkan aku," lirih Ne Zha. "Kau pasti sulit."


Ne Zha kini sudah memahami, mereka barusaja menikah, tetapi harus berpisah sampai rentang waktu yang bahkan dia sendiri tidak ketahui. Bukan hal aneh jika Su Lihwa memberontak dan pergi mencarinya.


"Tidak! aku tidak akan memaafkanmu!" rengek Su Lihwa.


Ne Zha terkekeh ringan melihat sifat manja Su Lihwa, dia meniup telinga Su Lihwa ringan membuat Su Lihwa terkejut, ketiga Su Lihwa ingin memprotes, barusaja kepalanya terangkat. Ne Zha melancarkan serangan berikutnya, yaitu mencium bibir Su Lihwa.


Han Xiao disisi lain tidak kalah terkejut karena bertemu dengan Ne Zha, tetapi dia kesal karena harus menonton adegan seperti ini.


"Han." Yang Shui yang berada di samping Han xiao menyenggol pundak pemuda tersebut.


"Apa?! Kau tidak melihat aku sedang kesal melihat adegan seperti itu di depanku?" gerutu Han Xiao.


"Lihat disana!" Yang Shui memukul kepala Han Xiao, membuat pemuda itu dengan paksa melihat ke sebuah arah.


Han Xiao mengomel pada Yang Shui karena memukul kepalanya cukup keras, tetapi sesaat kemudian pemuda itu tertegun saat melihat gadis berjubah biru dengan rambut yang ditata sangat rapi. Mata biru terangnya membuat Han Xiao terkesima sekaligus kagum.


Mulut Han Xiao berkedut ringan ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Gadis yang dipandang oleh Han Xiao tidak lain adalah Bing Xing, pada saat ini Bing Xing menunduk, tidak menatap langsung pada Han Xiao. Jelas dia masih dibayangi oleh kejadian sebelumnya, karena dirinya Han Xiao berada dalam keadaan yang sangat berbahaya, bahkan hancur hingga berkeping-keping karena dia membawanya ke pintu Api Dingin Es.


"Bang, hampiri Xing'jiejie. Dia tidak berani mendekatimu karena kejadian terakhir." Pada saat ini telepati Feng Jin masuk ke telinga Han Xiao menjelaskan kejadian dalam lima ratus tahun ini yang dilakukan oleh Bing Xing setelah kejadian Han Xiao masuk dan bertarung melawan Api Dingin Es.


***


"Pertemuan yang kuimpikan

__ADS_1


Kini jadi kenyataan


Pertemuan yang kudambakan


Ternyata bukan khayalan." Han Xiao menyanyikan sebuah lagu seraya memetik gitar di tangannya.


"Sakit karena perpisahan


Kini telah terobati


Kebahagiaan yang hilang


Kini kembali lagi." Tangan Han Xiao bergerak seolah menggapai langit.


"Pertemuan yang kuimpikan


Kini jadi kenyataan


Pertemuan yang kudambakan


Ternyata bukan khayalan." Han Xiao bergerak untuk membelai lembut wajah halus Bing Xing yang kini tersenyum lembut padanya.


"Rindu yang selama ini sudah menggunung


Mencair diterpa cinta dalam senandung


Cinta yang selama ini masih terpendam


Tercurah sudah penuh dengan kemesraan." Tangan Han Xiao bergerak menelusuri pinggang Bing Xing dan memeluk gadis itu dari belakang penuh dengan kelembutan.


"Tak ingin lagi terpisah...


Cukup sekali berpisah...


Tak ingin lagi merana...


Cukup sekali merana..." Han Xiao menaruhkan dagunya pada pundak Bing Xing dan mengakhiri nyanyiannya.


"Sekian terimakasih hiburan dari saya, Han Xiao." Han Xiao menundukan sedikit punggungnya memberikan pose layaknya seorang penyanyi yang telah melakukan konsernya.


Update Mingguan : 07/14

__ADS_1


__ADS_2