
"Istana kesepuluh tidak dibentuk melainkan muncul dengan sendirinya, dan juga itu dikunci oleh sesuatu bernama Muladra yang berpusat pada ketakutan," batin Bing Xing menghela napas panjang, sungguh dia sangat menyesal karena tidak sanggup menalawan ketakutan yang dimilikinya. Hal itu membuat dia tidak bisa membuka Istana Takdir kesepuluh yang memungkinkan dia menjadi kultivator terkuat dalam Istana Surga yang pernah ada di Benua Angin Selatan.
Namun Bing Xing tidak mengeluh lebih jauh, setidaknya kini dia memiliki informasi yang sangat penting, yaitu tentang Istana Takdir kesepuluh yang terkunci oleh Muladra.
Yang pertama Bing Xing lakukan nanti adalah ingin menemui Kaisar Yang Qian, dari gurunya Ptriark Donghai dia mengetahui bahwa Kaisar Yang Qian adalah pemilik Istana Surga.
"Aku hanya memastikan, jika ternyata berbeda maka kemungkinan itu hanyalah sebuah keberuntungan untukku," pikir Bing Xing lalu beranjak bangun dari posisi berkultivasinya, bukan karena apa. Tapi kini tubuhnya sangat bau karena mengeluarkan kotoran dari seluruh pori-poriya setelah naik tiingkat kultivasi.
***
"Kau akan mati Petapa Gila!" pekik seorang pria paruh baya saat membawa sekelompok orang lainnya dibelkangnya untuk mengepung seorang pemuda yang memiliki rambut kebiruan.
"Petapa gila?" Pemuda itu segera mematung saat mendengar pekikan dari ptia paruh baya itu, sunguh dia bingung saat selalu saja dirinya disebut petapa gila oleh orang-orang yang melihatnya.
"Kau takut? Walaupun kau adalah salah satu dai tiga petapa, namun apakah kau yakin akan bertahan hidup setelah puluhan Kultivator Alam Inti Kosong dan Alam Roh mengepugmu?" ejek pria paruh baya tersebut.
Pemuda itu tampak sedikit frustasi, tapi tidak ada secercah rasa ketakutan pada matanya. Justru sebuah senyum riang yang lebar terukir disana.
"Heh kau memang gila! dihadapkan oleh maut namun masih tersenyum lebar menijikan sepserti itu?!" sindir pria paruh baya itu dengan nada yang sangat penuh olokan.
"Sudah kubilang, aku bukanlah Petapa gila Ling Tian, aku hanyalah seorang pemuda yang secara tidak sengaja nyasar kesini," ujar pemuda itu dengan senyum lebarnya, dia adalah Han Xiao.
Kini pemuda riang itu tengah dikepung oleh para Kultivator hebat aliran hitam, mereka memiliki puluhan Kultivvator Alam Inti Kosong dan juga terlihat banyak kultivator Alam Roh dibeakang mereka.
Mengingat bahwa kultivator Alam Inti Kosong sangatlah sedikit, sudah jelas bahwa aliran hitam menggerakan kekuatan hampir dari dua puluh persen dari kekuatan aliran mereka.
__ADS_1
Hal ini sangat membuktikan bahwa kepala Han Xiao sangatlah mahal, selama nyaris dua bulan ii Han Xiao telah mengguncang aliran hitam dengan kekuatannya. Tapi Han Xiao tidak sembarangan menyerang, dia hanya akan menyerang yang menurutnya harus diserang, jika tidak maka dia akan mengabaikannya.
Banyak kultivator aliran hitam menyetujui bahwa Han Xiao adalah Ling Tian sang petpa gila.
Sayangnya, diantara puluhan kultivator Alam Inti Kosong disini mereka belum pernah bertemu tatap muka langsung dengan Petapa gila, sehingga mereka juga berasumsi bahwa Han Xiao adlah petapa gila.
"Ayolah, sudah kuberitahukan bukan? Aku ini bukanlah petapa gila," ujar Han Xiao dengan santai seolah yang sedang mengepungnya bukanlah para jagoan terhebat di Benua Angin Selatan.
Namun dalam hati Han Xiao mengumpat berulangkali, tidak pernah dia sangka aliran hitam akan bersatu dan mengumpulkan pasukan elit untuk menghabisinya.
"Jangan banyak bicara! Ayo serang dia! Bunuh orang gila ini!" prkik pria baruh baya tadi.
Segera saja beberapa kultivator mengikutinya untuk menyerang Han Xiao.
"Sialan! Sampai kapan kau hanya ingin menonton huh?!" Han Xiao segera berseru keras dengan sangat kesal kearah awan hitam di langit malam.
"Cepatlah orang gila!" pekik Han Xiao sekali lagi dengan penuh kekesalan.
TRAAANG!!!
Tongkat Naga Penghancur menangkis serangan pedang dari [ria paruh baya tadi, Han Xiao menatap sengit pada pria paruh baya itu, jika sata hanya satu lawan satu dia yakin bisa membunuh pria paruh baya itu dengan mudah. Namun berbeda dengan sekarang, ada delapan Kultivator Alam Inti Kosong yang menyerangnya dari berbagai arah.
Han Xiao menggunakan jurus Kemarahan Dewa Kejahatan yang sangat mengerikan baik dalam kecepatan dan serangan, mata Han Xiao tidak berubah merah, namun kini irisnya yang sebelumnya berwarna hitam telah berubah warna dengan kebiruan.
Dalam waktu singkat Han Xiao dan sembilan Kultiator Alam Inti Kosong telah betukar serangan dengan snangat sengit. Han Xiao terpaksa harus mundur atau tidak dia akan terluka parah dalam serangan yang berdatangan bersama padanya tadi.
__ADS_1
"Dasar pengecut, ayo sini keluar atau jika aku selamat hari ini dan menemukanmu di masa depan, maka kau tidak akan memiliki kepala pada tubuhmu!" seru Han Xiao pada awan hitam di langit.
Sungguh dia tidak pernah mengalami keadaan seperti ini, sangat terdesak. Selama ini tidak banyak orang yang bisa menekannya, namun kini para kultivator Alam Inti Kosong menyerang bersamaan, jika itu bukanlah Han Xiao maka orang itu akanmati berulang kali. Han Xiao memiliki banyak trik di lengan bajunya, namun itu semua tidak berguna untuk melawan kultivator Alam Inti Kosong sebanyak ini.
BOOOOOOOOOOOOMM!!!
Ledakan besar terjadi dihadapan Han Xiao yang menjadi batas jarak dari sembilan kultivator yang menyerangnya dan puluhan kultivator yang siap menyerang kapanpun.
Debu yang berterbangan segera menghilan, mata semua orang disana membelalak hingga sebesar telur angsa. Rahang mereka teratuh saat melihat kawah yang sangat dalam tercipta ketika sesosok pemud berdiri dengan angkuh dan sombong disana.
Pemuda itu memiliki kesan pembawaan yang sangat tinggi seolah dia merendahkan setiap makhluk yang ada dibawah langit.
"Siapa kau?!" pekik pria [arh baya tadi terkejut, mereka tidak menyangka akan ada kultivator sekuat pemuda itu muncul disini.
"Orang lain menyebutku dengan sebutan Petapa Gila, dan namaku adlah Ling Tian," ujar pemuda yang mengatakan bahwa dia adalah Petapa gila.
Sebuah kipas besar muncul di tangan pemuda tersebut, "Kipas Kehancuran!"
Segera saja pemuda itu menggibaskan kipas besarnya, aura kehancuran ynag dahsyat melekat pada gelombang yang dilepaskan oleh kipas tersebut.
Pria paruh baya tadi dengan delapan kultivator lainnya mengangkat senjata mereka dan hendak menahan serangan yang datang.
Pupus sudah harapan mereka, ketika senjata mereka beradu dengan gelombang kehancuran yang dilepaskan oleh kipas besar pemuda itu segera saja hancur berkeping-keping.
Sembilan kultivator itu segera terhempas mundur setelah gelombang itu menyentuh mereka, pakaian atas mereka telah hancur hanya tersisa celana saja.
__ADS_1
"Ayo maju, aku ingin kalian membuktikan bahwa aku akan mati jika kalian menyerang bersama," tantang pemuda tersebut.
"Sisakan aku pria sialan itu." Han Xiao menunjuk pria paruh baya tadi, sungguh dia tidak Menyukai pria paruh baya itu karena terus memprovokasinya secara telanjang.