
Brak...
"Abaaaaaang Haaaaaan!!! Abaaaaang Zhaaaa!!!" suara gebrakan pintu terbuka kasar diiringi teriakan memekikan telinga dilakukan oleh seorang gadis berambut emas.
Wajah gadis itu menjadi cemberut dan kesal ketika melihat dua pemuda yang tengah tertidur nyenyak diatas ranjang.
Gadis itu tak lain adalah Ren Yanyu, melihat dua abangnya masih tertidur, sedangkan hari ink adalah hari pertama mereka mengajar di kelas sebagai guru, rasa kesal muncul pada hati Ren Yanyu.
Ren Yanyu segera naik keatas ranjang dan memukuli satu-persatu abangnya, dia yakin hanya dengan goyangan tangan belaka dua pemuda itu tidak akan bangun.
Tangan Ren Yanyu bergerak untuk terus memukuli Han Xiao dan Ne Zha, "Bangun dasar Kukang pemalas!!!" pekik Re Yanyu seraya tak hentinya memukuli tubuh kedua abangnya.
"Yu'er, ini masih malam, tidurlah." Han Xiao bergumam lalu menarik Ren Yanyu kedalam pelukannya.
Ne Zha yang matanya tertutup rapat pun menarik Ren Yanyu acara tertidur.
Kini posisi Ren Yanyu terhimpit di tengah dua pemuda tersebut, wajah Ren Yanyu menjadi merah padam, tiba-tiba sebuah ide terlintas dalam kepalanya. Tangan Ren Yanyu bergerak untuk membentuk mudra tangan.
"Tubuh Api!" Ren Yanyu berseru sangat rendah.
Sekujur tubuh gadis berambut emas itu kini menyala terang lalu api membara meledak dari tubuhnya dan membakar apapun yang disentuhnya.
Kasur yang dijadikan tempat tidur oleh Han Xiao dan Ne Zha kini terbakar menyala, dua pemuda itu terperanjat melompat penuh terkejut. Untung mereka menggunakan jubah yang merupakan Alat Roh, jika tidak. Sudah pasti sekarang mereka terbakar oleh Api emas dari tubuh Ren Yanyu.
"Apa yang kau lakukan?!" Han Xiao memekik penuh kejutan.
"Kalian ingin mengajar atau tidak? Sulit sekali kalian bangun, kupukuli pun kalian tidak bangun, maka dari itu aku menggunakan cara itu." Ren Yanyu tersenyum indah setelah mematikan seluruh api dari tubuhnya, pakaian gadis itu masih utuh. Tidak sedikitpun terbakar, itu karena hanfu ringan yang digunakannya adalah sebuah Alat Roh.
"Lebih baik kalian bersiap-siap, dua abangku sayang tidak ingin terlihat jelek karena datang ke kelas belum mandi bukan?" Setelah mengatakan hal tersebut, Ren Yanyu menghampiri kedua abangnya dan mengecup pipi mereka bergantian. Gadis itu melenggang pergi meninggalkan Han Xiao dan Ne Zha setelahnya.
__ADS_1
"Persis seperti apa yang dilakukan Leyra dulu," celetuk Han Xiao ketika melihat kepergian Ren Yanyu.
Ne Zha tersenyum kecut, "Ini lebih ekstrim, dulu kita dibangunkan oleh Leyra hanya disiram air, tapi sekarang. Kita dibakar," ujar Ne Zha.
Dua pemuda itu menatap nanar pada ranjang yang kini sudah terbakar hangus, mereka tidak lagi memikirkan ranjang mereka lagi dan bergegas menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri.
***
Suasana murid kelas S saat ini sangatlah canggung, terutama pada kelompok Yin Cheng dan murid Istana Surga lainnya terlihat seperti memisahkan diri dengan empat tim yang sebelumnya bekerja sama dengan tim Penguasa Generasi.
Jadi kelas S terlihat seperti memiliki dua kubu, dan mungkin begitulahyang mereka lakukan.
"Selamat pagi semua!"
Sebuah sapaan riang membuat kelas yang tadi sedikit riuh dengan obrolan segera menjadi hening ketika mendengar suara tersebut.
Han Xiao dan Ne Zha masuk kedalam kelas, mereka berdua nampak sangat segar dengan rambut basah yang memiliki ciri khas masing-masing, rambut hitam legam Ne Zha tersisir rapi sedangkan rambut Han Xiao sungguh bertolak belakang, pemuda itu memiliki rambut yang berantakan.
"SELAMAT PAGI GURU HAN DAN GURU ZHA!" serempak satu kelas itu seolah memiliki sebuah chemystri yang bersatu, mereka semua berseru dalam kata yang sama dan intonasi nada yang sama.
Han Xiao tersenyum lebar, sedangkan Ne Zha masih terlihat menyendiri dan hanya mengangguk ringan untuk jawaban.
"SIlahkan kalian duduk, kita akan memulai pelajaran hari ini," ujar Ne Zha akhirnya angkat suara.
Nada suara Ne Zha yang monoton secara langsung membuat para murid secara reflek duduk mengikuti perkataannya.
"Kami sejujurnya akan sulit untuk mengajar kalian secara bersama seperti ini, itu karena baik manual kultivasi, Ilmu Sihir dan Jurus yang kalian miliki pasti berbeda-beda. Tapi kami memiliki cara, satu pelatihan yang sama namun akan memiliki efek terhadap kemajuan kalian," jelas Han Xiao memulai kelasnya.
"Kalian pasti mengetahui bukan, apa yang paling penting untuk kalian menjadi kultivator?" kini giliran Ne Zha yang bertanya.
__ADS_1
"Qi," ujar Yin Cheng dengan cepat.
"Tubuh." Pada saat bersamaan Bing Xing juga mengangkat suaranya.
"Benar." Han Xiao menunjuk Bing Xing dengan sebuah kuas di tangannya.
"Hey bukankah Qi adalah yang paling penting bagi kultivator?" Yin Cheng memprotes.
"Qi memang penting untuk kultivator, tapi tubuh yanglebih penting, tanpa tubuh yang bisa menampung Qi, bahkan jika kau memiliki bakat tertinggi di dunia inipun tubuhmu akan meledak," jawab Ne Zha dengan caranya yang santai dan tenang.
Kelas seluruhnya terdiam, benar. Jika tubuh mereka tidak bisa menampung Qi, maka mereka akan meledak.
"Tapi bukankah dengan Qi tubuh kita ditempa hingga menjadi kuat?" Kembali Yin Cheng berkata.
"BIng Xing, jelaskan." Ne Zha menatap Bing Xing.
"Tubuh adalah komponen utama untuk makhluk hidup, sedangkan Qi adalah sebuah bahan untuk memperkuat tubuh, tapi kembali lagi pada tubuh, apakah tubuh kita kuat untuk ditempa oleh Qi saat berada di Alam Perunggu hingga Alam Perak? Sudah banyak kasus orang mati karena tubuhnya tidak sanggup menahan tempaan dari Qi, bahkan pada sekte besar seperti kami. Istana Falcon Utara telah terjadi tiga ratus kasus seperti itu," jelas Bing Xing panjang lebar.
"Terimakasih Bing Xing, silahkan duduk kembali," ucap Han Xiao dengan riang. Lalu tatapannya kini memindai seluruh kelas, "Aku dan Ne Zha tidak menyukai pelajaran materi, sehingga kita akan melakukan praktek."
Han Xiao menjelaskan sedikit tentang praktek yang dia maksudkan, pembelajaran praktek kali ini adalah cara mengolah tubuh dan menempanya tanpa bantuan Qi. Dengan cara ini, manusia yang tidak memiliki kapibilitas untuk menahan Qi bisa menempa tubuh hingga kuat dan sanggup menahan tempaan tubuh dari Qi.
Dua pemuda itu segera membawa total seratus murid kelas S menuju lantai tujuh yang merupakan tempat latihan.
Instruktur yang menjaga tempat latihan sedikit bingung, itu karena jadwal latihan praktek dari kelas S adalah dua hari esok, namun kini mereka melakukan pelatihan praktek di hari pertama. Dia berusaha tidak memperdulikannya, itu karena dia mendapatkan arahan dari Dekan bahwa Kelas S bebas melakukan apapun untuk pembelajaran mereka.
"Kalian berlari mengitari lapangan latihan sebanyak seribu kali," ucap Han Xiao dengn santai.
***
__ADS_1
Update Mingguan : 03/14