
Satu tahun telah terlewati, Ne Zha yang berada di Ujian lantai Lima kini tengah beristirahat. Otaknya sedang berpacu memikirkan berbagai hal untuk hidupnya.
Setelah satu tahun petualangan di lantai Lima, Ne Zha menyadari sesuatu. Pribahasa yang sering dia dengar dan dia katakan, yaitu diatas langit masih ada langit. Itu berlaku padanya saat ini.
Ne Zha sungguh tidak menyangka akan ada Monster tingkat 22 yaitu Monster yang menyerupai kultivator Alam Kaisar Abadi! Sungguh tidak menyangka Ne Zha pada Ujian seperti ini dia akan bertemu dengan Monster yang bisa menghancurkan Kesatuan.
Seolah belum cukup rasa terkejutnya, Ratu Hong Mayi menjelaskan bahwa tingkat maksimal dari Monster adalah 25, dengan begitu. Masih ada Monster yang melebihi kekuatan Monster tingkat 22 yang mengejarnya saat ini.
"Sialan! Berapa lama lagi dia akan mengejarku?!" Ne Zha menggerutu kesal, sudah satu tahun dia dalam pengejaran Monster tingkat 22 ini.
Ratu Hong Mayi dan Koloninya bukan tidak ingin membantu, tetapi Ne Zha merasa sangat sayang jika mereka berkorban untuk dia melarikan diri dari kejaran monster tingkat 22 ini. Masih ada perang antara dua Pasukan, Ne Zha tidak ingin sekutunya melemah walau sedikit.
"Manusia! Kemari kau!" raungan lantang terdengar dari berbagai penjuru.
Raungan itu membuat Ne Zha berdecak kesal, sangat disayangkan bahwa Kultivasinya saat ini masihlah di ranah Dewa Raja. Jika saja dia memiliki kultivasi setara, sungguh dia ingin menjitaki Monster itu sampai mati, waktu selama satu tahun dia habiskan untuk melarikan diri!
Semua ini bermula dari Ne Zha yang menjelajah Lembah, dengan tidak sengaja serangannya nyasar pada seekor Panda yang tengah memakan Bambu, siapa sangka. Panda yang terlihat ramah dan tidak berbahaya itu adalah Monster tingkat 22.
Ne Zha kini paham, kenapa waktu ujian di lantai lima sangatlah lama. Untuk melarikan diri dari Monster ini saja membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.
Ne Zha segera terbang rendah diantara pepohonan untuk melarikan diri dari Panda tersebut, sungguh bukan lelucon baginya yang berada di ranah Dewa Raja untuk melawan Monster tingkat 22. Yang bisa Ne Zha lakukan sekarang adalah lari dan lari.
Namun, tentu saja Ne Zha tidak akan lari secara acak. Pikirannya terus berputar untuk berhasil lepas dari Monster ini.
"Aih, kuharap Feng Jin baik-baik saja." Ne Zha sungguh khawatir dengan keadaan adiknya itu.
__ADS_1
***
"Nah kau terlihat cantik seperti ini," ucap seorang gadis setelah memasangkan pita kepada seekor Serigala.
Serigala yang baru saja dipasangkan Pita itu menjilat gadis berambut emas tersebut dengan riang, terlihat jelas bahwa sang Serigala sangat menurut pada gadis berambut emas yang merupakan Feng Jin.
Feng Jin baru saja lulus dari Ujian keempat setengah tahun yang lalu, dan memulai petualangannya di lantai lima. Keberuntungan gadis ini juga sangat baik, dalam perjalanannya Feng Jin menemukan banyak sumber daya yang kini membuat dirinya naik ke puncak ranah Dewa Raja.
Keberuntungan Feng Jin tidak sebatas itu, Monster yang ditemuinya juga memiliki tingkat yang setara atau dibawahnya, sehingga tidak membahayakan keselamatannya, tetapi lain lagi dengan Serigala berbulu emas yang ada di hadapannya.
Serigala ini adalah Monster tingkat 21 yang setara dengan kultivator Kaisar, Feng Jin tidak mengerti kenapa Serigala ini tidak menyerangnya atau bahkan membunuhnya, justru sebaliknya. Serigala itu sangat patuh padanya seperti seekor hewan peliharaan.
Tentu saja Feng Jin senang dengan hal ini, memiliki teman yang kuat seperti Serigala ini di tempat yang berbahaya ini akan menaikan tingkat keamanannya.
"Aku belum menemukannya, Alam ini sangat luas. Namun, percayalah aku akan menemukan jejaknya segera, pelacakanku sangat baik. Aku hanya membutuhkan sedikit sisa dari aura kehadirannya, walaupun itu sudah satu bulan. Aku bisa menemukan arah yang diambilnya."
Feng Jin mengangguk ringan, dia tidak menyangka bahwa setelah ujian lantai empat, ternyata mereka tidak dipertemukan lagi, justru terpisah sangat jauh.
***
Tidak tahu sudah berapa hari Bing Xing melakukan penggalian menuju bawah Gunung, Bing Xing sudah tidak perduli dengan hari, dia sungguh-sungguh berfokus untuk menggali dan menemukan Api Dingin Es.
Kondisi Han Xiao semakin memburuk, sekarang bahkan Es Abadi ikut mencair oleh Racun Korosi. Bing Xing menjadi semakin cemas sekaligus gencar melakukan penggalian untuk menemukan Api Dingin Es.
"Bertahanlah Han! Kita akan segera menemukan bantuan!" Bing Xing sudah tidak menahan apapun, seluruh kekuatannya dia gunakan untuk menggali ke bawah gunung.
__ADS_1
Pada suatu hari, ketika Bing Xing terus menggali, dia merasakan hawa tanah disekitarnya telah berubah drastis, sangat dingin. Mata biru Bing Xing menjadi sangat cerah.
"Pasti sudah dekat!" Bing Xing bersemangat, tetapi hal itu tidak membuatnya terburu-buru. Saat ini kekuatannya banyak terkuras untuk menggali sedalam ini, setidaknya Bing Xing ingin istirahat untuk mengembalikan kekuatan puncaknya untuk berjaga andai kata di sana sangat berhaya.
Entah berapa hari Bing Xing beristirahat, sekarang dia sudah depenuhi oleh kekuatan, mata Bing Xing bersinar saat dia memulai untuk menggali lebih dalam lagi.
Sekali lagi, Bing Xing tidak tahu berapa lama waktu yang dia habiskan, hingga kini Bing Xing sampai pada sebuah gua raksasa, galiannya menembus dan sempat membuatnya terjatuh karena terkejut.
Gua yang kini dipijak oleh Bing Xing seluruhnya adalah Es yang terlihat seperti berlian.
"Hawa di sini sungguh berbeda, aura Dingin yang dilepaskan ini sungguh membakar." Bing Xing sadar bahwa dirinya sudah semakin mendekat pada Api Dingin Es.
Pandangan Bing Xing mengedar dan menemukan sebuah jalan, dari sana jugalah hawa kuat terpancar. Tidak perlu menebak, Bing Xing yakin bahwa di sana adalah tempat Api Dingin Es berada.
Dari yang Bing Xing ketahui, Api Langit memiliki kesadaran mereka sendiri, sehingga akan sulit mendapatkan Api Langit. Bing Xing sekarang tidak memiliki pemikiran untuk Api Dingin Es, walaupun itu sangat kuat. Hal mustahil baginya untuk menaklukan Api Dingin Es.
Bing Xing berjalan mengikuti lorong, sebagai Kultivator yang memfokuskan diri terhadap Unsur Es, Bing Xing bahkan harus merasakan kedinginan ketika berjalan terus untuk mendekati Api Dingin Es, disini terlihat bahwa Api Langit ini bukanlah hal yang bisa disepelekan.
Pandangan Bing Xing sekali lagi jatuh pada Han Xiao yang berada di dalam balok melayang di sampingnya, ekspresi rumit tercetak pada wajah Bing Xing saat ini. Saat hendak Bing Xing menggumamkan sesuatu, sebuah hembusan kuat menyerang ke arahnya.
Bing Xing mengeluarkan teknik pertahanannya untuk menahan hembusan angin dingin tersebut, tetapi sial, hembusan itu terlalu kuat hingga bahkan kini kulit Bing Xing mulai bertumbuhan bunga Es yang akan segera membekukannya.
***
Update Mingguan : 08/14
__ADS_1