Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab146. Tidak Bisa Melawan


__ADS_3

"Tidak mungkin!" Pria paruh baya tadi menggelengkan kepalanya keras, sungguh dia tidak ingin mempercayai apa yang ada dihadapannya.


"Itu mungkin, ah aku mungkin harus memberitahu kalian, sejak kalian memulai pertarungan dan tidak menganggap keberadaanku. Orang tua ini telah duduk denganku menonton pertunjukan." Han Xiao tertawa dengan lebar, melihat keputusasaan dari para kultivator yang sangat ditakuti oleh sebagian besar kultivator sungguh pertunjukan yang menyenangkan baginya.


"Saat ini ada dua pilihan, mundurlah dan jangan berbuat semena-mena lagi agar aku tidak datang ke sekte kalian dan menghancurkannya seperti sekte seblumnya.


Atau tetap disini bertarung dan menjemput ajal kalian, kalian bebas untuk memilihnya. Manapun pilihan kalian akan kutanggapi dengan penuh hormat," ujar Han Xiao dengan senyum iblisnya.


Tidak pernah sekalipun dalam mimpi mereka akan mendengar pilihan seperti itu dari seorang anak yang bahkan belum genap sembilan belas tahun, harga diri mereka sebagai kultivator Alam Inti Kosong sungguh terluka, saat ini pilihan yang dikeluarkan oleh Han Xiao sungguh berpengaruh pada masa depan, jika mereka memilih untuk mati disini maka kekuatan aliran hitam akan mengurang hingga dua puluh persen. Jika itu terjadi kemungkinan besar aliran putih akan bergerak untuk mendominasi aliran hitam, walau jumlah dua puluh persen hanya sedikit, tetapi jumlah itu sangat besar dalam sebuah pertarungan besar.


Dan jikapun mereka memilih pilihan pertama, tidak ada keyakinan bahwa anggota sekte mereka akan berbuat semena-mena lagi. Sebagian aliran hitam sudah terbiasa hidup tanpa aturan.


"Aku memilih yang pertama." Seluruh kultivator Alam Roh segera menunduk untuk menyerah. Bagi mereka yang masih hidup masih bisa melakukan banyak hal di masa depan, kematian bukanlah pilihan yang baik. Apalagi mereka kultivator aliran hitam sangat takut mati karena mereka menyadari mereka pasti akan masuk neraka.


"Aku memilih pilihan pertama." Disusul oleh beberapa kultivator Alam Inti Kosong yang mulai menundukan kepala mereka.


Sekali lagi para kultivator ini belum ingin mati, mereka masih memiliki keturunan untuk mereka urus dan kemungkinan bisa membalaskan dendam mereka.


Segera saja seluruh kultivator aliran hitam itu memilih pilihan pertama yang diajukan oleh Han Xiao, tinggal hanya pria paruh baya yang memimpin mereka kesinilah yang belum mengeluarkan suara sedikitpun. Pria paruh baya itu menatap sengit penuh kebencian pada Han Xiao.

__ADS_1


"Bagus, kalian memiliki pilihan yang tepat. Namun kalian belum boleh pergi dari sini," ujar Han Xiao.


Para kultivator itu segera melemparkan protes mereka, tetapi Han Xiao tidak menghiarukannya dan menyuruh mereka mundur seratus langkah dari posisi mereka. Kecuali pria paruh baya tadi.


"Kau masih ingin membunuhku bukan? Ayo sekarang saatnya, kau sama sekali tidak terluka bahkan tidak disentuh oleh Petapa Gila, dengan itu kau masih berada di kondisi puncakmu." Han Xiao mengeluarkan Tongkat Penghancur Naga.


"Keluarkan senjata terbaikmu atau nanti kau akan menyesal,'' lanjut Han Xiao lalu maju menyerang pria paruh baya tersebut.


"Cih sombong!" Pria paruh baya itu mengeluarkan sebuah pedang dari Cincin Spasialnya, walaupun dia menghitung bahwa Han Xiao hanya menggertak namun tak meremehkan pemuda tersebut, mempu bertahan dari sembilan kultivator Alam Inti Kosong sungguh bukan perkara yang mudah.


TRAAAANG!!!


Tongkat Penghancur Naga dan Pedang pria paruh baya itu beradu, gelombang kejut yang sangat besar tercipta hingga membuat tanah yang mereka pijak bertebaran hancur menjadi debu. Dari pertukaran pertama sudah jelas kekuatan keduanya berimbang dan sangat besar.


Sesosok terlempar keluar dari kumpulan debu, para kultivator aliran hitam yang menonton semuanya memiliki mata yang membelalak sebesar ukuran telur angsa. Rahang mereka juga terjatuh saat melihat pria paruh baya itu tengah telentang dengan tubuh memiliki banyak memar serta luka besar yang mengerikan untuk dilihat. Jelas serangan dari tongkat Han Xiao sangat mengerikan.


Mata pria paruh baya itu terpancar rasa ketidakpercayaan dan ketakutan pada saat yang sama, sebagai yang mengalaminya sendiri jelas dia merasakan Han Xiao melancarkan serangan sebanyak sembilan puluh sembilan kali pada tubuhnya dengan kecepatan yang bahkan dia sebagai Kultivator Alam Inti Kosong tidak bisa menahan satu seranganpun. Semua terjadi hanya dalam hitungan tiga napas, dengan kata lain Han Xiao melemparkan tiga puluh tiga dalam setiap tarikan napasnya.


"Satu serangan lagi astaga kau malah terlempar!" Han Xiao berteriak kesal saat debu mulai memudar karena hempasan dari Tongkat Naga Penghancur di tangan Han Xiao.

__ADS_1


Wajah pria paruh baya itu memucat, jika benar Han Xiao meluncurkan serangan terakhirnya tadi dia yakin tidak akan bisa bertahan dan kemungkinan akan hancur. Para kultivator yang menonton tertegun dengan kekuatan Han Xiao, kini mereka menyakini bahwa Han Xiao sanggup menghancurkan sekte-sekte sebelumnya, dengan kekuatan sebesar itu para Patriark sekte menengah tidak akan sanggup menahannya.


Sudah jelas kekuatan pria paruh baya itu adalah yang terkuat diantara mereka, namun dia kini tengah berbaring tidak berdaya dibawah serangan Han Xiao dan tidak bisa melawan.


"Dari awal aku sudah tidak menyukaimu, kau terus saja mengoceh hal yang tidak perlu. Kekuatanmu memang besar namun dibawah kekuatan mutlak milikku kau bukanlah apa-apa!" tandas Han Xiao diakhiri dengan dengusan kesal.


Han Xiao melangkah mendekati pria paruh baya itu, terlihat dari kultivator alira hitam ini tidak ada yang ingin membantu pria malang itu. Bukan mereka tidak ingin, namun tatapan Petapa Gila membuat mereka bergetar ringan.


Tongkat Naga Penghancur terangkat keatas, semburat Qi Besar mengumpul pada Tongkat Naga Penghancur, tongkat itu telah dipenuhi oleh aura kehancuran.


"Ada kata-kata terakhir?" tanya Han Xiao, sungguh dia sangat menyukai adegan ini. Dulu dia akan mengacungkan senjata laras panjang yang siap menghancurkan kepala musuhnya. Kini Tongkat Naga Pengahancr memiliki kekuatan yang sangat menakutkan.


Pria paruh baya itu menghela napas pelan, sudah tidak ada semangat bertarung dari matanya, kekuatan Han Xiao sangat mengerikan. Ketika bertarung dengan Han Xiao dia merasa sedang dilobangi karena Qi darinya terus keluar dan masuk kedalam tubuh Han Xiao. Mungkin itu yang dikatakan Kekuatan Mutlak oleh pemuda riang itu.


"Beritahu aku namamu agar aku mati dengan tenang setelah mengetahui identitas pemudayang sangat jenius sepertimu," kata pria paruh baya itu lalu duduk seolah memang tengah menunggu ajalnya tiba.


"Baiklah, namaku Han Xiao," jawab Han Xiao dengan riang.


Semua orang yang ada disini terkesiap, hanya ada satu Han Xiao di Benua Angin Selatan ynag memiliki kekuatan Kehancuran. Dia adalah Tangan Abu-abu, yang merupakan Pangeran Mahkota saat ini dari Kekaisaran Yang.

__ADS_1


"Ti... tidak mungkin!" pria paruh baya itu menggeleng.


"Itulah adanya," ujar Han Xiao lalu dalam serangan tunggal yang sangat mengerikan dia menghancurkan tubuh pria paruh baya tersebut.


__ADS_2