Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab194. Sengit


__ADS_3

Jenius dari ras Pola Hantu segera ketakutan ketika melihat kedatangan Han Xiao dan Ne Zha, dua pemuda itu sanggup bertukar pukulan dengan Patriark mereka tanpa membawa luka berarti pada tubuh mereka.


Senyum Han Xiao kini sudah membekas pada otak mereka, senyum riang yang menandakan sebuah pembantaian!


Ne Zha dan Han Xiao kini sudah menyerbu para jenius dari Benua Api Barat, mata Han Xiao berkedip ketika mendapatkan posisi orang yang dikenalnya sebuah kilatan mengerikan muncul pada mata Han Xiao ketika melihat hal yang akan dilakuka oleh orang tersebut.


***


Selepas lolos dari mautnya, Mo Moshi masih memilih untuk bergabung dalam pertarungan, dia ingin membalaskan rasa dendam dalam dirinya terhadap pemuda riang yang hampir saja menyabut kepala dari lehernya.


"Han Xiao!"


Sebuah teriakan didekatnya membuat Mo Moshi secara sontak membalikan tubuhnya untuk melihat pada asal suara tersebut, disana terlihat seorang gadis berjubah putih berteriak parau penuh cemas pada Han Xiao yang diberi pukulan telak oleh ayahnya. Mo Yanjing.


Mata Mo Moshi berkilat ketika sebuah ide melintas dalam otaknya, melihat dari reaksinya, pasti gadis itu adalah orang penting untuk Han Xiao, dia segera bergegas menuju gadis tersebut selagi Han Xiao tengah berhadapan dengan ayahnya, kemungkinan besar Han Xiao terbunuh, tapi itu tidak akan memuaskan dendamnya. Mo Moshi kan menggunakan gadis itu sebagai pelampias dendamnya pada Han Xiao.


Tak butuh waktu lama untuk Mo Moshi sampai dihadapan gadis tersebut, ketika dia datang. Gadis itu telah dipukul oleh jenius dari Ras Sayap karena kelengahannya.


"Biar aku yang urus dia," ujar Mo Moshi pada jenius tersebut.


Jenius itu mengangguk ringan lalu pergi encari mangsa lainnya, senyum lebar terurai pada bibir Mo Moshi.


"Jika aku tidak bisa membalaskan dendam pada lelakimu, setidaknya aku bisa memuaskannya padamu," ucap Mo Moshi dengan dingin lalu menyerang gadis berjubah putih yang tak lain adalah Ruan Jian.

__ADS_1


Ruan Jian mengutuk ketika melihat Mo Moshi menyerangnya, dia segera mengangkat pedangnya untuk menahan serangan dari Mo Moshi, karena basis kultivasi yang berbeda jauh, Ruan Jian segera terpental mundur dan memuntahkan seteguk darah.


Mata Ruan Jian kini menatap kekejauhan, disana Han Xiao tengah diberi pukulan lain oleh Mo Yanjing, matanya berair ketika melihat Han Xiao terbang terpukul, darahnya segera mendidih. Sebuah kekuatan besar meledak dalam tubuhnya.


"Jika kau mati, maka akupun akan mengikutimu ke surga sana dan menemanimu agar tidak kesepian seperti yang kau rasakan selama ini," batin Ruan Jian seraya tersenyum, dia ingin meledakkan kekuatan dalam tubuhnya untuk habis-habisan melawan Mo Moshi, Ruan Jian mengetahui jika dia meledakkan kekuatannya untuk bertarung memang akan meningkatkan kekuatannya dengan sangat besar, namun sebagai bayarannya adalah nyawanya.


Ruan Jian bangkit dan mengangkat pedangnya, matanya berkedip penuh dingin pada Mo Moshi, jika bukan karena pemuda itu, maka Han Xiao tidak akan dalam kondisi seperti sekarang.


"Kekuatanmu meningkat eh?" Mo Moshi merasakan ledakan dari tubuh Ruan Jian, energinya juga telah berubah, gadis itu telah dengan paksa menembus tingkatan selanjutnya. Kini Kekuatan Ruan Jian berada di Alam Raja.


"Tapi itu percuma, aku berada di Aalam Roh puncak yang butuh selangkah lagi untuk mencapai Alam Inti Kosong," lanjut Mo Moshi lalu menyerang Ruan Jian dengan ganas.


Ruan Jian dan Mo Moshi segera bertukar serangan, ketika Ruan Jian mengayunkan pedangnya, ada banyak bunga-bunga yang berhembus mengikutinya bagai musim semi.


Ruan Jian berhasil mendratkan tujuh tebasan dari total sebelas tebasan Jurus Tarian Musim Semi.


Mo Moshi mundur beberapa langkah sebelum enatap penuh amarah pada Ruan Jian, segera pemuda itu melakukan teknik milik Ras Pola Hantu utuk menaikan kekuatan mereka.


Pola seperti tatto yang memenuhi tubuh Mo Moshi menyala terang, aura tubuhnya kini meningkat pesat, dalam beberrapa saat kemudian sebuah ledakan terjadi dalam tubuh Mo Moshi.


"Hahahah! Kini kekuatanku setara dengan Alam Inti Kosong ketiga, kau akan mati hari ini! Hahaha, aku akan menikmati tubuh indahmu sebelum memberikannya pada buaya air asin! Hahaha!" Mo Moshi tertawa gila ketika kekuatan dalam tubuhnya meldak tinggi.


Ruan Jian tidak takut, dia tahu pada akhirnya dia akan mati, namun ketika mendengar bahwa tubuhnya akan dinodai, segera perasaan marah membara dalam dirinya.

__ADS_1


"Lebih baik aku meledakan tubuhku disaat ujung hidupku!"  cetus Ruan Jian seraya menahan serangan dari Mo Moshi.


Lagi-lagi Ruan Jian terpental dari serangan Mo Moshi, tubuhnya kini bersimbah darah ketika Mo Moshi berhasil melancarkan serangan cepatnya ketika Ruan Jian dalam kondisi terpojok.


Gadis itu masih berusaha untuk bertahan, perhatiannya kini terfokus pada Mo Moshi, dia ingin membunuh lelaki penyebab Han Xiao terkena masalah besar, mata Ruan Jian berkedip dingin, dengan pedangnya dia kembali menyerang Mo Moshi.


Mo Moshi juga melayangkan serangan untuk menghadapi Ruan Jian, pemuda itu merasakan bahwa kekuatan Ruan Jian semakin melemah dari waktu kewaktu, dia memperkirakan bahwa jurus yang digunakan Ruan Jian akan segera selesai.


Senyum Mo Moshi semakin melebar ketika dia semakin memojokan Ruan Jian, sebuah pukulan telak Mo Moshi layangkan pada Ruan Jian membuat gadis itu jatuh terkapar, pedang Ruan Jian lepas dari tangannya. Gadis itu berusaha bangun, namun tubuhnya mengatakan sudah lelah sehingga dia hanya bisa bertopangkan lutut untuk menahan tubuhnya.


"Hahaha kau akan mati gadis cantik!" seru Mo Moshi puas ketika melihat Ruan Jian yang semakin lemah.


Mo Moshi memungut pedang Ruan Jian dan berjalan menghampiri gadis tersebut, tangan Mo Moshi terangkat bersiap untuk menusukan pedang tersebut pada Ruan Jian.


"Apakah aku akan benar-benar mati? Han kau akan menemaniku kan?" lirih Ruan Jian seraya menatap tanah dubawahnya, sungguh. Untuk mengangkat kepala saja dia sudah tidak memiliki tenaga tersisa.


"Argh..." teriakan nyaring bergema keras, rasa kesakitan dari suara itu jelas terdengar.


"Berani kau ingin membunuh gadisku!"


"Apakah aku sudah mati?" Tubuh Ruan Jian lemas dan ambruk, tidak! Dia belum mati, karena dia tidak merasakan sakit apapun pada tubuhnya, dengan setengah mati dia menengokkan kepalanya untuk melihat kearah asal suara yang sangat dikenalnya tadi. Segera saja matanya bersirobok dengan sebuah punggung lebar yang terlihat sangat kekar penuh otot terlatih. Rambut biru dari sosok itu membuat Ruan Jian bahagia sampai mengeluarkan air matanya dalam diam. Sosok yang sangat dikhawatirkannya kini tengah berdiri dihadapannya untuk melindunginya dari Mo Moshi.


***

__ADS_1


Update Mingguan : 12/14


__ADS_2