Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab223. Selesai


__ADS_3

Satu minggu telah terlewati, Han Xiao dan Ne Zha kini telah selesai mengajar, para murid kelas S kini memiliki pengetahuan yang sangat luas serta kemajuan yang pesat, pada hari terakhir, Han Xiao dan Ne Zha setelah mengajar tim terakhir, mereka memberikan sebuah pengetahuan tentang dunia ini, mereka memberitahukan bahwa dunia ini sangat luas, masih banyak Benua selain Lima Benua, juga banyak kultivator yang lebih kuat diluar sana.


Tapi Han Xiao dan Ne Zha memberikan pesan bahwa mereka tidak perlu takut pada kultivator yang datang dari tanah suci kultivator, biarpun mereka memiliki kultivasi yang kemungkinan lebih besar dari mereka para jenius dari Benua Angin Selatan, namun dua pemuda itu meyakinkan bahwa mereka bisa melawan satu lawan satu Jenius dari tanah suci yang memiliki tingkatan dua kali lebih tinggi dari mereka.


"Pondasi kalian sangat kokoh, kalian berkultivasi dengan sangat keras, sedangkan mereka lebih banyak menggunakan sumber daya untuk mempercepat kenaikan kultivasi mereka, kalian bebas untuk memilih jalan di masa depan.


Aku peringatkan, jika ada orang dari tanah suci Benua Yiselie kalian jangan pernah berhubungan dengan mereka, namun lain hal jika ada orang dari tanah suci Sundaland, jika kalian bisa pergi bersama orang tersebut itu yang terbaik, tunjukan token yang kubagikan pada kalian, bergabunglah bersama Komunitas Sang Juara sebelum datang ke tempat yang ditunjukan oleh Token jika belum memilik kekuatan yang cukup," ucap Han Xiao panjang lebar menutup kelasnya.


Para murid kelas S sangat senang, biarpun mereka tidak mengetahui persis apa token yang diberikan oleh Han Xiao dan Ne Zha, tapi setidaknya mereka mengetahui bahwa token tersebut adalah kunci emas untuk membuka pintu masa depan mereka yang cemerlang di Tanah Suci Sundaland.


Pada kelas terakhir tersebut, Han Xiao dan Ne Zha sungguh terkesan, para murid kelas S memberikan sebuah kejutan yang sangat menyentuh hati untuk mereka, semua murid membuat sebuah karya yang kemudin digabungkan dalam kotak untuk kenang-kenangan. Kotak tersebut adalah Alat Roh, ketika barang masuk kesana, itu tersusun dan terpajang dengan rapi, diameter barang yang dimasukanpun menjadi kecil.


Han Xiao tersentuh ketika melihat seratus barang yang tersusun rapi didalam kotak tersebut.


Cao Huangjin secara khusus mengadakan sebuah jamuan untuk pembelajaran terakhir mereka, jamuan itu sungguh mewah dan megah, pemuda itu merogoh kantongnya sendiri untuk membiayai semua dalam jamuan ini.


"Guru Han, Guru Zha! Jika belum mabuk, kita tidak akan berhenti! Hahahaha." Yin Cheng tertawa lalu menegak kembali araknya, wajah pemuda itu sungguh sangat merah.


Sebenarnya mereka sebagai kultivator bisa menetralkan alkohol dengan Qi, namun itu bukanlah hal yang menyenangkan, tujuan meminum arak adalah untuk membuat mabuk dan melayang dalam halusinasi kenikmatan lalu sejenak melupakan urusan dunia mereka.


"Murid nakal! Guru ini menantangmu untuk terus minum sampai perutmu membuncit dan kepalamu melayang ke langit," racau Han Xiao, dia juga sama dengan Yin Cheng. Pemuda itu memiliki wajah yang sangat merah padam, cara gerak pemuda itu pun kini sudah tidak benar, sempoyongan.


Ne Zha menggelengkan kepalanya, dia mengetahui bahwa toleransi alkohol Han Xiao sangatlah tinggi, namun entah sudah berapa kendi anggur yang dihabiskan oleh pemuda tersebut. Belum lagi anggur yang disediakan ini adalah yang terbaik di Benua Angin Selatan, anggur ini memiliki kadar alkohol yang sangat tinggi. Wajar saja karena untuk fermentasinya saja membutuhkan seribu tahun.

__ADS_1


***


"Satu gelas lagi hahaha... ayo satu gelas lagi." Han Xiao tidak berhenti meracau, dia dengan paksa diseret oleh Bing Xing dari tempat jamuan.


Gadis itu sungguh tidak tahan melihat Han Xiao yang terus meminum anggur secara berlebihan, dia juga mendapatkan permintaan tolong dari Ne Zha untuk membawa Han Xiao, sedikit menggerutu karena kenapa harus dia? Bukankah Ne Zha bisa membawa Han Xiao sendiri?


Namun pada akhirnya tak urung Bing Xing memapah Han Xiao untuk membawanya ke kamar, sepanjang perjalanan pemuda itu terus meracau tidak jelas.


"Xing'er, kau sungguh indah dan cantik sekali malam ini?" Han Xiao menatap lekat wajah Bing Xing seraya berjalan dibantu oleh gadis tersebut.


Sebuah aroma teratai dingin masuk kedalam indra penciuman Han Xiao, pemuda itu memajukan wajahnya dan mengendus wangi aroma yang ternyata berasal dari tubuh Bing Xing.


"Apa yang kau lakukan!" Bing Xing menjauhkan wajah Han Xiao lalu membuka pintu kamar, dia dengan kesal melempar Han Xiao langsung ke ranjang.


Tubuh Han Xiao terhempas kasar mendarat di ranjang, "Argh!" jerit Han Xiao, wajahnya segera berubah menjadi sangat merah.


Bing Xing terkejut, dia segera menghampiri Han Xiao dengan khawatir, tangannya bergerak untuk menarik jubah belakang Han Xiao, syukurlah dia tidak menemukan tulang yang keluar dari sana.


Tangan Bing Xing tergerak untuk membaringkan tubuh Han Xiao agar terlentang dan tidur, setelah pemuda itu terbaring dengan tenang. Bing Xing bergerak untuk turun dari ranjang dan keluar.


Clap...


Belum sempat Bing Xing turun dari ranjang, tangannya mendapatkan sebuah cekalan yang sangat keras. Kepala gadis itu membalik, dia mengetahui pasti Han Xiao lah yang melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Dahi Bing Xing mengerut penuh lipatan ketika melhat Han Xiao masih tertidur dengan sebuah ekspresi yang penuh ketakutan, seperti. Sedang mimpi buruk?


"Han Xiao?" Bing Xing mengguncang tangan Han Xiao agar melepaskan cekalan tangannya.


Tidak ada jawaban dari pemuda tersebut, Bing Xing yakin pemuda itu tidur, karena napas Han Xiao sangatlah beraturan dan tenang, hanya ekspresi wajahnya sajalah yang menunjukan sebuah ketakutan dan kesepian.


"Jangan pergi," suara Han Xiao terdengar lirih. Tangan kanan Han Xiao yang kosong segera terayun dan menarik Bing Xing kedalam pelukannya.


Bing Xing terkesiap penuh kejutan, hendak saja dia melancarkan protes dan menyerang Han Xiao, tapi sekali lagi ketika melihat ekspresi takut di wajah Han Xiao, hatinya sedikit melunak.


"Kenapa dia?" batin Bing Xing bingung, dia yakin di Benua Angin Selatan tidak banyak yang akan menjadi ketakutan Han Xiao, bahkan pemuda itulah yang menjadi ketakutan orang-orang di Benua Angin Selatan.


Tangan indah Bing Xing tergerak untuk menyentuh dada Han Xiao, dia merasakan sebuah detak yang sangat berkejaran, juga kini napas pemuda itu menjadi lebih terengah.


"Han? Kau tidak apa-apa?" Bing Xing kini panik.


Pelukan dari Han Xiao semakin mengetat, posisi Bing Xing kini menjadi sangat terhimpit, sudah tidak ada jarak untuk mereka, kulit mereka saling bersentuhan. Pipi Bing Xing menjadi sangat panas ketika menyadari hal tersebut.


"Jantungnya menjadi lebih tenang," batin Bing Xing ketika mendengar detakan jantung Han Xiao yang menjadi lebih pelan dibandingkan sebelumnya. Pada akhirnya gadis itu memilih untuk bermalam satu ranjang dengan Han Xiao, sangat sulit baginya untuk melepaskan diri dari pelukan Han Xiao yang sangat erat, dia ingin menggunakan kekuatannya namun takut mengganggu tidur nyenyak Han Xiao. Ekspresi pemuda itu kini berangsur menjadi lebih santai dan tenang, tidak ketakutan seperti sebelumnya.


***


Update Mingguan : 09/14

__ADS_1


__ADS_2