Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab158. Akademi Naga dan Phoenix


__ADS_3

"Silahkan masuk kedalam akan ada Dekan yang akan memandu kalian didalam sana," ucap Pria paruh baya tersebut dengan hangat.


Ne Zha dan lainnya berterimakasih lalu masuk kedalam bangunan megah Akademi, ruangan ini disebut Aula tamu karena tempat untuk menerima para tamu ataupun calon murid Akademi.


"Selamat datang di Akademi Naga dan Phoenix, perkenalkan aku Dekan Li kalian bisa memanggilku dengan panggilan tersebut," sapa seorang pria muda yang terlihat berumur dua puluh lima tahunan tersebut, dia memiliki rambut hitam dan memiliki mata emas yang sangat indah. perwakannya terlihat hanya biasa saja, tidak kekar berotot, bisa dibilang Dekan Li memiliki tubuh yang ramping.


"Halo Dekan Li, mohon bimbingannya," balas Han Xiao diikuti oleh yang lainnya.


"Hohoho, kalian sangat sopan sekali. Kalian adalah peserta yang datang pertama, terimalah hadiah ini dari kami, juga ini hadiah pertemuan dariku," ujar Dekan Li lalu memberikan tujuh Cincin Spasial pada Han Xiao, Ne Zha, Ren Yanyu, Bing Xing, Su Lihwa, Xia Shiva dan Bi Jiao.


Han XIao dan Ne Zha tersenyum tipis sementara empat gadis lain terkejut melihat hadiah yang ada didalam Cincin Spasial.


"Dekan Li, apakah kami bisa ke tempat istirahat? Kami telah melakukan perjalanan, sungguh melelahkan," celetuk Han Xiao ketika Dekan Li hendak mengajak mereka berkeliling Akademi.


Dekan Li menepuk keningnya, "Ah aku terlalu bersemangat, baiklah akan kuantar kalian menuju kamar peserta untuk beristirahat," kata Dekan Li lalu mengajak mereka kearah barat bangunan Akademi.


Han Xiao dan lainnya takjub melihat keindahan bangunan Akademi, setiap tembok disini terhiasi oleh mahakarya, juga banyak berbagai hiasan yang sangat indah, lantai granit serta tembok bernuansa kayu membuat sebuah kesan elegan yang alami. Sebuah bendera berlambangkan Naga dan Phoenix pun mengisi setiap penjuru lorong.


Ne Zha dan Han Xiao saling pandang, mereka merasa sedang berada pada sebuah kastil disebuah film. Bangunan Akademi ini lebih pantas disebut Istana karena kemegahannya bahkan mengalahkan kemegahan Istana Kekasiaran Yang.


"Inilah kamar untuk kalian istirahat, jika kalian ingin berjalan-jalan nanti maka tinggal tekan saja tombol rune yang terdapat disana dan aku akan datang untuk memandu kalian," ucap Dekan Li lalu berpamitan pergi setelah mengucapkan selamat beristirahat.


Han Xiao membuka pintu kamar, disana dia lihat terdapat sebuah ruangan besar dengan lima kamar masing-masing.


"Sepertinya Akademi sudah menyiapkannya dengan sangat matang," ujar Su Lihwa ketika melihat satu kamar berisi dua ranjang untuk dua orang tidur disana.


Sudah jelas bahwa satu ruangan ini untuk satu tim yang berisikan sepuluh orang, mungkin hanya merekalah yang memiliki tim kurang dari sepuluh orang. Bahkan mereka tidak menggenapi angka delapan.

__ADS_1


"Kalian istirahatlah, aku akan tidur. Daaah." Han Xiao menguap dan memasuki sebuah kamar.


Ne Zha disisi lain tengah berbincang dengan Ren Yanyu, memang selama gadis kecil itu menunggu kedatangan Kaisar Yang Qian. Maka dia akan tinggal bersama yang lainnya di ruangan ini.


"Zha, aku ingin bicara denganmu." Su Lihwa menghampiri Ne Zha yang tengah bercanda dengan Ren Yanyu.


"Bicara saja," ucap Ne Zha singkat.


Ren Yanyu segera memukul abangnya karena bersikap seperti itu pada tunangannya.


"Kenapa Yu'er memukul Bang Zha?" tanya Ne Zha heran.


Gadis kecil itu tersenyum tidak berdosa sebelum melenggang pergi dan masuk ke sebuah kamar yang berisikan Bing Xing, gadis kecil itu sangat lengket pada sang Bintang Es.


Sementara Bi Jiao dan Xiao Shiva yang menyadari hawa di ruangan ini telah berubah segera berpamitan untuk masuk ke kamar dengan alasan ingin beristirahat.


"Bicaralah atau nanti kalian akan berubah menjadi patung jika hanya saling menatap," suara celetukan Han Xiao terdengar jelas memecah keheningan ruangan tersebut.


Su Lihwa mengutuk Han Xiao yang seenaknya saja menyeletuk, hatinya sedang dalam kondisi rumit namun anak nakal itu membuatnya semakin rumit. Ketika pandangannya kembali ingin menatap Ne Zha, barulah gadis itu menyadari bahwa Ne Zha kini duduk lebih dekat dengannya.


"Bicaralah, jangan seperti itu. Aku ini tunanganmu bukan?" ucap Ne Zha dengan lembut.


Mulut Su Lihwa terbuka namun tidak mengatakan apapun, dia sangat haru melihat senyum Ne Zha yang lembut serta nadanya yang penuh kasih sayang.


Seketika tubuh Su Lihwa bersinar terang dan memancarkan sebuah aura kekuatan yang sangat dahsyat mengerikan, dalam sesaat sinar tersebut meredup dan menghilang. Su Lihwa kini merasakan kekuatannya semakin besar dan kuat dari sebelumnya.


Sebuah miniatur Istana muncul dari kening Su Lihwa, itu adalah Istana Takdir kesepuluhnya yang terkunci oleh rasa takutnya!

__ADS_1


Rasa haru dan kebahagiaan segera membanjiri Su Lihwa, gadis itu berhambur memeluk Ne Zha dan tangisnya pecah.


Ne Zha yang bingung dengan apa yang terjadi memilih diam, tak selang beberapa saat dia membalas pelukan dari Su Lihwa dan tersenyum. Pemuda itu merasakan sebuah ketulusan yang sangat besar dari Su Lihwa, rasa cinta gadis itu menciptakan ketakutannya sendiri. Kini Ne Zha paham kenapa Istana Takdir kesepuluh Su Lihwa terbuka, ini karena rasa takutnya teratasi sepenuhnya, kemungkinan besar ketika Su Lihwa mencoba membuka Istana kesepuluhnya gadis itu hanya bisa membuat retakan karena tidak bisa melawan rasa takutnya sepenuhnya sehingga menciptakan kesempatan untuk membukanya ketika dia berhasil menangani rasa takutnya.


''Selamat, Hwa'er," ucap Ne Zha dengan penuh kasih dan tulus.


Mendengar ucapan selamat dari Ne Zha dan memanggilnya seperti itu membuat tangis Su Lihwa kembali mengencang.


"Hei kenapa tangismu semakin kencang?" ujar Ne Zha dengan bingung, pemuda itu mengelus pucuk rambut Su Lihwa untuk menenangkan gadis tersebut.


"Ini tangis bahagia dasar bodoh!" gerutu Su Lihwa disela tangisnya seraya memukul dada Ne Zha berkali-kali.


Ne Zha tersenyum melihat tingkah Su Lihwa, baru kali ini dia merasakan sebuah kasih sayang yang sangat tulus dari seorang gadis selain adiknya.


"Tidak ada salahnya kan aku memiliki Istri?" pikir Ne Zha.


***


Disebuah tempat yang berhiaskan awan indah sejauh mata memandang terdapat seorang gadis berpesona dewasa, gadis itu tertawa kecil ketika menatap cermin di tangannya yang menampilkan sepasang pemuda dan gadis tengah berpelukan penuh haru.


Gadis itu tersenyum lalu ikut merasa terharu oleh pasangan tersebut, "Tidak kusangka kau akan melelehkan hatimu yang sekeras berlian itu."


"Tidak ada salahnya kan aku memiliki Istri?"


Kalimat yang didengar oleh gadis itu membuat dia tertawa puas, "Ya kau tidak salah, namun apakah dia akan terima atau tidak kau melakukan itu," ujar gadis berpesona dewasa tersebut.


***

__ADS_1


Crazy Up Awal Arc 3 : 6/9


__ADS_2