Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab118. Melawan Pithon Batu Akik!


__ADS_3

“Ssshhhhh... manusiaashhh... kauushh beranishh masuksssh kedareahkushhh!” seru Pithon Batu Akik seraya menatap nyalang pada Ne Zha dan Qin.


Qin menatap kesal pada Pithon Batu Akik, “kau apakah tidak bisa berkata tanpa tambahan ssshhh pada ujung katamu? Terdengar sangat aneh!” protes Qin.


Ne Zha mematung mendengar protesan Qin, gadis kecil ini tidak memiliki ketakutan terhadap ular besar dihadapannya ini? Bahkan terlihat bahwa Qin menantang Pithon Batu Akik.


Pithon Batu Akik memuntahkan gas beracun dari mulutnya sebagai jawaban, segera saja gas beracun itu memenuhi tempat Ne Zha dan Qin berdiri.


Beruntung bahwa tanda yang diberikan Ne Zha pada Qin masih menyala terang saat racun mengelilingi mereka, dengan itu Qin masih kebal racun.


Ne Zha meraih Qin untuk menjauh dari jangkauan gas beracun, dia merasakan sesuatu yang sangat berbahaya, instingnya mengatakan bukanlah hal baik untuk tetap didalam gas beracun.


Swoshh...


Ketika Ne Zha berhasil keluar dari gas beracun dia melihat Pithon Batu Akik sedang bersiap menyemburkan sesuatu dari mulutnya.


“Api!” Langkah Ne Zha semakin cepat membawa Qin sejauh mungkin.


BOOOOOOOOOOOOM!!!


Ledakan yang memekakan telinga segera bergaung di Jurang Kejahatan, ledakan itu disertai dengan kobaran api yang sangat besar menggelora membakar apapun yang disentuhnya.


Setitik rasa lega bisa dilihat dari mata Ne Zha, jika saja dia tidak membawa Qin keluar dari ledakan tersebut, sudah dipastikan Qin akan hancur berkeping-keping karena memiliki tubuh yang sangat rapuh.


Mata Ne Zha menyipit menjadi sangat dingin, aura yang dirasakan dari Pithon Batu Akik sungguh menakutkan. Itu lebih mengerikan dari aura Po Houzi.


“Lelucon apa yang kau buat? Pithon Batu Akik itu memiliki tingkat 9!” protes Ne Zha pada Qin.


Gadis itu terkejut dengan protesan Ne Zha, tidak mengerti apa yang salah hingga Ne Zha memprotesnya.


“Kenapa kau protes?” tanya Qin tak terima disalahkan.


“Kau menbawaku pada Binatang Iblis tingkat 9 bukan tingkat 8. Dia kemungkinan besar yang terkuat disini!” Ne Zha tidak tahan untuk memekik pelan karena frustasi.

__ADS_1


“Kenapa? Bukankah kau meminta mengantarkanmu ke Binatang Iblis paling kuat?” jawab Qin polos.


Ne Zha tersedak napasnya saat mendapatkan jawab Qin, memang, dia meminta untuk mengambil jalan tempat Binatang Iblis terkuat berada. Tapi dalam artian tingkat 8. Bukan tingkat 9!


“Aaargh tidak peduli! Kau diam disini jangan bergerak,” ujar Ne Zha kesal lalu menyerbu maju kedepan Pithon Batu Akik.


Api dari sisa ledakan telah mereda, Pithon Batu Akik menyipitkan matanya saat melihat setitik hitam yang melaju kearahnya semakin cepat.


“Manusiaasshhh... bodohshhhh!” Pithon Batu Akik segera menyerang Ne Zha dengan niatan melahapnya langsung.


BOOOOOOOOOOOOM!!!


Ne Zha dan Pithon Batu Akik berbenturan menyebabkan sebuah gelombang kejut yang sangat besar, sudah jelas Ne Zha kalah telak melawan Pithon Batu Akik. Ne Zha terpental mundur hingga beberapa meter.


“Dasarshhh bodohsshhh!” cetus Pithon Batu Akik.


Pithon Batu Akik yang memiliki mata tajam segera melihat bahwa saat Ne Zha terjatuh tidak ada ekspresi kesakitan pada pemuda itu, yang ada adalah sebuah senyum.


Senyum Ne Zha yang dilihat oleh Pithon Batu Akik bagaikan senyuman iblis, rasa heran segera memenuhi kepala Pithon Batu Akik.


Pithon Batu Akik segera merasakan sesuatu yang sangat bahaya dari tindakan Ne Zha.


“Teknik Pengikat Jiwa!” Ne Zha bergumam pelan seraya mengaktifkan seluruh formasi yang mengelilingnya.


Clang... Clang... Clang...


Segera saja dari atas langin berjatuhan rantai berwarna emas yang sangat besar mengikat Pithon Batu Akik.


Teknik Pengikat Jiwa yang dilakukan oleh Ne Zha adalah teknik yang sama dengan yang digunakan oleh Han Xiao pada Po Houzi, namun dalam hal kekuatan teknik yang dilakukan oleh Ne Zha memiliki kekuatan ratusan kali lipat lebih kuat dari yang dilakukan oleh Han Xiao.


Ne Zha menghabiskan seluruh Qi dari sepuluh Dantiannya untuk menopang kebutuhan Qi yang besar dari Teknik Pengikat Jiwa ini.


Pithon Batu Akik meraung keras berjuang melepaskan diri dari jeratan rantai emas yang mengikatnya sangat kencang.

__ADS_1


“Kaaauuusshh manusiaaasshh!!! Beraninyashhh membuatkushhh menjadishhh budakmushhh!!!” seru Pithon Batu Akik marah.


“Aku tidak memperbudakmu, hanya mengikat jiwamu agar tidak berbuat hal yang buruk padaku,” ucap Ne Zha ringan lalu dia melesat menuju Pithon Batu Akik.


Rantai emas besar yang mengikat Pithon Batu Akik hanpir tidak tahan untuk menahan kekuatan besar dari Pithon Batu Akik.


Di kejauhan Qin yang melihat hal tersebut tercengang hingga membuat rahangnya terjatuh ke tanah dan matanya melotot hingga sebesar telur angsa.


“Hal yang dilakukannya sungguh melawan takdir,” batin Qin terkejut, dia heran kenapa pemuda itu memiliki banyak teknik dan jurus yang melawan takdir.


“Guaaaaaaaaaaaarghhhhhh!!!” Pithon Batu Akik memekik kencang sebelum kehilangan kesadarannya saat rantai emas masuk kedalam tubuhnya.


Ne Zha yang kini tengah berdiri dihadapan kepala Pithon Batu Akik menghela napas lega, dia sungguh ketakutan tadi! Jika saja tidak berhasil maka nyawanya adalah taruhan, seluruh Qi dalam tubuhnya sudah hilang hanya menyisakan kekuatan fisiknya saja.


Dengan hanya kekuatan fisik tentu Ne Zha bukanlah tandingan Pithon Batu Akik yang kemungkinan nanti akan mengamuk.


Tangan Ne Zha menyentuh kulit Pithon Batu Akik, rasanya persis seperti dia sedang menyentuh batu, keras namun halus.


“Siapa yang memolesnya hingga sehalus ini?” batin Ne Zha seraya terkekeh.


Ukuran tubuh Pithon Batu Akik yang ratusan meter dengan tinggi dua puluh meter menjulang tinggi dihadapan Ne Zha secara perlahan mulai menyusut.


Tubuh Pithon Batu Akik menyusut hingga seukuran ular Pithon yang sering Ne Zha lihat disebuah pameran reptil, bisa dibilang ini adalah ukuran yang normal.


“Tuanshhh...” Pithon Batu Akik segera menunduk ketika sadarkan diri, hal yang pertama dia lakukan adalah menyembah Ne Zha walaupun terlihat dia tidak ingin melakukannya. Namun karena penyiksaan jiwa sebelumnya dia memilih untuk tunduk, sungguh bukan lelucon penyiksaan yang dialaminya.


“Tidak perlu memanggilku tuan, kita adalah rekan. Panggil saja aku Ne Zha, siapa namamu?” ujar Ne Zha.


Pithon Batu Akik sedikit tertegun saat mendengar perkataan Ne Zha.


“Jika aku ingin menjadikanmu budak, kau tidak akan memiliki kendali atas otakmu. Kau hanya akan jadi mesin pembunuh dan hewan peliharaan,” lanjut Ne Zha.


“Namakushh She Yan,” ucap Pithon Batu Akik seraya menunduk.

__ADS_1


“Baiklah She Yan, jangan terus menunduk. Ayo ikuti aku,” balas Ne Zha seraya beranjak pergi menuju lokasi Qin ditinggalkan.


Qin terkejut saat melihat Ne Zha tiba dengan She Yan, versi kecil dari Pithon Batu Akik sebelumnya.


__ADS_2