Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab296. Perpisahan bukanlah sebuah Akhir


__ADS_3

Ne Zha terbangun ketika cahaya matahari mulai merayap menyinari matanya, ini adalah hari kedua dirinya menghabiskan waktu bersama Su Lihwa hanya berduaan, juga hari inilah yang menjadi hari perpisahan kedua insan tersebut.


Han Xiao juga sudah sampai di Istana Kekaisaran Yang, Ne Zha mengetahui hal itu karena merasakan aura tipis dari Han Xiao.


Sama seperti sebelumya, Su Lihwa masih memeluk erat dirinya seolah tidak ingin lepas, dan memang itulah yang ingin dilakukan Su Lihwa, dia tidak ingin terlepas dari suaminya.


"Hwa'er." Ne Zha mengangkat dagu Su Lihwa agar melihat kearahnya.


"Jangan katakan apapun!" ketus Su Lihwa secara tiba-tiba, dia juga segera menyelundupkan kepalanya pada tubuh Ne Zha, tangan gadis itu memeluk lebih erat dari sebelumnya.


Tidak ada yang bisa Ne Zha lakukan selain menghela napasnya ringan, prilaku Su Lihwa ini juga membuat dirinya semakin kesulitan untuk berpisah dengan istrinya ini. Pada akhirnya Ne Zha memilih untuk mengelus ringan pucuk kepala Su Lihwa, dia juga memberikan sebuah pesan singkat pada Han Xiao bahwa dirinya meminta waktu lebih banyak.


Han Xiao di taman belakang tersenyum kecut, "Baiklah, aku akan menyiapkan segalanya. Kau tenangkan saja dia, bagaimanapun tidak diketahui berapa lama kita pergi, mengingat bahwa zona waktu disini bisa dimanipulasi sedemikian rupa, bukan tidak mungkin hal yang sudah diluar nalar semakin keluar dari luar nalar," ujar Han Xiao dengan rumit.


"Terserah apa katamu, aku sangat berterimakasih," balas Ne Zha.


"Sama-sama," sahut Han Xiao dengan santainya.


***


"Bagaimana Bang?" tanya Feng Jin.


Han Xiao mengendikan bahunya ringan untuk menanggapi, "Biarkan Abangmu yang satu itu menghabiskan waktunya dengan kakak iparmu, tidak diketahui berapa lama kita akan pergi, jadi lebih baik seperti itu." Han Xiao tidak lagi menghiraukan tentang Ne Zha.


Kini Han Xiao beserta para gadis tengah di taman Istana, disini dia menghabiskan waktu bersama Yang Shui, Feng Jin, Chang Yue dan lainnya. Mereka benar-benar melupakan hal apapun tentang dunia dan hanya bergurau canda bersama untuk melepaskan stress yang sebelumnya menimpa kepala mereka.


Han Xiao selalu melontarkan candaan yang selalu sukses membuat suasana taman menjadi sangat berbunga-bunga.


Seolah alam mendukung, bunga-bunga di taman itu mekar dan mengeluarkan harum yang sangat wangi menyerbak masuk kedalam indra penciuman Han Xiao dan lainnya.


"Aku punya satu tebak-tebakan!" Feng Jin mengangkat tangannya untuk mengajukan diri.


"Silahkan nona kecil," kekeh Han Xiao.

__ADS_1


Gadis kecil itu memasang wajah penuh misteri, Feng Jin memainkan tangannya, "Sebutkan sepuluh Binatang dalam dua detik!"


Yang Shui, Chang Yue, Xiao Jiang dan Xiao Wushuang segera terdiam, mereka berpikir keras untuk menyebutkan sepuluh binatang dalam dua detik. Butuh banyak waktu namun mereka tak kunjung mendapatkan jawaban untuk tebak-tebakan dari Feng Jin.


"Ah Jin'er, kau menjebak kami?!" gerutu Xiao Wushuang.


"Tidak, itu sangat mudah," balas Feng Jin.


Xiao Wushuang menggerutu sebelum kembali memikirkan jawaban yang tepat.


"Sepuluh Harimau!" seru Han Xiao dengan cepat.


Feng Jin segera menatap kesal pada Han Xiao, dia sungguh percaya diri bahwa tebak-tebakan miliknya akan sulit dijawab oleh para gadis, tapi berbeda dengan Han Xiao yang sering bermain tebak-tebakan dengannya.


"Hey bagaimana bisa seperti itu?!" Yang Shui, Xiao Wushuang dan Xiao Jiang memprotes jawaban dari Han Xiao.


Han Xiao tertawa melihat ekspresi kesal tiga gadis cantik tersebut, "Jin'er hanya mengatakan sebutkan sepuluh binatang dalam dua detik, dia tidak mengatakan sebutkan sepuluh jenis binatang dalam dua detik. Kalian saja yang terlalu berpikir." Han Xiao tertawa semakin puas ketika melihat ekspresi tercengang dari ketiga gadis tersebut.


"Setiap kata harus dipahami dan dimengerti, lain kata lain arti. Ingatlah haha," tutur Han Xiao seraya mengambil kue di meja.


***


Tanpa terasa gelap malam mulai menjemput sang surya untuk menyinari belahan daratan lain, Han Xiao dan para gadis kini sudah berkumpul di Aula utama Kekaisaran Yang, disana juga ada Ne Zha yang ditempeli terus oleh Su Lihwa.


"Ini adalah pesta untuk mengantarkan kalian, anak-anak hebatku." Kaisar Yang Qian dengan agung berkata seraya merangkul Han Xiao dan Ne Zha pada tangan kanan dan kirinya.


Aura pria itu menjadi lebih sangat mengagumkan dari sebelumnya, jelas bahwa kekuatannya sudah dinaikan berpuluh-puluh kali lipat dari sebelumnya. Namun, ada satu hal yang sangat enggan pada Kaisar Yang Qian, yaitu kepergian dua anaknya ini untuk berpertualang di Alam yang sangat luar biasa bahaya.


Tapi jika dua pemuda itu menetap disini, itu tidak akan baik untuk mereka, Kaisar Yang Qian bahkan yakin bahwa di Tanah Suci Beladiri tidak akan ada jenius semengerikan dua pemuda tersebut.


"Hahaha, Ayah. Kau berkata seolah kita tidak akan bertemu lagi, ingatlah Ayah, perpisahan bukanlah sebuah akhir. Aku dan Ne Zha pasti akan kembali ke sini setelah urusan kami selesai," ujar Han Xiao.


Hendak saja Kaisar Yang Qian membalas, tapi pemuda itu mengangkat cangkirnya keatas, "Untuk Persatuan Lima Benua!" seru Han Xiao.

__ADS_1


Tamu undangan yang datang tidak lain adalah tokoh-tokoh kuat dari lima Benua, terlihat sangat sepi karena Han Xiao sendiri yang meminta agar tidak banyak orang, hanya para pemimpin saja yang diperbolehkan datang. 


Han Xiao melakukan itu karena mengetahui bahwa Ne Zha tidak akan nyaman di keramaian, sehingga dia mengambil langkah ini.


"Untuk Lima Benua!" seru semua orang bersamaan.


Ne Zha hanya mengangguk pelan seraya menegak anggur yang ada di cangkirnya, Seperti biasanya, Ne Zha tidak mengeluarkan suara selain menanggapi Su Lihwa.


Kaisar Yang Qian, Han Xiao, dan Ne Zha duduk kembali pada kursi mereka.


"Kapan kalian akan berangkat?" Kaisar Yang Qian bertanya pada dua pemuda tersebut.


Ne Zha menatap Han Xiao, dari ekspresinya sudah jelas bahwa dia mengatakan bahwa Han Xiao yang mengetahui hal tersebut.


Han Xiao mengangkat bahunya, "Kapanpun kita siap, ada kemungkinan malam ini juga kita berangkat, AAAAAHHHH!" Han Xiao menjerit ketika merasakan sebuah sengatan yang sangat luarbiasa menyakitkan pada pinggangnya. 


Pandangan pemuda itu segera terarah pada gadis yang duduk tak jauh darinya, gadis itu menatap nyalang padanya seolah mengibarkan bendera perang. Dia tidak lain adalah Su Lihwa.


Sulit untuk Han Xiao merasakan sakit, tapi Su Lihwa menggunakan seluruh kekuatannya pada cubitanya terhadap Han Xiao, bahkan dia tidak segan menggunakan Ilmu Sihir Api Hitam miliknya.


"Oh ayolah, haruskah kau mencubitku sampai seperti ini?" gerutu Han Xiao.


Ne Zha menatap heran pada Su Lihwa, "Apa yang kau lakuakan?" tanya Ne Zha.


"Tidak ada, dia hanya mengada-ngada," sahut Su Lihwa dengan wajah polosnya.


Tangan Han Xiao terkepal karena gemas atas sahutan tanpa dosa Su Lihwa.


***


Update Mingguan : 14/14


Update Merdeka : 40/75

__ADS_1


__ADS_2