Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab363. Menyogok


__ADS_3

Wajah Han Xiao segera dibanjiri oleh kesenangan saat Xian Xuenai mengatakan hal tersebut, tidak banyak berpikir lagi pemuda itu memberikan Xian Xuenai dua telur Vermilion.


"Aku akan membuatkan camilan dan lainnya padamu segera, sekarang aku ingin beristirahat dulu. Bolehkan?" Han Xiao tersenyum riang.


Xian Xuenai menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku menginginkan semuanya, sekarang!"


Han Xiao sudahmenebak gadis ini akan merepotkannya, dia mengetahui bahwa menyogok Xian Xuenai mudah, hanya dengan makanan. Tapi harus tersaji pada saat itu juga.


Mengenai Telur Vermilion, Han Xiao tidak mengambil pusing, dia yakin bahkan Ne Zha akan memilih untuk memberikan telur itu pada Xian Xuenai.


Dirinya dan Ne Zha memiliki telur Naga dan telut Phoenix, namun belum menunjukan tanda-tanda akan menetas. Berbeda dengan telur Vermilion yang kini sudah memiliki tanda-tanda akan menetas. Berada di tangan Xian Xuenai, itu adalah pilihan terbaik bagi telur tersebut.


"Baiklah, aku akan memasaknya sekarang juga." Han Xiao mendengkus kesal, tapi tak urung dia pergi menuju dapur untuk membuatkan semua permintaan dari Xian Xuenai.


Membutuhkan cukup banyak waktu untuk Han Xiao memasak semua keinginan Xian Xuenai, pemuda itu menghidangkan semua hasil dapurnya di ruang makan.


Di ruang makan, Xian Xuenai sendiri tengah duduk menunggu dengan sangat antusias. Gadis itu bersorak senang saat melihat Han Xiao membawa satu demi satu makanan, camilan dan lainnya hingga memenuhi meja makan.


"Selamat makan!" Xian Xuenai berkata dengan penuh semangat lalu menyantap terlebih dahulu seblak yang ada di hadapannya.


Han Xiao menonton dari samping, tangannya bergerak untuk mengambil Tendon Naga.


Plak!


Betapa terkejutnya Han Xiao saat tangannya hendak memasukan Tendon Naga ke mulutnya, tangan pemuda itu dipukul oleh Xian Xuenai. Tatapan Han Xiao heran pada Xian Xuenai.


"Ini semua punyaku! Jangan mengambilnya satupun!" ketus Xian Xuenai dengan mulut yang penuh makanan.

__ADS_1


"Makan dengan benar." Han Xiao menjitak kepala Xian Xuenai karena gadis itu makan dengan cara serampangan.


Xian Xuenai tidak perduli, dia hanya tersenyum lebar sebelum terus melanjutkan aktifitas makannya.


"Adik iparku yang cantik, bolehkah abangmu ini ikut denganmu ke Medan perang? Aku akan memasakan setiap hari untukmu saat istirahat perang." Disela makan Xian Xuenai, Han Xiao mendapatkan ide cemerlang agar bisa mengikuti gadis itu ke medan perang.


"Kau menyogokku?" Xian Xuenai menatap Han Xiao.


Han Xiao mengangguk, "Bisa dibilang begitu, aku menyogokmu."


Xian Xuenai dengan tegas menjawab menolak untuk membawa Han Xiao, apapun yang Han Xiao berikan. Xian Xuenai akan menahannya. Gadis itu tetap pada perkataan pertamanya, menyuruh Han Xiao berkultivasi. Karena ketika Menara Tianxia terbuka, bukan tidak mungkin murid Kaisar lain berada di ranah Dewa Raja.


Han Xiao menghela napas ringan, awalnya dia mengira akan mudah menyogok Xian Xuenai, tapi gadis itu sungguh memiliki keras kepala yang luar biasa. Bukan hanya menolak secara langsung, bahkan Xian Xuenai memaparkan kekuatan musuh agar dirinya tidak berleha-leha.


Setengah jam berlalu, semua makanan di meja telah habis semuanya, adapun Xian Xuenai. Gadis itu tersenyum penuh kegembiraan, Han Xiao mengerutkan dahinya.


"Kemana perginya semua makanan tadi? Perutmu bahkan tidak membuncit sedikitpun," ujarnya.


Keduanya mengobrol ringan tentang apa yang terjadi di perbatasan, Xian Xuenai bahkan bercerita tentang pembantaian yang dia lakukan bersama Pemimpin Klan Pembunuh Bayangan. Hingga memusnahkan Bintang yang menjadi Kamp musuh karena dia kesal harus ke perbatasan sementara ingin bermain dengan Feng Jin.


Han Xiao menggaruk kepalanya ringan, sungguh mengerikan jika gadis ini marah, dia tahu bahwa sebuah Bintang, yang menjadi Kamp saja merupakan Bintang tingkat tiga. Itu nyaris dua kali besarnya dari Planet Bumi yang dulu dia tempati. Tidak terbayang gadis dihadapannya ini dengan mudah menghancurkannya hanya karena kesal.


"Ah ya, siapa nama Pemimpin Klan Pembunuh Bayangan? Dia mengatakan hanya kau dan Xian Chin yang boleh mengenalkan namanya," tanya Han Xiao saat teringat sosok perempuan yang dinginnya melewati Ne Zha.


"Yingzi Mao," jawab Xian Xuenai.


Han Xiao terkejut, "Itu adalah nama yang kuberikan padanya! Kau berniat mempermainkan Abang iparmu ini?" protes Han Xiao.

__ADS_1


Xian Xuenai mengerutkan dahinya, terlihat jelas bahwa dia juga terkejut, "Itu memang nama yang dia miliki, jauh saat pertama kali dia lahir."


Tiba-tiba Han Xiao teringat, saat dirinya memberikan nama Yingzi Mao, terlihat ada sedikit reaksi aneh pada sosok pemimpin Klan Pembunuh Bayangan.


"Sudahlah, jangan membicarakannya lagi, sekarang kau wahai abang iparku tersayang. Sudah waktunya untuk berkultivasi, ingat jangan kemana-mana. Aku akan kembali tepat pada saat Ne Zha keluar dari kultivasi tertutupnya." Xian Xuenai bangkit dari duduknya dan menghampiri Han Xiao.


Gadis itu memeluk Han Xiao, "Sampai jumpa!" serunya dengan sedikit tidak senang.


Han Xiao terkekeh, dia mengelus lembut pucuk kepala Xian Xuenai. "Waktu beberapa bulan ini akan sangat pendek bagimu bukan yang bahkan pernah melewati jutaan tahun?" kekehnya.


Xian Xuenai mengangguk ringan, pandangan gadis itu terarah pada Han Xiao, gadis itu bergerak untuk memberikan kecupan ringan pada pipi Han Xiao.


"Kita akan segera berjumpa lagi Bang, pada saat itu. Kita akan membuat onar bersama! Hahahaha!" ujar Xian Xuenai.


"Ya, kita akan membuat onar," sahut Han Xiao.


Xian Xuenai pergi setelah mengatakan hal tersebut dan juga memperingati Han Xiao jangan kemana-mana, karena akan ada Yingzi Mao pada bayang-bayang.


Han Xiao hanya bisa pasrah, dia kini datang kembali ke ruang rahasia Xian Chin, saat sampai sana. Han Xiao merasakan kekuatan yang sangat besar.


Sosok Xian Chin yang sedang berkultivasi juga terlihat disana, sangat anggun dan menawan. Senyum Han Xiao mengembang besar saat melihat Xian Chin.


"Baiklah, demi dirimu dan juga Alam Semestamu, aku akan menurut dulu." Han Xiao bergumam lalu masuk ke ruang kultivasi miliknya yang tidak berjauhan dengan ruang Xian Chin setelah menyimpan Ruang Alam Nirwana Api milik Ne Zha di ruang kultivasi Ne Zha.


Han Xiao duduk dengan posisi berkultivasi, dia menelan sebuah pil yang diambil dari meja di sampingnya. Setelah itu Han Xiao memejamkan matanya lalu mulai membuat mudra tangan Zen untuk berkultivasi.


Delapan aliran hangat berkeliaran pada tubuhnya, mereka semua adalah Delapan Kekuatan Kejahatan. Biarpun kini Han Xiao masih belum menguasai semua Delapan Kekuatan Kejahatan secara menyeluruh, tapi dia yakin. Saat menembus tingkat berikutnya, dia akan menguasai beberapa kekuatan lagi. Lagipula, sekarang juga sudah cukup. Tapi dia masih menginginkan lebih, di dunia ini. Yang kuat dihormati dan yang lemah ditindas.

__ADS_1


***


Update Mingguan : 04/14


__ADS_2