
"Apakah kau sudah mempersiapkan semuanya?" seorang pria berwajah pucat bertanya pada wanita dhadapannya.
Wanita itu terlihat sangat esentrik karena warna kulitnya yang merah, tapi tidak sedikitpun mengurangi kecantikannya, pesona yang dimiliki oleh wanita tersebut sungguh menyihir siapapun yang melihatnya ingin bertekuk lutut terhadap kecantikannya. Belum lagi sepasang sayap merah darah yang menghiasi punggungnya dengan sangat indah.
"Hihihi... Semua sudah siap, kita hanya tinggal menjalankan rencana dan... Hap!!!" Wanita itu meragakan tangannya seperti menangkap sesuatu lalu tertawa jahat.
Pria berkulit pucat itu menatap sedikit sinis pada wanita tersebut, melihat bahwa pria tersebut sinis padanya, wanita itu justru tersenyum lebar.
"Mogou Wang, aku tahu kau tidak menyukai Klan Sayapku, tapi ingat, demi rencana ini kita harus bekerja sama. Banyak bibit unggul disana, jika dibiarkan maka akan berakibat buruk pada kita suatu saat nanti," ujar Wanita tersebut.
"Aku tidak ingin ada kesalahan seperti sebelumnya," ketus pria berkulit pucat tersebut.
Wanita yang menyebut dirinya Klan Sayap tertawa, "Aku memastikan tidak akan ada kesalahan dalam rencanaku."
"Bagus jika begitu, berapa hari lagi kita sampai?" ucap sang pria.
Tawa wanita itu tak surut, seolah kini dia tengah sangat berbahagia, "Kita akan sampai dalam satu bulan lagi."
Alis pria berkulit pucat itu mengerut, "Bisakah kita tiba lebih cepat?" tukas pria tersebut.
"Bisa saja, tapi untuk apa terburu-buru?" Wanita bersayap itu tersenyum ketika membalas.
"Aku ingin kita sampai dalam dua minggu, kau sanggup?" tanya pria itu menghiraukan senyum aneh dari wanita dihadapannya itu.
"Baiklah, kita akan mempercepat kedatangan kita," kata Wanita tersebut seraya melenggang pergi.
Melihat wanita itu pergi tanpa sedikitpun rasa hormat membuat pria berkulit pucat itu sangat kesal, selama ini tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti itu. Hanya wanita itulah yang secara gamblang tidak menghormatinya sama sekali.
"Awas saja kau," batin pria itu seraya meredam amarah dalam hatinya.
__ADS_1
***
"Aaaaaah aku bisa gila jika terus terjebak di lorong waktu ini! Jiejie, apakah kau tidak ingin membantu adikmu ini?" seorang gadis yang menggunakan jubah merah longgar mengerang frutasi, memang tidak lama dia terjebak dalam lorong waktu. Tapi dia percaya ketika keluar maka kemungkinan waktu sudah berjalan berbulan-bulan.
"Ais, aku lupa kau selalu bermasalah dengan lorong waktu," sebuah suara indah yang menyenangkan dan halus terdengar pada seluruh lorong waktu.
Gadis cantik berjubah merah kebesaran itu segera senang ketika mendengar suara tersebut, "Jiejie! Cepat bantu aku," seru gadis itu bersemangat.
"Anak nakal, kau memiliki masalah terhadap lorong waktu tapi masih ingin berjalan-jalan," suara itu bergema lagi sebelum tiba-tiba sebuah cahaya menyinari tubuh gadis berjubah merah tersebut.
"Terimakasih Jiejie!" seru gadis tersebut penuh semangat ketika melihat sebuah pemandangan dihadapannya.
Gadis itu segera terambang diatas langit, dia menatap penuh senyum pada sebuah benua besar dihadapannya.
"Akan ada masalah besar disana, kau harus melindungi mereka saat kritis saja, jika tidak maka jangan keluar," suara indah tadi berdengung dikepala gadis berjubah merah tersebut.
"Baik Jiejie!" sahut gadis tersebut lalu melesat dengan kencang ke suatu arah.
***
"Bagaimana yang lainnya?" Mu Li menatap seorang pemuda berambut merah dihadapannya, pemuda itu adalah Yin Chang dari Sekte Gunung Giok.
"Dalam lima hari ini sudah sangat baik, ada lagi empat yang bergabung, mereka sedang menuju kemari. Dengan itu kita memiliki enam belas jenius Istana Takdir, aku sedang mencari keberadaan Huo Yan dan tiga lainnya, tersisa mereka saja yang tidak memiliki hubungan dengan tim Penguasa Generasi," sahut Yin Chang.
"Bing Kong dan Xi Wang tidak akan bergabung dengan kita karena mereka beraliansi dengan tim Penguasa Generasi," ucap salah satu jenius Istana Surga yang berasal dari Sekte Surga Harta Karun, dia memiliki pembawaan yang sangat tinggi dan megah. Pemuda ini bernama Cao Huangjin.
Bing Kong yang disebut oleh Cao Huangjin adalah jenius Istana Surga lainnya dari Istana Falcon Utara, sedangkan Xi Wang adalah murid dari Matriark Chun Nu yang juga memiliki Istana Surga.
"Sudah cukup bagi kita berdua puluh untuk melawan mereka," ujar seorang pemuda yang sedari tadi diam dan menonton, kini seluruh perhatian terarah padanya.
__ADS_1
Pemuda itu berasal dari Sekte Saber Petir, bukan Sekte besar, bahkan itu adalah Sekte kecil. Tapi kekuatan pemuda itu tidak bisa diremehkan sama sekali. Itu karena dialah yang menduduki nomor satu diantara Seratus Kebanggaan Surga. Dia bernama Linghun Jundao.
Penampilannya adalah yang paling sederhana, bahkan bisa dibilang sangat santai karena dia hanya menggunakan sebuah jubah ringan berwarna coklat.
Perhatian seluruh jenius Istana Surga terfokus pada Jundao, bisa dibilang Jundao adalah pemimpin dari aliansi ini karena dialah yang terkuat. Tapi Jundao tidak ingin mengambil posisi merepotkan itu dan memberikannya pada Yin Chang. Namun tetap semua masukan dari Linghun Jundao akan dipatuhi.
"Ada masukan saudara Linghun?" tanya Mu Li.
Linghun Jundao menggelengkan kepalanya ringan, menandakan bahwa sudah tiak ada masukan darinya. Kini para jenius ini hanya tinggal menunggu empat orang lainnya sebelum meyerang tim Penguasa Generasi.
"Bagaimana posisi tim Penguasa Generasi?" tanya Cao Huangjin.
"Mereka tidak bergerak kemanapun dan berdiam di kota barat," sahut seorang pemuda berwajah aneh. Dia berasal dari tim Cao Huangjin yang berspesialis dalam pengintaian dan pencarian.
"Tidak bergerak?" Yin Chang mengerutkan dahinya.
Pemuda itu mengangguk, walaupu dia bukan pemilik Istana Surga, tapi seluruh wakil ketua tim akan mengikuti pertemuan, dan dia adalah wakil ketua dari tim yang dipimpin oleh Cao Huangjin.
Linghuan Jundao berkata bahwa itu adalah kabar yang bagus, lagipula, dengan poin tim Penguasa Generasi. Mereka memang tidak akan masalah bahkan jika sampai akhir berleha-leha karena akan sulit bagi tim lain untuk mendapatkan poin bahkan hanya mencapai 60.000 poin.
Para Jenius disana segera murung, merekalah yang memberikanpoin tersebut pada tim Penguasa Generasi, dibawah kekesalan Han Xiao ataupun dibunuh oleh sahabatnya Ne Zha.
"Tenanglah, kita akan segera membalaskan dendam kita!" sebuah suara yang terdengar berapi-api muncul dari arah pintu masuk.
Alis Yin Chang mengerut ketika melihat sosok gadis masuk kedalam ruang pertemuan, "Apakah kau juga korban dari tim Penguasa Generasi?"
"Tentu saja!" balas gadis tersebut, dia tak lain adalah Huo Yan, sungguh sial baginya. Ketika tim nya dibangkitkan kembali setelah mati ditangan tim Yang Shui. Mereka bertemu dengan tim Penguasa Generasi. Huo Yan yang sebelumnya ingin melampiaskan amarah justru langsung terbunuh dalam lima tarikan napas.
****
__ADS_1
update mingguan : 7/14